Media Sosial dan Revolusi Fesyen

Reporter : Editor Dream.co.id
Minggu, 27 April 2014 08:21
Media Sosial dan Revolusi Fesyen
Menonton pameran-pameran busana super mahal kini bukan lagi monopoli kaum berduit. Kita bisa menontonnya secara live via media sosial. Si cantik Vicktoria Beckham berbagai kepada fansnya via Skype.

Media Sosial mengubah banyak hal. Mengubah cara orang berkomunikasi. Mengubah cara orang berdagang. Itu sekedar menyebut contoh. Kita bisa memiliki gerai sendiri tanpa harus menyewa tempat. Menjaja barang apa saja. Mengirim kepada si pembeli tanpa harus bertatap muka, bahkan dengan orang yang wajahnya tak pernah sua. Belakangan ini, kemudahan yang disumbangkan media sosial itu mengerek laju sejumlah sektor bisnis. 

Lihatlah yang terjadi di dunia fesyen. Banyak toko fesyen memajang dagangan di internet. Jika berminat, Anda tak perlu bersusah payah datang ke pusat perbelanjaan. Tinggal dipilih-pilih. Pesan, bayar, lalu barang itu " berangkat" ke rumah Anda. Sederhana. Cepat dan tidak membuang banyak waktu. 

Berkat media sosial pula, kini dunia fesyen bukan lagi menjadi monopoli kalangan berduit. Dulu memang hanya kalangan bersaku tebal yang bisa mengakses pameran-pameran fesyen kelas dunia yang digelar di Milan, Italia, maupun New York, Amerika Serikat.

Kini, masyarakat hingga lapis paling bawah bisa mengikuti perkembangan fesyen. Menikmati produk mewah dan bahkan menciptkan karya fesyen sendiri. “ Ini luar biasa, sungguh luar biasa. Sosial media telah membuat perbedaan dalam dunia bisnis  itu,” tutur kepala bagian kreatif rumah mode BCBG Max Azria Group, Lubov Azria, seperti dilansir laman Al Arabiya Februari silam.

Halaman depan majalah mode elite dunia sekelas Vogue boleh saja tetap memajang karya perancang terkemuka sebagai penghargaan. Namun Twitter, Facebook, Instagram, dan sosial media lainnya telah meruntuhkan monopoli itu.

“ Dulu editor yang akan menentukan, apakah mereka menyukai koleksi atau tidak, mereka memiliki sudut pandang yang pasti, dan itulah yang dilihat semua orang,” kata Azria.

“ Sekarang dengan media sosial, kita punya pilihan. Kita punya cara untuk mengekspresikan apa yang kita rasakan, mengapa kita merasakan sesuatu. Ini mengagumkan,” tambahnya.

Akibat perubahan itu pula, tipe klien BCBG bergeser. Semula hanya kaum sosialita yang gemar menari dan dinner di tempat-tempat mewah. Kini banyak kaum muda dari berbagai latar belakang. " Ini membuat kalangan muda memahami soal mode atau brand. Media sosial membawa pemahaman,” ujar desainer kelahiran Ukraina ini.

Rumah-rumah mode pun memiliki website untuk promosi. Banyak di antaranya menawarkan transaksi secara online. Pameran mode pun sekarang sudah bisa diakses secara langsung secara online dan bisa dilihat jutaan manusia hingga ke sudut jagat.

Salah satu raksasa pemilik rumah mode Amerika Serikat Tommy Hilfiger memberikan akses pribadi kepada jutaan fans dan pelanggannya. Sebanyak 20 penguna Instagram lokal telah diundang untuk menyaksikan pameran buasana dan diberi akses untuk merekam apa yang terjadi di belakang panggung.

Sementara, Victoria Beckham yang menunjukkan debut memukau di dunia mode pada 2008 telah menggandeng Skype untuk menggarap proyek pameran pekan busana. (eko)

Beri Komentar