7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
© Pexels.com/Gok Cegok
DREAM.CO.ID - Kesepian bukan sekadar perasaan sedih ketika tidak memiliki teman bicara. Kondisi ini ternyata berkaitan dengan berkurangnya tahun-tahun kehidupan yang dapat dijalani tanpa gangguan kesehatan, terutama depresi dan kecemasan. Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa pria yang mengalami kesepian sekaligus isolasi sosial diperkirakan kehilangan sekitar 5,8 tahun hidup tanpa gangguan mental, sedangkan pada perempuan angkanya mencapai 3,7 tahun.
Temuan yang dipublikasikan pada 10 Oktober 2026 ini berasal dari peneliti Tulane University, Amerika Serikat, dan diterbitkan dalam jurnal Nature Communications. Penelitian tersebut berupaya mengukur dampak kesepian dan isolasi sosial terhadap harapan hidup bebas penyakit, bukan sekadar menghitung berapa lama seseorang hidup.
Menurut peneliti utama Lu Qi, profesor di Celia Scott Weatherhead School of Public and Tropical Medicine, kesepian dan isolasi sosial berkaitan dengan penurunan harapan hidup bebas penyakit, baik secara fisik maupun mental.
Peneliti menganalisis data 277.489 orang berusia 40–69 tahun. Pada awal penelitian, para peserta tidak memiliki tujuh kondisi kesehatan utama yang menjadi perhatian, yakni diabetes, penyakit jantung, penyakit paru-paru, demensia, kanker, depresi, dan kecemasan.
Dengan menggunakan usia 50 tahun sebagai titik acuan, peneliti memperkirakan hubungan antara kesepian, isolasi sosial, dan jumlah tahun kehidupan yang dapat dijalani tanpa mengalami penyakit-penyakit tersebut.
Hasilnya menunjukkan bahwa dampak terhadap kesehatan mental lebih besar dibandingkan dampak terhadap kesehatan fisik. Perempuan yang mengalami kesepian sekaligus isolasi sosial memiliki sekitar 3,7 tahun lebih sedikit untuk hidup tanpa gangguan mental. Pada pria, selisihnya mencapai sekitar 5,8 tahun.
Sementara itu, dampak terhadap kesehatan fisik juga terlihat. Perempuan yang mengalami kedua kondisi tersebut diperkirakan kehilangan 2,4 tahun hidup tanpa penyakit fisik, sedangkan pria kehilangan sekitar 1,7 tahun.
Peneliti menilai perbedaan antara pria dan perempuan ini perlu mendapat perhatian lebih lanjut. Menurut Qi, pria dalam penelitian tersebut tampak lebih rentan terhadap dampak kesepian, meskipun alasan di balik perbedaan ini masih memerlukan kajian lebih mendalam.
Dalam percakapan sehari-hari, kesepian dan isolasi sosial sering dianggap sebagai kondisi yang sama. Namun, keduanya memiliki pengertian berbeda dalam penelitian kesehatan.
Isolasi sosial merujuk pada keadaan objektif ketika seseorang memiliki sedikit hubungan atau interaksi sosial. Sebaliknya, kesepian merupakan pengalaman subjektif ketika seseorang merasa hubungan yang dimilikinya tidak memenuhi kebutuhan emosionalnya.
Artinya, seseorang bisa mengalami kesepian meskipun memiliki banyak teman, aktif bekerja, atau rutin bertemu orang lain. Sebaliknya, orang yang jarang berinteraksi secara langsung belum tentu merasa kesepian apabila tetap memiliki hubungan yang bermakna.
Perbedaan ini penting karena jumlah interaksi sosial tidak selalu mencerminkan kualitas hubungan seseorang. Kehadiran orang lain belum tentu menghilangkan perasaan terasing jika seseorang merasa tidak dipahami atau tidak memiliki tempat untuk berbagi persoalan.
Penelitian tersebut juga menelaah apakah kebiasaan hidup sehat dapat mengurangi dampak isolasi sosial dan kesepian. Hasilnya menunjukkan bahwa pola makan yang lebih baik, olahraga teratur, tidur cukup, dan tidak merokok dapat mengurangi kehilangan tahun hidup bebas penyakit yang berkaitan dengan isolasi sosial.
Namun, pola berbeda ditemukan pada kesepian. Gaya hidup sehat tidak secara signifikan mengurangi risiko tambahan yang berkaitan dengan perasaan kesepian. Temuan ini mengisyaratkan bahwa kedua kondisi tersebut mungkin membutuhkan pendekatan penanganan yang berbeda.
Meski demikian, penelitian ini bersifat observasional sehingga belum membuktikan bahwa kesepian secara langsung menyebabkan gangguan kesehatan tersebut. Peneliti berencana mengkaji kelompok masyarakat lain dan melakukan uji klinis untuk memahami hubungan sebab-akibatnya.
Temuan ini memperlihatkan bahwa menjaga kesehatan tidak cukup hanya dengan memperhatikan pola makan, aktivitas fisik, dan tidur. Kualitas hubungan sosial juga layak mendapat perhatian. Membangun hubungan yang bermakna, menjaga komunikasi dengan orang terdekat, serta mencari bantuan profesional ketika kesepian berlangsung lama dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesejahteraan mental.
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?