6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, Menggunakan Tiga Indikatori Untuk Melihat Penurunan Mobilitas Masyarakat Selama PPKM Darurat. (Foto: Liputan6.com)
Dream – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, menegaskan pemerintah memiliki indikator untuk memantau pergerakan masyarakat selama pemberlakuan PPKM Darurat. Ada tiga indikator menggunakan layanan teknologi yang digunakan oleh pemerintah untuk melihat perkembangan mobilitas masyarakat.
“ Kami lakukan secara scinetific dan dengarkan dari semuanya,” kata Luhut dalam konferensi pers virtual tentang update PPKM Darurat di YouTube Kementerian Kemaritiman dan Investasi, Kamis 15 Juli 2021.
Dalam bahan presentasi yang disampaikan Luhut diketahui pemerintah menggunakan indikator untuk mengawasi mobilitas masyarakat menggunakan Facebook Mobility. Indikator ini dipakai untuk mengukur aktivitas dan pergerakan penggunanya melalui GPS dan jaringan telekomunikasi.
Data ini menggambarkan pergerakan orang antar wilayah maupun di dalam wilayah administrasi tertentu.
Yang kedua adalah Google Traffic yang mengukur aktivitas dan pergerakan lalu lintas masyarakat. Terakhir adalah indikator intensitas cahaya pada malam hari dari NASA dan NOAA. Intensitas cahaya ini mengukur aktivitas masyarakat pada malam hari.
Luhut mengatakan tiga indikator ini dipilih memenuhi dua elemen penting dalam pengawasan pembatasan aktivitas dan pergerakan masyarakat. Dua elemen itu adlaah timeliness dan locality.
“ Seluruh indikator ini mencerminkan pergerakan masyarakat di level kota dengan lag yang relatif pendek,” kata dia.
Luhut menambahkan, indeks mobilitas gabungan pada periode PPKM Darurat kemudian dibandingkan dengan periode baseline, yaitu 24 Mei-6 Juni 2021. Analisis tambahan dilakukan dengan menggunakan data Google Mobility.
Contoh penurunan mobilitas, kata dia, adalah Yogyakarta. Melalui Google Mobility, mobilitas masyarakat meningkat di area perumahan, sedangkan di pertokoan, tempat wisata, dan tempat kerja turun.
“ Di Google Mobility, D. I. Y yang banyak hitam, sekarang sudah merah, terus kuning,” kata dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
