Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream – Selama ini para ilmuwan masih dibuat penasaran terkait proses berakhirnya alam semesta. Bahkan beberapa pihak menyebut akan terjadi ledakan dahsyat di hari kiamat.
Namun tampaknya isu itu kini mampu dipatahkan peneliti Illinois State University. Menurutnya, hari kiamat akan terjadi saat bintang-bintang perlahan mulai menghilang, bukan dengan ledakan.
" Hari itu, alam raya akan menjadi tempat yang sedikit menyedihkan, sepi, dan dingin. Bahkan mungkin saja tidak akan ada manusia yang benar-benar menyaksikannya secara langsung,” ujar Dr Matt Caplan, salah seorang peneliti.
Menurut perhitungan, berakhirnya alam semesta akan ditandai dengan kondisi bumi yang sangat gelap, namun bisa saja muncul ledakan-ledakan bintang.
Dalam proses berakhirnya alam semesta, bintang masif akan hilang karena ledakan. Sedangkan bintang katai putih cenderung akan menyusut perlahan sebelum musnah.
“ Bintang yang kurang dari 10 kali massa matahari tak memiliki gravitasi. Nantinya, bintang masif tidak dapat meledak di dalam supernova,”jelas Dr Caplan.
“ Beberapa triliun tahun ke depan, katai putih akan mendingin, lebih redup, dan membeku. Lalu ia akan berubah menjadi bintang 'katai hitam' yang tidak lagi bersinar.” tambahnya.
Saat ini, sebagian besar katai putih terbuat dari unsur-unsur ringan seperti karbon dan oksigen. Bintang tersebut bisa memiliki besar seukuran bumi, namun massanya akan sebanyak matahari.

Pada umumnya, bintang bersinar akibat dari fusi termonuklir yang melepaskan energi. Katai putih akan menjadi abu karena terbakar. Namun reaksi fusi masih bisa terjadi karena penerowongan kuantum, hanya saja jauh lebih lambat.
Meski terdengar amat mengerikan, perhitungan Dr Caplan menyebut manusia masih memiliki waktu yang sangat lama sebelum berakhirnya alam semesta.
" Peristiwa ini pasti akan terjadi, tapi dalam jangka waktu yang sangat lama," jelasnya.
Sumber Mirror
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya