AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan
Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?
10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah
Konsep Sustainability/ Foto: Pexels
DREAM.CO.ID - Manusia, lingkungan, dan alam jadi kesatuan yang tidak bisa dipisahkan karena semuanya saling bergantung secara jangka panjang. Manusia membutuhaan alam dan lingkungan yang baik agar kualitas hidupnya terjaga. Begitu juga sebaliknya, karena alam harus selalu dijaga oleh manusia untuk keberlanjutan (sustainability) kehidupan.
Dalam situasi seperti saat ini, di mana level polusi udara yang sangat tinggi, pembakaran hutan, limbah sampah dan plastik yang memenuhi permukaan bumi, belum lagi mikroplastik yang mencemari tanah air dan udara, tentunya jadi masalah yang sangat kompleks dan mengancam aspek keberlanjutan atau sustainability. Prinsip sustainability sudah sejak lama diterapkan di banyak lini industri, yang saat ini semakin jadi perhatian dan bahkan jadi pertimbangan penting dalam membuat kebijakan.
Apa itu Sustainability?
Sustainability atau keberlanjutan, dikutip dari UCLA, merupakan integrasi antara kesehatan, lingkungan, kesetaraan sosial, dan vitalitas ekonomi untuk menciptakan komunitas yang berkembang, sehat, beragam, dan tangguh bagi generasi saat ini maupun generasi mendatang. Praktik keberlanjutan mengakui bagaimana isu-isu tersebut saling terhubung, serta menuntut pendekatan sistem dan pengakuan terhadap kompleksitas yang ada.
Definisi sustainability yang juga banyak digunakan yaitu dari PBB; pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri" .
Sebelum mengetahui pilar prinsip sustainability, penting untuk mengetahui sejarah perkembangannya yang diinisiasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1983. Dikutip dari Investopedia, PBB saat itu membentuk World Commission on Environment and Development atau Komisi Dunia untuk Lingkungan dan Pembangunan.

Komisi tersebut dibentuk untuk mengkaji hubungan antara kesehatan ekologis, pembangunan ekonomi, dan kesetaraan sosial. Komisi yang dipimpin oleh mantan Perdana Menteri Norwegia, Gro Harlem Brundtland, ini menerbitkan laporan pada 1987 yang kemudian menjadi standar dalam mendefinisikan pembangunan berkelanjutan/ sustainability development.
Prinsip sustainability/ keberlanjutan seringkali dibagi ke dalam tiga pilar, yaitu sosial, lingkungan, dan ekonomi yang secara informal juga dikenal sebagai profit (ekonomi), planet (lingkungan/bumi), dan people (sosial/manusia). Tiga pilar yang sering disebut sebagai triple bottom line ini menjadi kerangka kerja yang saling terhubung.

1. Pilar Sosial Manusia
Memajukan hak asasi manusia, kesetaraan, praktik ketenagakerjaan yang adil, dan kesejahteraan masyarakat, sehingga setiap orang memiliki akses terhadap kebutuhan dasar seperti layanan kesehatan dan pendidikan.
2. Pilar Lingkungan
Melindungi ekosistem, melestarikan sumber daya alam, mengurangi limbah, serta membatasi emisi gas rumah kaca agar alam dapat melakukan pemulihan sendiri.
3. Pilar Ekonomi
Membangun sistem keuangan dan bisnis yang menghasilkan pertumbuhan serta stabilitas jangka panjang tanpa menimbulkan kerusakan sosial atau lingkungan. Pilar ini dengan kata lain, perusahaan harus mendorong serta memajukan upaya perlindungan lingkungan dengan membatasi risiko yang ditimbulkan oleh kegiatan produksi mereka. Oleh karena itu, daur ulang produk dan penggunaan energi terbarukan menjadi aspek mendasar dalam pengembangan pilar ekonomi ini.
Banyak sekali contoh penerapan sustainability yang cukup berhasil dan dilakukan di berbagai level. Mulai dari level rumah tangga hingga sampai perumusan dan pembuatan kebijakan. Berikut beberapa contohnya.

Rumah Tangga
Banyak rumah tangga yang mulai selektif dalam memilih produk sehari-hari. Seperti lampu-lampu LED yabg enggunakan daya listrik hingga 90% lebih sedikit dibandingkan lampu pijar konvensional dan mengubah sekitar 95% energi listrik menjadi cahaya. Pemilahan sampah juga sudah dilakukan di level rumah tangga agar lebih mudah dalam proses daur ulangnya.
Perkantoran
Kebijakan paperless banyak diterapkan di berbagai kantor. Hal ini karena teknologi saat ini sangat memungkinkan untuk data-data bisa dengan mudah dibagikan lewat soft-copy, tidak perlu membutuhkan banyak kertas untuk mencetak. Sejumlah kantor juga mewajibkan para pekerjanya untuk membawa tumbler sendiri untuk meminimalisir penggunaan gelas plastik sekali pakai.
Program Ekonomi Sirkular
Banyak juga yang mulai mengembangkan ekonomi sirkular, seperti membuat program pengolahan sampah menjadi produk baru agar " umurnya" jadi lebih lama. Beberapa brand bahkan memiliki program mesin pengolahan sampah plastik yang ditempatkan di banyak titik, yang nantinya bisa ditukar menjadi poin atau e-money. Sangat menarik, bukan?
Advertisement
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI

Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD


5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman

8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi

5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa

8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli


Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?

Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya