Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
© Pexels.com/Pixabay
DREAM.CO.ID - Gula tebu sering dianggap lebih alami, sedangkan sirup jagung tinggi fruktosa atau high-fructose corn syrup (HFCS) kerap mendapat reputasi buruk karena banyak digunakan dalam minuman manis dan makanan olahan. Namun, jika menyangkut kesehatan dan kadar gula darah, apakah gula tebu benar-benar lebih baik daripada pemanis berbahan dasar jagung?
Dilansir dari Verywell Health, tubuh manusia memproses kedua jenis pemanis tersebut dengan cara yang relatif serupa. Karena itu, mengganti sirup jagung tinggi fruktosa dengan gula tebu belum tentu memberikan manfaat kesehatan yang berarti. Hal yang lebih penting adalah memperhatikan jumlah gula tambahan yang dikonsumsi setiap hari.
Mengenal Perbedaan Gula Tebu dan Sirup Jagung
Gula tebu, yang dikenal sebagai sukrosa, berasal dari tanaman tebu atau bit gula. Gula pasir putih merupakan salah satu bentuknya yang paling umum dan telah melalui proses pemurnian. Secara kimia, sukrosa tersusun atas dua jenis gula sederhana, yaitu glukosa dan fruktosa, dengan perbandingan masing-masing sekitar 50 persen.
Sementara itu, sirup jagung dibuat dari pati jagung dan pada dasarnya mengandung glukosa. Untuk menghasilkan sirup jagung tinggi fruktosa, sebagian glukosa diubah menjadi fruktosa melalui proses pengolahan. Proses ini menghasilkan pemanis yang komposisinya mendekati gula tebu.
Salah satu jenis HFCS yang banyak digunakan dalam minuman ringan adalah HFCS-55, yang mengandung sekitar 55 persen fruktosa dan 45 persen glukosa. Komposisi ini sedikit berbeda dari gula tebu, tetapi keduanya tetap merupakan campuran glukosa dan fruktosa dalam proporsi yang hampir seimbang.
Perbedaan bahan baku dan proses produksi tersebut tidak serta-merta membuat salah satunya lebih sehat. Hati memproses glukosa dan fruktosa dari kedua pemanis itu untuk digunakan sebagai energi atau disimpan sesuai kebutuhan tubuh. Dengan demikian, beralih dari gula tebu ke HFCS, atau sebaliknya, tidak otomatis memperbaiki kondisi kesehatan.
Dari sisi nutrisi, gula tebu dan sirup jagung tinggi fruktosa sama-sama terutama menyumbang kalori. Keduanya menyediakan sekitar empat kalori per gram, tetapi tidak mengandung serat atau protein dan hampir tidak memberikan vitamin maupun mineral yang berarti.
Gula tebu mentah memang dapat mengandung sejumlah kecil mineral, seperti kalium dan magnesium. Namun, jumlahnya sangat sedikit sehingga tidak memberikan keunggulan kesehatan yang signifikan dibandingkan pemanis lainnya.
Artinya, label yang terdengar lebih alami tidak selalu menunjukkan bahwa suatu bahan lebih baik bagi tubuh. Dalam konteks konsumsi gula, jumlah yang masuk ke dalam tubuh tetap menjadi pertimbangan utama.
Penelitian menunjukkan bahwa gula tebu dan sirup jagung tinggi fruktosa memiliki dampak yang serupa ketika dikonsumsi dalam jumlah yang sama. Keduanya tidak dapat dianggap lebih unggul satu sama lain hanya berdasarkan sumber atau jenis pemanisnya.
Konsumsi gula tambahan secara berlebihan dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan, perlemakan hati, kadar gula darah tinggi, resistensi insulin, penyakit jantung, serta peningkatan kolesterol dan trigliserida.
Karena itu, perhatian sebaiknya tidak hanya tertuju pada sirup jagung yang sering ditemukan dalam produk olahan. Gula pasir, madu, dan pemanis seperti agave juga dapat menambah asupan gula dan berkontribusi terhadap risiko kesehatan jika dikonsumsi berlebihan.
Sumber tersebut menyebutkan bahwa American Heart Association dan sejumlah organisasi kesehatan lain menekankan pentingnya membatasi asupan gula tambahan secara keseluruhan. Salah satu rekomendasi umum yang dibahas adalah menjaga asupan gula tambahan di bawah enam persen dari total kalori harian.
Langkah yang lebih bermanfaat daripada sekadar mengganti jenis pemanis adalah mengurangi konsumsi gula tambahan dari berbagai sumber. Minuman berpemanis, makanan penutup, sereal dengan tambahan gula, dan camilan olahan termasuk produk yang perlu diperhatikan.
Membaca label komposisi dan informasi gizi dapat membantu mengenali gula tambahan dalam produk yang dikonsumsi sehari-hari. Mengurangi frekuensi minum minuman manis atau memilih makanan yang tidak diberi tambahan gula juga dapat menjadi langkah praktis.
Pada akhirnya, gula tebu bukan pilihan yang otomatis lebih sehat daripada sirup jagung tinggi fruktosa. Keduanya memiliki kandungan kalori yang hampir sama dan dapat menimbulkan risiko kesehatan serupa jika dikonsumsi berlebihan. Untuk menjaga kesehatan metabolik, fokus utama bukanlah memilih gula yang dianggap paling baik, melainkan membatasi jumlah gula tambahan dalam pola makan sehari-hari.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam