Jatuh Bangun Bisnis Fashion, Wearing Klamby Bangkit di Marketplace Lokal

Reporter : Wuri Anggarini
Senin, 31 Mei 2021 06:01
Jatuh Bangun Bisnis Fashion, Wearing Klamby Bangkit di Marketplace Lokal
Salah satu brand fashion lokal yang merasakan dampak pandemi adalah Wearing Klamby.

Biarpun sempat terpuruk karena pandemi, nyatanya industri fashion masih tetap bisa bertahan menghadapi tantangan yang ada di masa serba tidak pasti. Malah muncul berbagai tren fashion baru selama pandemi, seperti tren leisurewear yang menekankan pada kenyamanan tapi tetap terlihat stylish saat di rumah saja.

Selain itu, tren baju muslim pun tetap memiliki minatnya tersendiri. Terlebih setelah momen menyambut Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri di mana permintaan pakaian Muslim tetap tinggi biarpun lagi-lagi harus menikmati lebaran di rumah saja.

Tumbuhnya Minat Terhadap Produk Dalam Negeri

Satu hal yang menarik diamati belakangan ini adalah tumbuhnya minat masyarakat terhadap produk dalam negeri. Hal ini sesuai dengan pernyataan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan. Menurutnya, selama bulan puasa dan lebaran tahun ini terjadi kenaikan pembelian produk dalam negeri, salah satunya fashion. Berdasarkan data Tokopedia, transaksi fashion muslim selama bulan Ramadan kemarin juga meningkat hampir 4x lipat.

Geliat industri fashion selama pandemi ini juga nggak terlepas dari kehadiran marketplace yang membantu pemasaran produk. Di tengah imbauan untuk tetap di rumah saja, masyarakat bisa tetap berbelanja bermodal gadget di genggaman.

Sempat Terpuruk, Wearing Klamby Kembali Bangkit dengan Penjualan Online

Shoes by Wearing Klamby© ¬©Instagram/wearingklamby

©Instagram/wearingklamby

Salah satu brand fashion lokal yang merasakan dampak pandemi adalah Wearing Klamby. Menurut sang pemilik, Ridho Jufri, bisnisnya yang awalnya hanya dipasarkan lewat website brand miliknya dan Instagram ini sempat terkena dampak pandemi pada Oktober 2020 hingga Januari 2021 lalu.

Setelah menganalisis bisnisnya di masa pandemi, Ridho pun mulai membuat strategi memperluas jangkauan pasar dengan membuka toko digital di marketplace. Ia memilih Tokopedia karena dirasa mudah untuk dipakai dan sangat membantu juga sebagai salah satu platform digital terbesar di tanah air dan buatan anak bangsa. Selama bergabung, Wearing Klamby berhasil meraup untung besar lewat penjualan pakaiannya dan menjadi salah satu official store yang ada di Tokopedia.

Ridho mengaku bisnisnya mulai bangkit. Bahkan, ia mendapat kesempatan untuk iklan bersama Gojek dan terlibat dalam kampanye ulang tahun Tokopedia. Hal ini jelas membantu meningkatkan awareness masyarakat terhadap brand yang dibangunnya tersebut.

Strategi lain pun dilakukan Ridho demi meningkatkan penjualan. Ia mulai memasang iklan di Tokopedia dan memanfaatkan media sosial untuk promosi. Trik ini membuat produk yang lama tidak laku terjual jadi kembali laris manis selama momen Ramadan dan Lebaran 2021.

Hebatnya lagi, set busana muslim edisi spesial untuk keluarga berhasil habis terjual kurang dari 1 jam di Tokopedia. Hal ini bisa dibilang jadi kesuksesan tersendiri jika dibandingkan hari-hari biasa. Tak heran bila penjualan di Tokopedia menyumbang setidaknya 75% dari keseluruhan omzet Wearing Klamby.

Bukan Kesuksesan Instan

Desain yang Cantik© ¬©Instagram/wearingklamby

©Instagram/wearingklamby

Jika mengintip cerita Wearing Klamby lebih jauh lagi, kesuksesan yang diraih Ridho dan istri jelas bukan sesuatu yang didapatkan secara instan. Setelah berjalan hampir 2 tahun, Wearing Klamby sempat terjatuh karena kesalahan dalam manajemen dan pengelolaan keuangan. Ridho pun rela menjual mobil demi bisa mendapatkan modal tambahan untuk membangkitkan bisnisnya.

Keterpurukannya ini menjadi pelajaran tersendiri bagi Ridho. Ia pun terus percaya jika industri fashion lokal tidak akan kalah bersaing dengan produk luar negeri tetapi akan semakin diminati selama berhasil mempertahankan kualitas yang baik.

Beri Komentar