Kamis, 8 Oktober 2026 Cari

Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane

Reporter : Mutia Nugraheni
Kamis, 8 Oktober 2026 16:06
Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane
Band yang berusia 30 tahun memperlihatkan komitmennya untuk terlihat aktif dalam menjaga lingkungan.

DREAM.CO.ID - Konser Coldplay " Music of the Spheres World Tour" di Jakarta pada 15 November 2023 lalu jadi yang pertama kalinya digelar di Indonesia dan sukses besar. Bagaimana tidak, tiket sebanyak 70.000 terjual habis! Puluhan ribu orang rela merogoh kocek mereka demi melihat penampilan Chris Martin (vokalis), Jonny Buckland (gitaris), Guy Berryman (bassist), dan Will Champion (drummer) secara live.

Band asal Inggris ini memang dikenal dengan konsep dan penampilan panggungnya secara live yang mampu 'menyihir' penonton. Penggemar mereka juga begitu loyal, plus komitmen mereka dalam hal bermusik begitu solid. Tak heran kalau band yang dibentuk pada 1996 masih eksis hingga sekarang.

Konser Coldplay

Selama 30 tahun berkarya, Coldplay membuktikan kalau musik mereka bisa berdampak pada banyak lini, termasuk lingkungan. Hal ini dibuktikan Coldplay dengan menargetkan tur konsernya saat itu level emisi karbon yang ditimbulkan bisa berkurang. Hingga 2026, target tersebut bisa dikatakan tercapai.

Dikutip dari Coldplay.com, manajemen Coldplay mengumumkan bahwa emisi CO2e selama dua tahun pertama tur tercatat 59% lebih rendah dibandingkan tur sebelumnya di 2016-2017, berdasarkan perbandingan per pertunjukan. Angka tersebut telah diverifikasi oleh Massachusetts Institute of Technology (MIT) Environmental Solutions Initiative.

Hal yang juga sangat menarik adalah, Indonesia mendapat 'hadiah' dari Coldplay lewat program rendah emisi " Music of the Spheres World Tour" . Hadiahnya berupa kapal penyedot sampah Interceptor yang namanya langsung diberikan oleh Coldplay, yaitu Neon Moon II.

 

1 dari 2 halaman

Neon Moon II

Tak lama setelah konser di Jakarta pada November 2023, kapal penyedot sampah Neon Moon II ditempatkan Sungai Cisadane. Penasaran mengapa kapal tersebut beroperasi di Cisadane? Dikutip dari TheOceanCleanup.com Sungai Cisadane salah satu dari lima sungai paling tercemar di Indonesia, dengan perkiraan 3.000 ton sampah mengalir ke Laut Jawa setiap tahunnya.

Kapal Pengangkut Sampah Sumbangan Coldplay

Lalu dari pemetaan tim The Ocean Cleanup, pembuat Neon Moon, sampah di aliran sungai Cisadane sekitar 40 persennya adalah sampah plastik. Kondisi sungai cocok untuk kapal yang tujuan utamanya adalah membersihkan sampah plastik. Kapal Neon Moon II ini dilengkapi 6 kantung sampah dengan total kapasitas 5 ton. Sampah yang dikeruk kapal ini nantinya akan diangkut boat untuk dipilah dan residunya dikirim ke TPA Jatiwaringin Mauk.

Kapal seharga US$777.000 atau sekitar Rp13,9 Miliar itu bertenaga surya dengan baterai lithium. Berdimensi panjang 23 meter dan lebar 9 meter, kapal ini mampu menampung dan menyaring sampah hingga sekitar 6 ton per hari. Saat ini, dikutip dari Instagram @boyanslat , founder dari The Ocean Clean Up, Neon Moon II telah beroperasi penuh dan memberikan dampak signifikan bagi ekosistem serta masyarakat sekitar.

Kapal Pengangkut Sampah Sumbangan Coldplay

Kapal penyedot sampah hasil kolaborasi Coldplay dan The Ocean Clean Up ini bukan hanya ditempatkan di Indonesia, tapi juga di beberapa negara yang pernah dikunjungi Coldplay selama tur.

2 dari 2 halaman

Musik Coldplay Terus 'Berlayar'

The Ocean Cleanup, organisasi nirlaba rekayasa lingkungan Belanda yang didirikan Boyan Slat rupanya sejak lama bekerja sama dengan Coldplay untuk membuat program sustainability atau berkelanjutan. Sebelum menempatkan kapal penyedot sampah di Sungai Cisadane, Indonesia, kapal serupa juga ditempatkan di Sungai Klang, Malaysia dan Río Las Vacas, Guatemala.

Kapal Pengangkut Sampah Sumbangan Coldplay

Coldplay merupakan mitra The Ocean Cleanup yang mensponsori Interceptor, kapal penyedot sampah plastik. Kolaborasi ini dimulai sejak 2021 ketika band tersebut mensponsori Interceptor 005, yang diberi nama " Neon Moon I" dan ditempatkan di Sungai Klang, Malaysia.

Menyusul dampak positif dari Interceptor 005 atau Neon Moon I, Coldplay dan The Ocean Cleanup menjajaki berbagai kemungkinan baru. Salah satunya pada 2024, Coldplay merilis Long Play Record/ LP (piringan hitam) edisi terbatas dari album terbaru mereka yang bahannya dari sampah plastik.

Lewat proses riset dan pengembangan, dihasilkan LP dengan standar kualitas tinggi sesuai yang diinginkan Coldplay. Produk LP tersebut memadukan 70% plastik sungai jenis PET yang dikumpulkan oleh Interceptor 006 dan 30% limbah botol PET daur ulang dari sumber lain.

Untuk rilisan fisik " Notebook Edition" album Moon Music 2024, diproduksi menggunakan plastik yang dikumpulkan dari Sungai Rio Las Vacas, Guatemala City , yang merupakan salah satu sungai paling tercemar di dunia. Siapa sangka album karya Coldplay bisa dikemas sangat apik dengan sampah plastik.

LP Moon Music Coldplay dari sampah plastik

Langkah Coldplay yang memanfaatkan dengan sangat maksimal platform musiknya yang begitu besar dan didukung jutaan penggemar setianya di berbagai negara untuk berkontribusi langsung pada lingkungan, patut diacungi jempol. Musik dan karya-karya mereka bukan hanya bisa dinikmati, tapi pengaruhnya pada lingkungan terus " berlayar" .

Beri Komentar