Prabowo Ramai-Ramai Dicalonkan Lagi, Mengapa Gibran Belum Diajak?
Ini Satu Hal Sederhana yang Ternyata Bisa Membantu Perawatan Ibu Setelah Melahirkan
Ingin Memperlambat Penuaan? Studi Ungkap Hal yang Mungkin Membantu dan yang Ternyata Tak Banyak Berpengaruh
Langkah Tepat Lindungi Kulit dari Paparan Sinar UV
Sudah Tidur 8 Jam tapi Tetap Lelah? Bisa Jadi Anda Kekurangan 7 Jenis Istirahat Ini
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Sering Merasa Orang Lain Tidak Menyukai Anda? Bisa Jadi Ini Hanya ‘Liking Gap’
Pertamina Hulu Energi Akuisisi PI 3 WK di Kaltim, Salah Satunya di Lokasi Temuan Cadangan Gas Raksasa Tahun 2023
(Foto: Shutterstock)
Dream - Selama ini mungkin kita pernah berbuat kecurangan. Entah itu mencontek saat ulangan, memotong jam kerja kantor, atau yang lebih ekstrem lagi, berselingkuh.
Berapa pun kadarnya, perasaan setelah berbuat curanglah yang penting. Apakah kita merasa bersalah dan mengakuinya? Apakah sedikit menyesal dan siap hidup dihantui kecurangan tersebut? Atau kita malah cuek saja dan bersiap melakukan kecurangan berikutnya?
Apa pun itu, sekali seseorang berbuat curang, maka dia akan curang selamanya. Pandangan ini nyatanya mendapat dukungan dari sebuah teori yang disebut Memori Selektif.
Memori selektif bisa jadi adalah biang dari kecurangan yang dilakukan berulang-ulang tanpa sadar. Dalam dunia ilmiah, kecenderungan ini dikenal sebagai 'amnesia tidak etis'.

Teori ini diterbitkan dalam jurnal penelitian pada bulan Mei tahun lalu. Karena sudah cukup lama, kini lebih banyak penelitian baru yang mendukung gagasan 'Sekali penipu, tetap penipu' itu.
Jurnal sains Archives of Sexual Behavior menerbitkan hasil studi baru yang diikuti 484 peserta yang menjalani hubungan asmara. Peneliti memberi tugas kepada responden untuk melaporkan hubungan seksual di luar hubungan resmi mereka.
Hasilnya cukup mengejutkan...
© Dream
Orang-orang yang pernah selingkuh di masa lalu sebanyak tiga kali lebih berpotensi melakukannya lagi dibandingkan dengan mereka yang tetap setia.
Dalam penelitian lain yang dilakukan di Amerika Serikat dan dipublikasikan oleh Proceedings of the National Academy of Sciences, terungkap meski kita bisa melupakan kesalahan kita sendiri, kita bisa mengingat kesalahan orang lain dengan sangat jelas.
Dilansir Mirror, peneliti melakukan tiga eksperimen untuk mendapatkan jawaban tersebut.

Dalam eksperimen pertama, mereka meminta 343 responden untuk menulis pengalaman etis dan tidak etis yang pernah dilakukan di masa lampau.
Eksperimen berikutnya meminta 70 responden yang berstatus siswa bermain permainan lempar koin. Permainan ini mengandung peluang untuk berbuat curang bisa dilakukan dengan relatif mudah.
© Dream
Dua minggu kemudian, setiap responden diminta untuk mengisi kuesioner. Hasilnya? Sekitar 43 persen responden mengaku telah berbuat curang.
Untuk mendapatkan hasil penelitian yang lebih signifikan, peneliti meminta 230 siswa untuk berpartisipasi dalam permainan lempar dadu.

Setelah tiga hari, para peserta memainkan permainan kata. Mereka cukup mudah bermain curang demi bisa mendapatkan lebih banyak uang.
Banyak responden kesulitan mengingat kecurangan mereka sebelumnya. Karena itu,mereka lebih cenderung untuk melakukan kecurangan dalam permainan ini.
Apa yang ditemukan oleh para peneliti dapat menjadi cermin agar kita mengurangi tidak etis. Hal itu akan membantu kita menjaga citra diri yang positif.
Advertisement

Aroma Parfum yang Lagi Tren Ini Ternyata Bisa Bantu Tidur Lebih Nyenyak, Studi Ungkap Rahasianya

8 Makanan yang Bisa Redakan Ngidam Makanan Manis Lebih Baik daripada Permen, Menurut Ahli Gizi

Dibuka Menguat ke Level 6.109,32, IHSG Bergerak di 2 Zona pada Awal Perdagangan

Mengapa Ada Orang yang Lebih Sering Mengalami Efek Samping Vaksin? Studi Ungkap Penyebabnya

Prabowo Ramai-Ramai Dicalonkan Lagi, Mengapa Gibran Belum Diajak?

Ini Satu Hal Sederhana yang Ternyata Bisa Membantu Perawatan Ibu Setelah Melahirkan
