Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI
Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli
Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest
3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram
Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian
Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini
Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Ilustrasi
Dream - Buah hati muntah berkali-kali disertai buang air besar yang bentuknya berupa cairan. Kondisi ini memang terdengar seperti diare biasa dan banyak yang menganggapnya disebabkan oleh bakteri.
Diare memang bisa dipicu karena kontaminasi bakteri pada sistem pencernaan. Tapi diare juga bisa disebabkan oleh paparan virus pada usus yang bernama rotavirus. Virus ini banyak ditemukan di mainan anak-anak, area sekolah dan di rumah.
" Penularan rotavirus ini sangat mudah, melalui oral. Ketika sistem imunitas anak sedang tidak baik, rotavirus pun masuk ke dalam tubuh dan menginfeksi usus. Gejala awalnya adalah anak selalu memuntahkan makanan dan minuman yang dikonsumsinya," ujar Albert Fiehl, seorang dokter anak.
Gejalanya selain muntah adalah buang air besar terus menerus. Lalu suhu tubuh naik, tubuh lemas, selalu ingin tidur, pusing saat berdiri dan batuk serta pilek. Penularannya sendiri biasanya melalui rute oral.
Misalnya ketika ada anak yang terpapar rotavirus di tangannya kemudian memegang mainan, lalu ada anak lain yang memegang mainan dan memasukkannya ke mulut.
" Balita memang yang paling sering mengalami rotavirus karena mereka suka memasukan apapun ke mulutnya. Apalagi mereka juga belum bisa cuci tangan sendiri," kata Fiehl.
Jika Anda curiga si kecil terpapar rotavirus, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memberinya banyak cairan. Bisa berupa cairan steril, ASI, jus atau air putih. Pastikan ia tak mengalami dehidrasi. Biasanya gejala muntah dan diare akan terjadi selama 3 hingga 5 hari.
Periksakan ke dokter jika gejala tak kunjung mereda setelah 5 hari atau ketika anak mengalami dehidrasi. Untuk pengobatan sendiri, dokter biasanya tak memberi obat karena bisa sembuh dengan sendirinya. Hal yang penting dilakukan adalah menjaga agar anak tak kekurangan cairan.
Sumber: Momjunction
Advertisement

Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis

Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi

Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya

Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?


Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest