14 Asteroid Dekati Bumi dalam Sepekan Ini

Reporter : Maulana Kautsar
Jumat, 10 Januari 2020 11:00
14 Asteroid Dekati Bumi dalam Sepekan Ini
Salah satu yang terbesar mendekati Bumi pada hari ini.

Dream - Selama sepekan ini Bumi dilewati 14 asterorid. Salah satu yang terbesar yaitu asteroid berkode 2019 UO.

Menurut laman Newsweek, asteroid itu punya lebar 540 meter, lebih tinggi ketimbang Empire State Building. Menurut data CNEOS, objek (2019 UO) diproyeksikan terbang mendekati Bumi dengan kecepatan 9,4 kilometer per detik pada hari Jumat 10 Januari 2020.

Objek itu diduga berada pada jarak minimum yang mungkin dicapai yaitu 0,03376 unit astronomi (au) atau 13,07 jarak bulan (LD), itu berarti asteroiid tersebut sedikit lebih jauh dari 13 kali jarak Bumi dan Buan atau 5.050.000 kilometer.

Selain 2019 UO, satu asteroid yang hampir luput dari pengamatan, yaitu 2020 AT1. Asteroid tersebut mendekati Bumi pada Kamis 9 Januari 2020.

Asteroid ini masih berjarak 23 kali lebih panjang dari keliling Bumi. Diperkirakan lebarnya antara 8,3 x 19 meter.

2020 AT1 mengelilingi angkasa dengan kecepatan sekitar 22.530 kilometer per jam. 2020 AT1 merupakan asteroid dalam famili Apollos.

2020 AT1 mengikuti orbit konsentris di sekitar berbagai planet di Tata Surya seperti Mars, Venus dan Merkurius. Dari waktu ke waktu, orbit asteroid berpotongan dengan Bumi.

1 dari 5 halaman

Badan Antariksa Eropa Akan 'Serbu' Asteroid yang Ancam Bumi

Dream - Eropa mengonfirmasi berpartisipasi pada program pertama yang dilakukan manusia dalam upaya melindungi planet. Badan Antariksa Eropa (ESA) telah menyetujui Hera, sebuah misi kerja sama dengan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA).

Menurut laman space.com, misi itu akan menilai hasil program Double Asteroid Redirection Test (DART) NASA. DART merupakan program pembelokan asteroid yang berpotensi menabrak Bumi.

DART bakal diluncurkan dengan roket SpaceX Falcon pada Juli 2021 dan mencapai Didymos, salah satu dari asteroid kembar yang berukuran 775 meter, pada Oktober 2022. Penyelidikan NASA kemudian akan dihunjamkan ke Didymoon --berukuran 165 meter, asteroid yang lebih kecil dari Didymos.

Proses itu akan diamati melalui teleskop dari Bumi. Teleskop akan mendokumentasikan bagaimana dampak Didymoon dan orbitnya di sekitar Didymos. Data ini nantinya membantu para ilmuwan mengukur efektifitas strategi penabrakan kinetik dalam strategi pembelokan asteroid.

Misi Hera bakal diluncurkan pada 2023 atau 2024 dan mencapai sistem asteroid Didymos dua tahun berikutnya. Menurut pejabat ESA, pesawat ruang angkasa Eropa akan mengumpulkan berbagai jenis data tentang batuan ruang angkasa dengan bantuan dua kubus kecil, yang keduanya akan melakukan pendaratan di asteroid.

Keputusan ESA menyetujui misi Hera, yang diumumkan pada pertemuan para kepala badan ruang angkasa Eropa di Seville, Spanyol, memastikan AS tidak akan sendirian dalam uji coba pertahanan planet ini.

" Kami sangat senang dengan keputusan Badan Antariksa Eropa untuk mendanai misi Hera, bagian penting dari upaya pertama manusia dalam membelokkan asteroid," demikian pernyataan kampanye #SupportHera.

" Suatu hari, misi Hera bisa menjadi sangat penting untuk melindungi planet kita dari asteroid."

Asteroid Prospection Explorer (APEX), yang dibuat konsorsium Swedia-Finlandia-Ceko-Jerman, akan menyelidiki struktur interior dan komposisi permukaan kedua asteroid dalam sistem itu. Sementara itu Juventas, yang dibangun oleh perusahaan Denmark, GomSpace dan perusahaan Rumania, GMV, akan mempelajari struktur dan medan gravitasi Didymoon.

2 dari 5 halaman

NASA & ESA Akan Belokkan Asteroid yang Berpotensi Tabrak Bumi

Dream - Skenario menyelamatkan Bumi dari tabrakan asteroid di film Armageddon yang dibintangi Liv Tyler, Bruce Willis, dan Ben Affleck, menempel dalam ingatan manusia.

Kini, dan ini bukan kejadian di film, ancaman asteroid yang menabrak Bumi sedang terjadi. Badan Antariksa dan Penerbangan Amerika Serikat (NASA) dan Badan Antariksa Eropa (ESA) bertemu di Roma pekan depan untuk membahas penyelamatan Bumi dari ancaman tabrakan ini.

Proyek ini bertujuan untuk membelokkan orbit salah satu dari dua asteroid yang mengancam Bumi dan Mars, Didymos.

Menurut laman Engadget, NASA dan ESA akan mengukur terlebih dahulu mengukur dampak dan kondisi penyelamatan yang efektif.

NASA Akan memberikan akselerator Uji Dampak Asteroid Ganda (DART) yang diluncurkan pada musim panas 2021. Akselelator itu akan menabrak Didymos yang berukuran lebih kecil.

Setelah tabrakan, Cubesat Italia, LICIACUbe, akan mempelajari dampak kerusakan. ESA kemudian akan meluncurkan satelit Hera pada 2024 untuk mempelajari asteroid Didymos yang lebih besar.

3 dari 5 halaman

Hera Tiba 2026

ESA akan mempelajari kawah, massa, dan satelit radar. Hera dijadwalkan akan tiba di asteroid raksasa itu pada 2026.

Para ilmuwan memilih asteroid Didymos karena orbitnya yang cukup lambat. Dengan kondisi itu, NASA berasumsi, cukup realistis untuk mengubah orbitnya.

Sebelumnya, pada 26 Maret lalu para astronom NASA menemukan asteroid saat malam hari yang jauh lebih gelap dibanding Pluto. Kala itu mereka menyebut asteroid itu dengan PDC 2019.

Asteroid itu memiliki orbit yang melewati 0,05 unit astronomi. Lalu NASA dan Badan Antariksa Eropa berspekulasi asteroid itu akan menghantam Bumi pada 29 April 2027.

4 dari 5 halaman

Asteroid Raksasa Ancam Bumi 10 Tahun Lagi, NASA Sempat Panik!

Dream - Miliarder sekaligus CEO Space-X membuat ramalan mengerikan tentang kemampuan bumi menangkal serangan asteroid raksasa. Menurut Musk, manusia sampai kini belum memiliki pertahanan yang bisa mencegah tabrakan tersebut.

Pernyataan Musk itu diucapkan dalam cuitan Twitternya setelah badan antariksa AS, NASA menyatakan tengah bersiap menghadapi datangnya batu angkasa yang mereka beri julukan `God of Chaos` bernama Apophis.

Menurut Musk, publik tak perlu khawatir dengan datangnya asteroid seperti disebutkan NASA. Namun dia mengatakan akan datang batu angkasa yang ukuran jauh lebih besar dan menghantam bumi.

Dalam laporannya NASA mengungkapkan batu raksasa itu berukuran 340 meter dan bergerak ke jalur yang dekat dengan bumi. NASA bahkan pernah mengkhawatirkan batu raksasa itu akan menabrak Bumi.

5 dari 5 halaman

Diramalkan Melintas 10 Tahun Lagi

Beruntung, kalkulasi terbaru menunjukan objek luar angkasa tak jadi menghantam dan hanya melintasi bumi dengan arak 19 ribu mile dari permukaan planet ini.

Marina Brozovic, peneliti NASA yang bertugas memantau pergerakan objek yang mendekati bumi mengatakan, Apophis yang bakal mendekati orbit bumi pada 2029 menjadi momen mengagumkan bagi dunia sains.

Kami akan memantau asteroid ini menggunakan lensa dan teleskop radar. Dengan pemantauan radar, kita mungkin bisa melihat detail permukaan asteroid yang hanya berukuran beberapa meter."

Jika Apophos sampai menabrak bumi, diperkirakan jutaan warga London akan tewas dan muncul cekungan seluas 3 mile. Namun tak semua warga London akan binasa.

(Sah, Sumber: Metro.co.uk)

Beri Komentar