Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Negara Ini Memberikan Subsidi Senilai Ratusan Juta Rupiah Untuk Mobil Listrik. (Foto: Shutterstock)
Dream – Rusia terus mendorong penggunaan mobil listrik. Negara itu bahkan siap memberikan subsidi untuk mobil listrik mulai tahun depan.
Dikutip dari Electrive, Kamis 12 Agustus 2021, nantinya, konsumen akan menerima subsidi senilai 25 persen dari harga mobil listrik yang dibeli. Maksimal subsidi yang diberikan senilai 625 ribu rubel (Rp122,49 juta).
Pemerintah Rusia membidik bisa menyalurkan 1 miliar paket subsidi mobil listrik. Rusia ingin menggenjot penjualan kendaraan listrik.
Negara itu dinilai ketinggalan memperkenalkan kendaraan listrik. Ada sebanyak 45 juta mobil di Rusia, tapi baru 11 ribu yang masuk kendaraan listrik.
Kepala Departemen Kementerian Ekonomi Rusia, Maxim Kolesnikov, mengatakan, saat ini tidak ada kendaraan listrik yang dibangun di Rusia. Ada startup di Rusia yaitu Zetta yang berencana akan membangun kendaraan listrik.
Sedianya, proyek tersebut digarap tahun ini, tapi tertunda beberapa kali. Bahkan, belum jelas apakah nantinya mobil kecil tiga pintu itu akan mendapatkan subsidi atau tidak.
Bicara tentang subsidi, katakan satu mobil listrik kecil harganya 550 ribu rubel (Rp107,79 juta). Jika mendapatkan susbidi 25 persen atau 137.500 rubel (Rp26,95 juta), harga mobil yang dibeli konsumen menjadi 412.500 rubel (Rp80,84 juta).
Rusia menargetkan 10 persen dari mobil yang diproduksi negara ini adalah kendaraan listrik, sekitar 220 ribu unit pada 2030.
Negara ini “ ngebut” untuk mencapai target itu. Misalnya, Moskow yang berencana untuk membeli bus listrik ke depannya. Kendaraan listrik itu akan digunakan sebagai moda transportasi masa depan di sana.
Selain itu, perusahaan nuklir Rusia, Rosatom, berencana untuk membangun pabrik baterai.
Dream – Ada anggapan emisi kendaraan listrik tak jauh lebih bersih daripada kendaraan yang punya pembakaran internal (internal combustion engine/ICE). Studi terbaru ini mematahkan anggapan tersebut.
Dikutip dari The Verge, Kamis 5 Agustus 2021, Dewan Internasional untuk Transportasi Bersih (ICCT) melakukan studi untuk meneliti siklus kendaraan sampai tidak menghasilkan emisi. Hasilnya, emisi sepanjang masa kendaraan listrik masih lebih baik daripada yang menggunakan pembakaran internal.
![]()
“ Dikatakan bahwa kendaraan listrik tidak jauh lebih baik jika memperhitungkan produksi listrik dan baterai. Kami ingin melihat apakah argument ini benar,” kata peneliti di kelompok riset ICCT, Georg Bieker.
Riset ini mempelajari emisi dari kendaraan listrik menengah pada tahun 2021 dan tetap beroperasi di jalan selama 18 tahun ke depan. Lokasinya ada di India, Tiongkok, Amerika Serikat, dan Eropa. Negara-negara ini memegang 70 persen dari penjualan mobil baru global. Studi itu juga mempelajari teknologi mesin yang efisien dan metode produksi yang lebih baik.
Laporan ini memperkirakan emisi sepanjang masa kendaraan listirk di Eropa 66-69 persen lebih rendah dan Amerika Serikat 60-68 persen daripada kendaraan yang boros bahan bakar. Di Tiongkok yang masih menggunakan batubara sebagai pembangkit listrik, emisi mobil istriknya. Sementara itu, di India, diperkirakan emisi kendaraan listrik 19-34 persen lebih rendah daripada kendaraan konvensional.
Bieker menambahkan mendaur ulang baterai kendaraan listrik bisa menurunkan intensitas karbon. Dia mengharapkan temuannya bisa membantu pembuat kebijakan dalam mengambil keputusan yang lebih tepat tentang masa depan transportasi.
Bieker juga mendesak agar kendaraan dengan pembakaran internal dihentikan beroperasi. Tujuannya agar gas rumah kaca bisa dikurangi.
“ Ini adalah temuan global. Oleh karena itu, kita perlu menghentikan mobil bermesin pembakaran,” kata dia.
(Laporan: Angela Irena Mihardja)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya