Dream - Dia seorang bankir Arab bertangan dingin. Lewat kegigihannya, dia berhasil mencetak banyak uang sehingga dirinya dinobatkan sebagai bankir terkaya dunia.
Majalah Forbes Timur Tengah edisi terbaru mencatat dia sebagai orang Arab terkaya kedua di dunia tahun 2015. Namun, kekayaan tidak menjauhkannya dengan sesama manusia.
Dia pun membuat lembaga nirlaba yang mengurus donasi darinya. Tercatat, beberapa rumah sakit menerima bantuannya. Termasuk juga rumah sakit muslim. Padahal, dia seorang Arab keturunan Yahudi.
Dia adalah Joseph Safra. Dia seorang bankir Brasil yang berasal dari Suriah. Lelaki 76 tahun ini dinobatkan sebagai bankir terkaya di dunia karena menjalankan kerajaan bisnis Safra Group.
Dia menjabat sebagai ketua semua perusahaan Safra, di antaranya Safra National Bank of New York dan Banco Safra berkantor pusat di São Paulo, Brasil. Pasalnya, kini dia merupakan pewaris tunggal bisnis keluarga Safra, setelah kedua kakaknya meninggal.
***
Joseph Safra lahir di Aleppo, Suriah dan besar di Beirut, Libanon. Hidup bersama keluarga bankir, Safra ikut berkelana melakukan bisnis perbankan dari Beirut hingga Kerajaan Ottoman.
Keluarga Safra pindah ke Brasil pada tahun 1952. Kakaknya, Edmond Safra, dan ayahnya Jacob Safra sudah memulai bisnis pembiayaan aset di Sao Paulo. Sayangnya, Edmond memilih berpisah dengan adiknya, yakni Joseph dan Moise untuk mengembangkan bisnisnya di New York dengan mendirikan Republic National Bank of New York.
Joseph akhirnya mendirikan Banco Safra pada tahun 1955 yang kini menjadi bank swasta terbesar ke-6 di Brasil. Bank ini memberikan pelayanan untuk wilayah Eropa, Afrika Utara dan Selatan.
Berdasarkan data terbaru Forbes, April 2015, total kekayaan Joseph mencapai lebih US$ 16,8 miliar atau Rp 218 trilyun dan duduk di peringkat 56 orang terkaya di dunia. Saat ini hampir US$ 200 miliar uang, serta lebih dari US$ 15 miliar saham yang dikelola bank milik Safra dan keluarga.
Kini, Safra dan keluarga mulai merambah bisnis properti. Meski, sektor ini tetap bukan yang utama dalam bisnis Safra Group.
" Filosofi real estate mereka sangat mirip dengan filosofi perbankan mereka. Ini benar-benar tentang pelestarian kekayaan. Mereka melihat untuk membeli untuk menahan, bukan untuk dijual," ujar salah satu sumber yang dikutip dari New York Times.
***
Dengan kekayaan yang berlimpah, Joseph Safra muncul sebagai sosok paling dermawan di Brasil. Tercatat, Safra sebagai donatur terbesar di rumah sakit Albert Einstein, dan rumah sakit yang didirikan komunitas masyarakat Arab muslim di Sao Paulo.
Jiwa kedermawanan Joseph Safra rupanya juga dimiliki anggota keluarga Safra lainnya. Pasca meninggalnya Edmond Safra pada tahun 1999 Republic National Bank of New York dijual ke HSBC dengan nilai US$ 10 miliar. Hasil penjualannya didonasikan untuk Edmond Safra Foundation.
Joseph Safra memang terkenal baik dan rendah hati. Lelaki dengan empat anak ini bahkan tidak segan memasak untuk keluarga, dan menghubungi kawan-kawannya untuk sekadar menanyakan kabar.
" Dia berpikir tentang bisnisnya selama 24 jam sehari, tetapi ia masih menyempatkan menelepon saya setiap hari ketika saya berada di rumah sakit karena operasi jantung," kenang Jack Terpins, seorang sahabatnya.
Namun, sebagai pemimpin perusahaan, Safra terkenal keras. Bahkan, mantan pegawainya mengakui ketegasannya. “ Dia tidak mau menunggu dan semuanya harus selesai,” ungkapnya.
Seorang yang dekat dengan keluarga Safra ini menyatakan bahwa kekayaan mereka bisa untuk bertahan hidup hingga 100 tahun lebih. Meskipun menonjol, Safra mampu menjaga urusan pribadinya. Tidak seperti jutawan lainnya yang sering masuk kolom gosip di media Brasil. Namanya tidak dikaitkan dengan politisi dan selebritas.
" Bagi masyarakat Brasil, dia (Joseph Safra) merupakan sebuah misteri," ujar Profesor Ekonomi di University of Sao Paulo yang meneliti mengenai budaya bisnis Amerika Latin.
Namun, privasi ini rupanya tidak menghambat kemampuan Safra dan keluarga memperluas bisnisnya. Beberapa orang yang sempat berbisnis dengan keluarga ini beranggapan bahwa keluarga Safra hanya memiliki fokus meningkatkan laba perusahaan dan memberikan keuntungan kepada para klien.
***
Kini, Joseph merupakan penerus bisnis keluarganya bersama ketiga anak laki-lakinya, Jacob J Safra, Alberto J Safra, David J Safra, semenjak kakaknya, Moise Safra, meninggal tahun lalu. Sementara, anak perempuannya, Esther Safra Dayan, memilih dunia pendidikan dan menikah dengan Charles Dayan , Direktur Sekolah Beit Yaakov.
Safra mampu menjalani bisnisnya dalam berbagai kondisi. Dia mampu bertahan saat perekonomian Brasil hancur lebur karena ketidakstabilan politik dan hiperinflasi.
" Dia sepertinya memperkerjakan orang yang paling cerdas. Meski para pekerjanya belum memiliki pengalaman di bidang perbankan, dia melatih mereka sendiri dan menuntut kesetiaan yang tinggi," ujar Feldmann.
Ke depan, Safra berencana membeli bank-bank kecil dan berinvestasi di luar sektor keuangan. Dia mendirikan perusahaan ponsel yang kini menjadi perusahaan kedua terbesar di Brasil. Sayangnya, perusahaan ini tumbuh cepat dengan utang yang besar. Akhirnya, dia menjual perusahaan tersebut.
Tidak mau tertahan karena kegagalan sebelumnya, Safra kembali membeli perusahaan kecil, yaitu sebuah bank swasta. Bank ini untuk memperluas manajemen aset di luar basis klien di Amerika Latin, yaitu untuk investor Eropa dan Asia.
Safra berpikir setiap perusahaan yang akan bankrut memiliki kesempatan untuk meningkatkan keuntungannya dan kembali melangkah dari awal.
Banyak yang bisa dipelajari dari orang sukses dan memiliki ‘hati emas’ seperti Safra. Pasalnya, dia meyakini, apa yang kita ambil dari bumi ini, maka sepatutnya kembali lagi ke bumi.
Menjadi orang Arab kedua terkaya di dunia, karenanya, tak mengasingkan dia dari berbelas kasih pada setiap manusia... (eh)