Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Bayi/ Foto: Shutterstock
Dream - Bagi para orangtua, menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar jadi hal penting saat bayi ada di rumah. Tentu saja karena tak mau si kecil terkena debu, kuman dan virus dari kotoran yang bisa memicu penyakit.
Rupanya kondisi rumah yang terlalu bersih ternyata juga kurang baik bagi kesehatan anak. Justru paparan alergen akan jadi " modal" kekebalan anak di kemudian hari. Terutama pada bayi saat merangkak di sekitar rumah
Sebuah studi yang dilakukan tim peneliti dari Purdue University dan diterbitkan dalam Journal Environmental Science and Technology mencoba menganalisis paparan debu dan kotoran pada bayi. Digunakan bayi robotik untuk bergerak di karpet yang sebelumnya digunakan di rumah.
" Tujuan kami adalah untuk mempelajari bagaimana gerakan merangkak bayi membangkitkan paparan mikroba dan debu dari karpet, dan untuk mengevaluasi eksposur inhalasi yang dihasilkan," kata salah satu penelti, Brandon Boor, yang juga Asisten Profesor Teknik Sipil dan Lingkungan, Rekayasa Ekologi.
Dari hasil analisis diketahui, gerakan bayi merangkak membaurkan partikel debu yang menumpuk di karpet dan melepaskannya ke udara. Para peneliti menemukan bahwa konsentrasi partikel di sekitar bayi hingga 20 kali lebih tinggi daripada tingkat di tempat lain di ruangan itu. Partikel ini terdiri dari sel kulit, bakteri, serbuk sari dan spora jamur.
" Ini adalah studi pertama yang menunjukkan bahwa bayi yang merangkak terkena konsentrasi signifikan dari partikel biologis yang tersuspensi kembali, dan bahwa banyak dari partikel ini mengendap di saluran udara bagian bawah dari sistem pernapasan mereka," kata Boor.
Boor mengatakan bayi yang menghirup debu dan kotoran tersebut sebenarnya juga memiliki dampak positif. Penelitian sebelumnya, termasuk studin 2014 dari Johns Hopkins Children's Center, telah menunjukkan semakin banyak bayiyang terpapar alergen tertentu, semakin besar kemungkinan mereka untuk membangun kekebalan terhadap alergen tersebut.
“ Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa paparan inhalasi anak usia dini terhadap mikroba di udara, seperti bakteri dan jamur, dan alergen, seperti serbuk sari, tungau dan alergen hewan, dapat memainkan peran penting baik dalam pengembangan—dan perlindungan terhadap—asma, demam, dan alergi," kata Boor.
Bayi yang terpapar lebih banyak kotoran dengan keragaman mikroba yang lebih tinggi memiliki risiko asma yang lebih rendah di kemudian hari. Hal ini mendukung " hipotesis kebersihan" , yang menyarankan untuk tidak terlalu steril, karena lingkungan yang steril tidak memungkinkan sistem kekebalan untuk berkembang dan menguat.
Jadi apa yang harus dilakukan? Mungkin yang terbaik adalah menjaga rumah pada tingkat kebersihan yang wajar. Bersihkan secukupnya dan jangan terlalu steril.
Laporan: Meisya Harsa Dwipuspita
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya