6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Selfie Omar Borkan, Pria Yang Dideportasi Dari Saudi Karena Ketampanannya
Dream - Menurut sebuah studi terbaru, orang yang kecanduan mengunggah foto selfie kemungkinan adalah orang yang egois dan bisa jadi menderita gangguan jiwa.
Selfie telah melanda dunia. Mulai dari kalangan bawah, pejabat hingga artis keranjingan mengunggah foto dirinya sendiri di media sosial.
Tapi para peneliti dari Ohio State University mengatakan orang-orang yang berbagi banyak foto selfie menunjukkan ciri-ciri psikopat atau gangguan jiwa, seperti kurangnya empati.
Ditemukan bahwa pria yang secara teratur mengunggah selfie di situs seperti Facebook, Twitter dan Instagram, lebih cenderung narsis, impulsif dan menampilkan karakteristik lain, seperti kurangnya empati.
Para peneliti juga mengungkapkan bahwa self-objectification atau perilaku seseorang yang cenderung lebih memikirkan pendapat orang lain terhadap dirinya dan mengabaikan pendapatnya sendiri mungkin menjadi masalah besar bagi pria daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Mereka banyak meluangkan waktu dan usaha untuk mengedit dan meningkatkan selfie mereka, sebelum diunggah secara online.
Psikolog dari Ohio State University menemukan bahwa pria yang mengunggah selfie secara teratur, memiliki tingkat anti-sosial yang lebih tinggi dari rata-rata.
Misalnya, pria yang mengedit foto mereka untuk memperbaiki penampilan, menunjukkan tanda-tanda narsisme dan self-objectification, kata asisten profesor komunikasi Jesse Fox di Ohio State University.
Untuk datang ke kesimpulan tersebut, para peneliti melakukan jajak pendapat terhadap 800 orang berusia antara 18 dan 40 tentang output media sosial mereka, serta memberi mereka kuesioner psikologis untuk membangun ciri-ciri kepribadian.
" Kebanyakan orang tidak berpikir bahwa pria bisa melakukan hal semacam itu, tetapi mereka ternyata melakukannya."
Dia memperingatkan bahwa perilaku tersebut dapat menyebabkan masalah lebih lanjut. " Kita tahu bahwa self-objectification menyebabkan hal-hal buruk, seperti depresi dan gangguan makan pada wanita."
Dengan semakin tingginya penggunaan media sosial, setiap orang kini lebih memikirkan penampilan mereka. " Itu artinya self-objectification akan menjadi masalah yang lebih besar pada pria, juga wanita."
(Sumber: Daily Mail)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya