Kamis, 15 Oktober 2026 Cari

Uniknya Tradisi 'Membakar Gunung' ala Jepang

Reporter : Ratih Wulan
Senin, 27 Juni 2016 14:40
Uniknya Tradisi 'Membakar Gunung' ala Jepang
Asal-usul tradisi Wakakusa Yamayaki tidak pernah diketahui secara jelas dari mana bermula.

Dream - Menyalakan kembang api, kerap menjadi tradisi dalam merayakan sesuatu. Seperti yang dilakukan masyarakat Kota Nara, Jepang yang mempunyai kebiasaan unik merayakan festival kembang api di atas sebuah gunung.

Tepat di belakang kota berdiri sebuah bekas gunung berapi yang sudah tua. Gunung yang kini hanya menyisakan ketinggian 350 meter ini dinamai Wakakusa. Padahal dulu, gunung Wakakusa ini terkenal sebagai destinasi yang ramai dikunjungi wisatawan.

Saat tiba di puncaknya, wisatawan dapat menyaksikan pemandangan seluruh kota tanpa terhalang. Biasanya, gunung akan tertutupi oleh rerumputan. Kemudian pada awal April, lereng-lereng gunung akan ditumbuhi pohon ceri yang bermekaran.

Kemudian, pada saat mendekati musim dingin, rerumputan akan mulai mati dan daun-daun pohon ceri mulai berguguran. Kala itu kondisi Wakakusa terlihat seperti pegunungan yang gundul.

Nah, pada saat itulah masyarakat setempat akan merayakan Festival Yamayaki. Biasanya, festival ini berlangsung pada Sabtu keempat bulan Januari. Nyala api akan bertebaran di atas rumput mati. Peristiwa ini dikenal sebagai Yamayaki yang secara harfiah berarti 'gunung panggang'.

Asal-usul tradisi Wakakusa Yamayaki tidak pernah diketahui secara jelas dari mana asalnya. Namun, kebiasaan ini diduga berasal dari perselisihan di antara dua kuil, Todai-ji dan Kofuku-ji pada tahun 1760.

Pada saat mediasi keduanya gagal, maka dikeluarkan keputusan bahwa semua gunung harus dibakar.

Saat ini, tradisi ini dirayakan oleh Candi Todaiji, Candi Kofukuji, dan Kuil Kasuga. Perayaan dimulai dengan upacara penyalaan obor di Kuil Kasuga Taisha. Lalu, api dibawa dalam parade menuju kaki gunung, di tempat api unggun besar itu menyala. Di atas gunung telah diletakkan enam kembang api paling spekatakuler.

Setelah kembang api lengkap, rerumputan di gunung mulai dibakar. Pembakaran dapat dilakukan beberapa lama mulai dari 30 menit hingga satu jam. Tergantung seberapa kering rumput-rumput di sana, dan percikan api dapat disaksikan oleh seluruh masyarakat di Kota Nara.

(Sumber: Amusingplanet.com)

Beri Komentar