Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012
Dua Jalan Berbeda Bursa Saham di 2 Tahun Pemerintahan Prabowo VS Jokowi
Di Balik 8 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo
Kepuasan Publik Setelah Dua Tahun Prabowo-Gibran
Jalan Ekonomi Hijau Indofood
Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya
JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
© Pexels.com/Yan Krukov
DREAM.CO.ID - Pemandangan anak kecil memasukkan jari ke hidung, mengambil upil, lalu memakannya mungkin membuat orang tua spontan menegur atau merasa jijik. Namun, kebiasaan ini ternyata cukup umum terjadi pada anak-anak. Perilaku tersebut tidak selalu menunjukkan masalah kesehatan atau perilaku yang menyimpang. Ada penjelasan biologis dan kebiasaan yang dapat membantu memahami mengapa sebagian anak melakukannya.
Dilansir dari Sciencing, salah satu penjelasan yang dibahas berkaitan dengan rasa upil yang asin. Anak yang belum sepenuhnya memahami norma sosial juga mungkin belum merasa perlu menyembunyikan kebiasaan tersebut. Pada sebagian anak, mengupil dan memakan upil bahkan bisa berkembang menjadi kebiasaan berulang.
Untuk memahami perilaku ini, penting mengetahui terlebih dahulu apa sebenarnya upil dan bagaimana lendir hidung bekerja dalam tubuh manusia.
Upil pada dasarnya merupakan lendir hidung yang mengering dan bercampur dengan berbagai partikel yang terperangkap di dalamnya. Partikel tersebut dapat berupa debu, serbuk sari, kotoran, serta mikroorganisme dari lingkungan yang masuk ketika seseorang bernapas.
Lendir hidung bukan sekadar cairan yang mengganggu pernapasan. Sebaliknya, lendir merupakan bagian penting dari sistem pertahanan tubuh. Lapisan ini membantu menangkap partikel asing agar tidak terus masuk ke saluran pernapasan dan mencapai paru-paru.
Ketika lendir mengering, terbentuklah material yang lebih padat dan lengket. Material inilah yang dikenal sebagai upil. Karena mengandung natrium klorida atau garam, upil secara alami memiliki rasa asin. Menurut penjelasan dalam artikel Sciencing, rasa tersebut dapat menjadi salah satu alasan sebagian anak tertarik memakannya setelah mengupil.
Meski terdengar menjijikkan bagi orang dewasa, anak-anak mungkin belum memiliki penilaian yang sama terhadap perilaku tersebut. Mereka juga sedang mempelajari kebiasaan tubuh, rasa ingin tahu, dan batasan perilaku yang dianggap pantas di lingkungan sosial.
Nemours Foundation menyebutkan bahwa tubuh manusia menghasilkan sekitar satu liter lendir hidung setiap hari. Produksi lendir ini merupakan proses normal yang membantu menjaga saluran pernapasan. Namun, angka tersebut tidak berarti seluruh lendir akan mengering menjadi upil, karena sebagian tetap berada di saluran hidung atau bergerak menuju tenggorokan.
Lendir hidung berfungsi menangkap kuman dan partikel asing. Karena itu, upil yang terbentuk dari lendir tersebut mungkin juga mengandung mikroorganisme. Meski demikian, kemungkinan jatuh sakit hanya karena memakan upil relatif kecil.
Salah satu alasannya adalah sebagian lendir hidung secara alami bergerak ke bagian belakang tenggorokan dan tertelan sepanjang hari. Proses ini dikenal sebagai postnasal drip. Dalam keadaan normal, lendir yang tertelan akan masuk ke saluran pencernaan dan umumnya tidak menimbulkan masalah.
Namun, bukan berarti kebiasaan makan upil perlu dibiarkan. Risiko yang lebih nyata justru dapat muncul dari tindakan mengupil itu sendiri, terutama jika dilakukan berulang kali atau terlalu keras.
Jari yang dimasukkan ke dalam hidung dapat melukai lapisan halus di rongga hidung. Akibatnya, anak bisa mengalami mimisan, luka, atau infeksi. Mengupil dengan tangan yang tidak bersih juga berpotensi membawa kotoran dan mikroorganisme ke area hidung yang sensitif.
Dengan kata lain, persoalannya bukan semata-mata apakah upil aman ditelan, melainkan bagaimana kebiasaan mengambilnya dapat melukai jaringan hidung.
Orang tua dapat mulai dengan mengajarkan cara membersihkan hidung yang lebih aman. Ketika anak merasa hidungnya penuh lendir, ajak ia mengembuskan hidung secara perlahan menggunakan tisu bersih. Setelah itu, biasakan anak membuang tisu ke tempat sampah dan mencuci tangan.
Pendekatan ini sebaiknya dilakukan dengan tenang, tanpa mempermalukan anak di depan orang lain. Anak yang masih kecil mungkin belum memahami mengapa kebiasaan tersebut dianggap tidak sopan. Penjelasan sederhana mengenai kebersihan dan risiko luka pada hidung biasanya lebih membantu daripada sekadar melarang atau memarahi.
Orang tua juga perlu memperhatikan apakah anak mengupil sesekali atau melakukannya secara berlebihan. kondisi ini dikenal sebagai rhinotillexomania, istilah untuk perilaku mengupil secara kompulsif yang dapat menimbulkan cedera. Kondisi ini dapat memerlukan penilaian dan penanganan profesional, terutama jika anak terus mengupil meskipun sudah mengalami luka atau mimisan.
Tidak setiap anak yang mengupil memiliki gangguan tersebut. Penilaian lebih lanjut diperlukan apabila perilakunya sulit dikendalikan, berlangsung terus-menerus, atau sampai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Pada akhirnya, kebiasaan makan upil pada anak memiliki penjelasan yang berkaitan dengan rasa, rasa ingin tahu, dan proses pembentukan kebiasaan. Orang tua tidak perlu langsung menganggapnya sebagai tanda penyakit. Hal yang lebih penting adalah mengajarkan cara membersihkan hidung dengan benar, menjaga kebersihan tangan, dan mencegah cedera. Dengan pendekatan yang tepat, anak dapat belajar meninggalkan kebiasaan tersebut tanpa harus merasa malu terhadap proses alami tubuhnya sendiri.
Advertisement

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun


Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Dua Jalan Berbeda Bursa Saham di 2 Tahun Pemerintahan Prabowo VS Jokowi
