Rabu, 21 Oktober 2026 Cari

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Reporter : Abidah
Rabu, 21 Oktober 2026 06:00
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Meski tidak berlaku untuk semua orang, perbedaan ini memperlihatkan perubahan cara pandang terhadap pekerjaan, hubungan, dan kesejahteraan pribadi.

DREAM.CO.ID - Generasi Z kerap dianggap kurang tahan banting, terlalu memikirkan perasaan, atau tidak cukup loyal terhadap pekerjaan. Namun, cara generasi yang lahir pada era digital ini memandang kehidupan juga menawarkan sejumlah pelajaran penting, mulai dari keberanian menetapkan batasan hingga memahami bahwa pekerjaan bukan satu-satunya sumber kebahagiaan.

Dilansir dari YourTango, terdapat enam pelajaran hidup yang dinilai lebih berani diterapkan Gen Z dibandingkan generasi yang lebih tua, terutama Baby Boomers dan Generasi X. Meski tidak berlaku untuk semua orang, perbedaan ini memperlihatkan perubahan cara pandang terhadap pekerjaan, hubungan, dan kesejahteraan pribadi.

Survei Deloitte 2025 tentang Gen Z dan Milenial menemukan bahwa keseimbangan kehidupan dan pekerjaan, keamanan finansial, kesehatan mental, serta tujuan dalam karier menjadi sejumlah perhatian penting bagi generasi muda. Berikut enam pelajaran yang dapat dipetik dari perubahan tersebut.

1 dari 3 halaman

1. Tidak Harus Selalu Mengiyakan Permintaan Orang Lain

Generasi yang lebih tua kerap dibesarkan dengan pemahaman bahwa permintaan orang yang lebih tua, atasan, atau figur berwenang sebaiknya dipenuhi. Sikap ini dianggap sebagai bentuk kesopanan, kepatuhan, dan penghormatan.

Namun, kebiasaan selalu mengatakan ya dapat membuat seseorang terjebak dalam tanggung jawab yang sebenarnya tidak sanggup atau tidak ingin dijalani. Misalnya, karyawan yang terus menerima tambahan jam kerja karena permintaan atasan atau anggota keluarga yang selalu mengambil alih tugas penyelenggaraan acara keluarga.

Gen Z cenderung lebih terbuka terhadap gagasan bahwa menolak permintaan bukan berarti tidak menghormati orang lain. Seseorang tetap dapat bersikap sopan sekaligus menyampaikan batas kemampuannya.

2. Kelelahan Ekstrem Bukan Sesuatu yang Patut Dibanggakan

Budaya kerja yang mengagungkan jam kerja panjang dan kurang tidur sering membuat kelelahan dianggap sebagai bukti dedikasi. Orang yang terus bekerja hingga larut malam bahkan terkadang dipandang lebih rajin daripada mereka yang menjaga waktu istirahat.

Padahal, menurut penjelasan Psychology Today tentang burnout, tekanan berkepanjangan dapat membuat seseorang mengalami kelelahan mental, emosional, dan fisik. Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan, tetapi juga dapat dipicu oleh pengasuhan anak, merawat anggota keluarga, serta masalah hubungan.

Gen Z semakin terbuka membicarakan dampak tekanan terhadap kesehatan mental dan kehidupan pribadi. Bekerja keras tetap penting, tetapi terus memaksakan diri hingga kehilangan kemampuan untuk berfungsi dengan baik bukanlah ukuran keberhasilan.

2 dari 3 halaman

3. Mempertanyakan Otoritas Bukan Berarti Tidak Sopan

Dalam lingkungan keluarga, pendidikan, maupun pekerjaan, mempertanyakan keputusan orang yang memiliki jabatan lebih tinggi terkadang dianggap sebagai tindakan melawan atau tidak menghormati.

Gen Z mulai menantang anggapan tersebut. Mereka cenderung lebih bersedia menanyakan alasan di balik aturan atau kebijakan, alih-alih menerimanya hanya karena keputusan itu dibuat oleh seseorang yang memiliki kekuasaan.

Sikap kritis tidak berarti semua perintah harus ditentang. Meminta penjelasan dan bukti dapat membantu seseorang memahami persoalan secara lebih utuh, menemukan kekeliruan, serta mendorong keputusan yang lebih baik.

Dalam organisasi, kebiasaan ini juga dapat membuka ruang diskusi dan evaluasi. Kepatuhan memang diperlukan dalam situasi tertentu, tetapi kepatuhan tanpa pemahaman berisiko membuat masalah yang sama terus berulang.

4. Pekerjaan Tidak Harus Menjadi Prioritas Utama dalam Hidup

Bagi sebagian Baby Boomers dan Gen X, pekerjaan tetap dan loyalitas terhadap perusahaan merupakan jalan penting menuju keamanan finansial. Bertahan lama di satu tempat kerja dan meniti jenjang karier sering dipandang sebagai bentuk kesuksesan.

Namun, Gen Z memasuki dunia kerja dalam kondisi ekonomi yang berbeda. Biaya hidup meningkat, harga rumah semakin sulit dijangkau, dan gelar pendidikan tidak selalu menjamin pekerjaan dengan penghasilan yang memadai.

Situasi tersebut ikut memengaruhi cara generasi muda memandang karier. Pekerjaan tetap penting untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi tidak harus menjadi pusat seluruh identitas seseorang.

Gagasan ini bukan berarti Gen Z tidak memiliki ambisi. Sebaliknya, sebagian anak muda mulai mengukur keberhasilan melalui kombinasi penghasilan, kesempatan berkembang, waktu bersama keluarga, kesehatan, dan ruang untuk menjalani kehidupan di luar kantor.

3 dari 3 halaman

5. Loyalitas Tidak Berarti Harus Menderita dalam Diam

Dalam hubungan romantis, kesetiaan sering dipahami sebagai kemampuan bertahan menghadapi berbagai kesulitan. Akan tetapi, pemahaman tersebut dapat menjadi masalah ketika seseorang merasa harus terus bertahan meskipun hubungan membuatnya tidak bahagia atau mengabaikan kebutuhan dasarnya.

Gen Z dan Milenial tumbuh ketika pembicaraan mengenai batasan pribadi, komunikasi, dan hubungan yang sehat semakin terbuka. Mereka lebih terbiasa mempertanyakan apakah sebuah hubungan masih memberikan rasa aman dan penghargaan timbal balik.

Data yang dikutip dari Purdue University menunjukkan bahwa angka perceraian secara keseluruhan di Amerika Serikat berada pada tingkat terendah dalam beberapa dekade, meskipun perceraian di kalangan pasangan berusia lebih tua masih menjadi perhatian. Angka tersebut tidak membuktikan bahwa perubahan pandangan generasi muda menyebabkan penurunan perceraian, tetapi memperlihatkan bahwa dinamika perkawinan dan komitmen terus berubah.

Kesetiaan tetap memiliki nilai, tetapi tidak seharusnya menjadi alasan untuk menerima perlakuan buruk atau memendam persoalan tanpa batas.

6. Persahabatan Sama Pentingnya dengan Hubungan Romantis

Masyarakat sering menempatkan hubungan romantis sebagai salah satu pencapaian utama kehidupan dewasa. Menikah atau memiliki pasangan kerap dianggap lebih penting daripada mempertahankan persahabatan.

Namun, pola tersebut mulai mendapat tantangan dari generasi muda. Artikel YourTango mengutip survei yang menemukan bahwa sekitar 31 persen orang dewasa muda aktif berkencan, yakni pergi berkencan setidaknya sekali dalam sebulan. Sementara itu, survei lain yang dikutip The Washington Post menyebut 55 persen Gen Z memprioritaskan persahabatan dibandingkan hubungan romantis.

Angka-angka tersebut berasal dari survei yang berbeda dan tidak serta-merta menggambarkan seluruh Gen Z. Meski demikian, temuan itu menunjukkan bahwa persahabatan dapat memiliki posisi penting dalam kehidupan anak muda.

Teman dapat menjadi sumber dukungan emosional, tempat berbagi pengalaman, dan bagian dari jaringan sosial yang membantu seseorang melewati masa sulit. Hubungan semacam ini juga membutuhkan waktu, perhatian, serta usaha untuk mempertahankannya.

Pada akhirnya, keenam pelajaran tersebut bukan berarti Gen Z selalu lebih memahami kehidupan daripada generasi sebelumnya. Setiap generasi menghadapi tantangan dan memiliki pengalaman yang berbeda. Namun, keberanian menetapkan batasan, menjaga kesehatan mental, mempertanyakan otoritas secara kritis, dan merawat hubungan di luar romansa merupakan pengingat bahwa menjalani hidup dengan baik tidak harus berarti selalu mengalah, terus bekerja, atau memenuhi semua harapan orang lain.

Beri Komentar