6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bekas Kantor Pemerintahan Presiden Depok (Foto: Gladys/ Dream)
Dream - Tak banyak yang tahu jika Kota Depok dulunya merupakan salah satu kota paling maju di Indonesia. Saking majunya, kota ini diberikan kesempatan untuk memiliki presiden sendiri yang mengatur jalannya pemerintahan.
Semua itu bermula dari bapak penemu Depok, Cornelis Chalestein yang meninggalkan warisan berupa tanah seluas 1.244 hektare untuk para budaknya. Cornelis yang seorang Belanda dan mantan anggota VOC itu takut jika para budaknya yang selama ini telah membantunya membangun Depok berebut kekuasaan.
Dalam surat wasiatnya, Cornelis meminta Kota Depok dipimpin oleh seorang presiden. Presiden itu sendiri bertugas untuk menjaga pemerintahan Kota Depok yang dihuni oleh mayoritas petani dan pedagang Tiongkok. Dipilih melalui Pemilu setiap 3 tahun sekali, sejarah Kota Depok mencatat Johannes Matijs Jonathans sebagai presiden terakhir pada 1952.
Beberapa waktu lalu, Jakarta Food Tour mengajak reporter Dream.co.id untuk menyambangi peninggalan-peninggalan Presiden Matijs. Kantor pemerintahannya kini digunakan sebagai RS Harapan Depok. Rumah yang dulu ditempati oleh Presiden Matijs, kini masih dihuni oleh keturunannya, Yahya Matijs.

" Arsitektur rumah ini masih asli, tidak pernah di renovasi, masih asli bentuk rumah tahun 1933-1935," tutur Yahya, di Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.
Yahya sendiri sudah mengajukan kepada Dinas Kebudayaan Kota Depok untuk menjadikan rumahnya sebagai cagar budaya bersejarah. Namun, hal itu tak kunjung dikabulkan.
" Waktu itu plafon rumah sempat rubuh, sehingga kita perbaiki. Karena pernah di rombak, jadi tidak bisa masuk cagar budaya. Katanya harus yang benar-benar asli. Padahal tidak kita utak-atik yang lainnya, cuma plafon saja," jelasnya.
Meski sedih peninggalan kejayaan sang kakek tak bisa dimasukkan sebagai benda peninggalan sejarah, Yahya tetap berusaha melestarikannya. Berbagai macam peninggalan sang kakek tetap dirawatnya dan bisa dilihat secara gratis bagi siapa saja yang mau datang dan mempelajari sejarah Kota Depok.
Penasaran dengan rumah presiden Depok? Sahabat Dream bisa berkunjung ke Jalan Pemuda Depok. Rumah presiden Depok terletak tepat di seberang RS Harapan Depok.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
