Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Rachel Ajeng Melawan Stereotipe Perempuan Asia. (Foto: Dream.co.id/Cynthia Amanda Male)
Dream – Banyak tren makeup yang bermuncukan dalam satu waktu. Gaya makeup pun tidak bisa disamakan antara satu orang dengan yang lainnya. Setiap orang punya gaya yang khas.
Sama halnya dengan pelukis. Setiap lukisan mereka memiliki karakteristik unik yang tidak dimiliki oleh orang lain.
Tapi, tidak semua orang bisa tampil percaya diri dengan gayanya masing-masing. Apalagi dengan adanya media sosial yang mempermudah masuknya komentar negatif.
Hal ini dirasakan oleh Ilustrator muda, Rachel Ajeng. Dia sempat mengalami kesulitan untuk merasa pede sebagai wanita Asia.
Stereotipe wanita adalah berkulit putih, bertubuh mungil dan berambut lurus. Sementara dia memiliki rambut keriting sebahu dan berkulit sawo matang.
" Aku belajar banget waktu kuliah, kalau banyak orang seperti aku. Jadi aku nggak merasa aneh atau sendirian,” kata Ajeng dalam “ Make Over Beauty Beyond Rules” di Jakarta.
" Ketika sudah bisa menerima diri sendiri, aku bisa berkarya lebih lepas," kata wanita yang akrab disapa Ajeng ini di Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Rabu 5 Desember 2018.
Lewat kepercayaan diri itu, Ajeng mulai belajar menemukan karakternya, baik berpenampilan maupun melukis ilustrasi.
" Kalau makeup aku selalu pilih warna hangat seperti coklat dan oranye. Itu juga warna yang sering dipakai untuk melukis,” kata dia.
Ajeng mengatakan makeup warna hangat itu sesuai dengan karakternya yang menyukai kehangatan dan bertemu dengan orang-orang baru.
Karakter atau keunikannya itu baru ditemukan setelah 4-5 tahun berkarya sebagai ilustrator. Kala itu, ciri khas Ajeng mulai bisa dirasakan oleh penikmat karyanya.
" Yang akan melihat dan menyadari ciri khas kita adalah orang lain. Mereka sadar kalau aku suka campur warna hangat dan membuat lukisan terkesan warm dan happy," kata dia.
Wanita mungil ini sangat menikmati proses menuju kesuksesannya sebagai ilustrator dan terus percaya diri dengan ciri khasnya.
Mencoba hal baru merupakan kunci utamanya untuk sukses dan menemukan jati diri. Ajeng juga tak terlalu memaksakan diri untuk menonjolkan karakter.
“ Yang penting mencoba. Begitu juga dengan makeup. Kalau kamu pede, nggak usah peduli dengan orang lain. Kamu punya keunikan tersendiri dalam berekspresi," kata dia. (ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya