Mimisan Termasuk Gejala Covid-19? Cari Tahu Faktanya

Reporter : Mutia Nugraheni
Selasa, 10 Agustus 2021 08:12
Mimisan Termasuk Gejala Covid-19? Cari Tahu Faktanya
Bisa jadi efek samping dari gejala.

Dream – Berbagai keluhan sehari-hari seperti sakit kepala dikaitkan dengan gejala Covid-19. Belakangan ramai dibicarakan kalau mimisan atau pendarahan di rongga hidung, juga dianggap sebagai gejalanya.

Tenang saja Sahabat Dream, sejauh ini belum ada ahli yang menemukan kasus mimisan memiliki korelasi dengan gejala Covid-19. Setidaknya, mimisan dan gejala Covid-19 tidak secara langsung berhubungan.

Dilansir dari Health, munculnya varian Delta dan lonjakan kasus Covid-19 di berbagai negara memicu kecemasan dengan gejala baru yang mungkin muncul. Ramai dibahas di Twitter soal apakah mimisan merupakan tanda Covid-19, dan ternyata tidak.

" Saya belum pernah melihat mimisan menjadi bagian dari konstelasi gejala yang terjadi dengan Covid," kata Amesh A. Adalja, seorang ahli Penyakit Menular.

Mimisan atau epistaksis terjadi ketika terjadi pendarahan dari jaringan yang melapisi bagian dalam hidung. Hidung memiliki banyak pembuluh darah yang dekat dengan permukaan di lapisan hidung sehingga mudah berdarah.

Mimisan sering terjadi, bahkan 60% orang akan mengalami setidaknya satu kali mimisan dalam hidup mereka. Mimisan dapat disebabkan oleh banyak kemungkinan penyebab, termasuk:

- Infeksi saluran pernapasan dan sinusitis yang menyebabkan bersin berulang, batuk, dan hidung tersumbat

- Meniup hidung dengan paksa

- Memasukkan sebuah benda ke dalam hidung

- Cedera pada hidung

- Alergi

- Iritasi bahan kimia

- Ketinggian

- Terlalu sering menggunakan semprotan hidung dan obat-obatan untuk mengobati hidung gatal, berair, atau tersumbat

 

 

1 dari 7 halaman

Gejala utama Covid-19

Mungkin Sahabat Dream perlu diingatkan lagi kalau Covid-19 punya gejala utama. Berikut gejal utama Covid-19 berdasarkan Centers for Disease Control and Prevention (CDC):

- Demam atau kedinginan
- Batuk
- Sesak napas atau kesulitan bernapas
- Kelelahan
- Nyeri otot atau tubuh
- Sakit kepala
- Kehilangan rasa atau bau
- Sakit tenggorokan
- Hidung tersumbat atau pilek
- Mual atau muntah
- Diare

Hingga saat ini mimisan bukan termasuk gejala Covid-19, namun pada pasien mimisan bisa jadi efek samping dari beberapa gejala Covid-19. " Jelas jika seseorang memiliki gejala dan mengeluarkan udara dari hidung dengan paksa, itu bisa berdarah," kata dr. Adalja.

Tak perlu panik jika tiba-tiba mimisan. Bila tak disertai gejala khas Covid-19 seperti batuk dan demam, bisa jadi mimisan yang muncul bukan karena virus corona.

Laporan: Angela Irena Mihardja

2 dari 7 halaman

Waduh, Pasien Covid-19 yang Sembuh Alami Penurunan Kecerdasan

Dream - Sembuh dari Covid-19 banyak pasien yang mengalami keluhan berkelanjutan atau biasa disebut long covid. Biasanya berupa batuk kecil, sesak, mudah lelah atau pusing, tiga bulan atau lebih setelah sembuh meskipun hasil PCR sudah negatif.

Rupanya, efek dari Covid-19 juga pada kecerdasan. Mereka yang sembuh dari Covid-19 mengalami penurunan poin IQ. Hal ini diketahui dari Great British Intelligence Test yang menguji IQ 81.337 orang antara Januari dan Desember 2020 lalu.

Waduh, Pasien Covid-19 yang Sembuh Alami Penurunan Kecerdasan

Dari jumlah tersebut ada 13.000 orang yang telah terinfeksi virus Covid-19. Setelah para ilmuwan memperhitungkan hal-hal seperti usia, jenis kelamin, bahasa, dan tingkat pendidikan, mereka menemukan orang yang pulih dari Covid mengalami penurunan terbesar.

Tugas yang membutuhkan pemecahan masalah, perencanaan, dan penalaran lebih sulit bagi pasien yang sembut daripada mereka yang tidak terkena virus. Dalam kasus terburuk, ketika orang menggunakan ventilator untuk mengalahkan penyakit, para peneliti mencatat penurunan kecerdasan tujuh poin.

 

3 dari 7 halaman

Data dikumpulkan bersama dan diterbitkan dalam sebuah penelitian berjudul " Cognitive Deficits In People Who Have Recovered From COVID-19" . Penelitian diterbitkan dalam jurnal medis Lancet dan melibatkan peneliti dari Imperial College London, Kings College dan Universitas Cambridge, Southampton dan Chicago.

Ilustrasi Pengguna Ventilator

" Hasil ini sesuai dengan laporan Covid panjang, di mana 'brain fog', kesulitan berkonsentrasi, dan kesulitan menemukan kata-kata yang benar adalah hal biasa. Penurunannya memiliki efek yang besar bagi orang-orang yang dirawat di rumah sakit," ungkap peneliti.

 

4 dari 7 halaman

Para ilmuwan mengungkap bahwa salah satu alasan penurunan kecerdasan adalah efek lanjutan dari virus pada kemampuan kita untuk berpikir jernih. Misalnya, jauh lebih sulit untuk berkonsentrasi jika pernah mengalami demam tinggi atau masalah pernapasan karena mengidap Covid-19 cukup lama.

“ Kami mengidentifikasi efek signifikan Covid-19 di otak dengan hilangnya materi abu-abu di gyrus parahippocampal kiri, korteks orbitofrontal lateral kiri, dan insula kiri," ungkap peneliti

Materi abu-abu adalah bagian otak yang mengandung semua sinapsis saraf dan sebagian besar badan selnya. Termasuk sel mikroglial yang merupakan versi otak dari sel darah putih yang membantunya melawan penyakit. Oleh karena itu, setiap kerusakan atau hilangnya materi abu-abu dapat mengganggu kemampuan kognitif seseorang untuk berfungsi.

Sumber: Metro.co.uk

5 dari 7 halaman

Vaksin Covid-19 Hirup Pertama Dunia Sukses Uji Klinis Tahap 1

Dream - Perusahaan farmasi China, CanSino, tengah mengembangkan vaksin Covid-19 berbasis vektor adenovirus inhalasi tipe-5 aerosol (Ad5-nCoV). Ini akan menjadi vaksin Covid-19 pertama di dunia yang penggunaannya dengan dihirup.

Bekerja sama dengan tim peneliti Institut Pengobatan Militer di bawah Akademi Ilmu Militer yang dipimpin Chen Wei, CanSino telah selesai melaksanakan uji klinis tahap I. Hasilnya, dua dosis vaksin aerosol Ad5-nCoV terbukti aman dan tidak menimbulkan efek samping.

Dari uji coba tersebut, didapat temuan vaksinasi booster hirup yang diberikan 28 hari setelah vaksinasi dosis kedua dengan injeksi intramuskular mampu menginduksi IgG yang kuat dan menetralkan respons antibodi. Hasil uji coba tersebut telah diterbitkan jurnal Penyakit Menular Lancet.

Hasil uji coba tahap I adalah data klinis pertama yang dirilis di dunia tentang vaksin Ad5-nCoV inhalasi aerosol. CanSino menyatakan uji klinis tahap II sedang berlangsung.

Uji coba tahap I yang dilakukan di Rumah Sakit Zhongnan di Wuhan, Provinsi Hubei, China Tengah, secara acak membagi peserta menjadi lima kelompok. Para peserta divaksinasi melalui injeksi intramuskular, inhalasi aerosol, atau keduanya.

 

6 dari 7 halaman

Efek Samping Malah Dialami Penerima Vaksin Suntikan

Lebih banyak efek samping dilaporkan pada peserta yang menerima vaksinasi intramuskular, termasuk peserta dalam kelompok campuran. Jumlahnya mencapai 49 dari 78 peserta atau sekitar 63 persen.

Sementara mereka yang menerima vaksin aerosol sebanyak 13 dari 52 peserta atau sekitar 25 persen setelah vaksinasi dosis pertama tidak mengalami efek samping. Temuan menunjukkan vaksin inhalasi aerosol relatif dapat ditoleransi dan aman.

Selain itu, satu dosis Ad5-nCoV aerosol, sama dengan seperlima dosis intramuskular, dapat menginduksi respons seluler yang kuat. Sedangkan dua dosis Ad5-nCoV aerosol dapat menghasilkan titer antibodi penetralisir SARS-CoV-2 yang serupa sebagai satu dosis vaksinasi intramuskular.

CanSino telah mendapatkan persetujuan regulator obat nasional pada 23 Maret untuk memulai uji klinis vaksin rekombinan Covid-19 (vektor adenovirus tipe-5) dalam bentuk inhalasi.

 

7 dari 7 halaman

Mudah Diakses

Vaksin ini diproduksi dengan basis yang tidak berbeda dalam hal spesies virus, bank sel. Demikian pula dengan teknologi produksi atau formula persiapan dari vaksin Covid-19 Ad5-nCoV dosis tunggal yang sudah diproduksi CanSino, hanya memiliki atomisasi tambahan perangkat inhalasi.

Vaksin yang dihirup dapat merangsang respon imun pada selaput lendir saluran pernapasan seseorang. Ini membuatnya tidak menimbulkan rasa sakit.

Dengan begitu, vaksin lebih mudah diakses, terutama untuk anak-anak dan orang-orang yang rentan. Vaksin juga tidak menimbulkan reaksi pembengkakan.

Terlebih lagi, bentuk inhalasi hanya membutuhkan seperlima dari dosis yang disuntikkan. Ini dapat menghemat lebih banyak dosis dan mengurangi tekanan produksi vaksin.

Vaksin dapat diatomisasi menjadi partikel-partikel kecil dalam perangkat alat, kemudian dihirup melalui saluran pernapasan dan paru-paru untuk merangsang kekebalan mukosa, dikutip dari Global Times.

Beri Komentar