Angka Stunting Indonesia Masih di Atas Rata-Rata Toleransi WHO

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 26 Februari 2020 18:00
Angka Stunting Indonesia Masih di Atas Rata-Rata Toleransi WHO
Angka kasus bayi stunting memang mengalami penurunan.

Dream - Banyak tokoh menyebut Indonesia sebentar lagi akan menikmati bonus demografi dengan meningkatnya proporsi penduduk usia kerja. Diprediksi pada 2045, 70 persen dari total penduduk Indonesia masuk kategori produktif dalam rentang usia 15-64 tahun.

Meski demikian, Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah. Anak-anak dan remaja Indonesia berpotensi mengalami gangguan pertumbuhan yang bisa mengganggu tingkat produktivitasnya.

Data World Health Organization (WHO) menyebutkan angka kematian akibat penyakit tidak menular di Indonesia meningkat menjadi 75 persen. Beberapa sebabnya yaitu stunting dan gizi buruk.

" Tentunya kita akan bicara fokus Kemenkes, misi Presiden 2020-2024 adalah penyelesaian stunting," ucap anggota Komisi IX DPR RI, Intan Fitriana Fauzi, dalam seminar Hari Gizi Nasional di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Rabu 26 Februari 2020.

Data World Bank 2017 mencatatkan Indonesia menjadi negara ke-4 di dunia dengan jumlah kasus bayi stunting tertinggi. Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) 2019 juga mengungkapkan 27,67 persen atau 6,3 juta dari 23 juta populasi balita di Indonesia mengidap masalah stunting.

" Dari data tersebut, hal ini harus disikapi karena jauh dari standar maksimalnya, karena ujung-ujungnya stunting ini akan mengancam produktivitas dan juga daya saing SDM," ujar Intan.

1 dari 5 halaman

Tren Balita Gizi Buruk Menurun, Tapi...

Dari data tren status gizi balita 2013-2018, kasus stunting memang mengalami penurunan. Pada 2013, tercatat ada sekitar 37,2 persen kasus stunting dan turun menjadi 30,8 persen pada 2018.

" Walau mengalami penurunan, angka-angka ini masih di atas angka toleransi WHO, untuk stunting itu toleransinya 20 persen, kita masih 30,8 persen, lalu survei terakhir tahun 2019 juga masih 27 persen," kata Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementrian Kesehatan, dr. Kirana Pritasari.

Kirana mengungkapkan stunting dan gizi buruk bukan semata masalah kurang makan saja. Tetapi masalah multi-dimensional dengan akar permasalahan yaitu pendidikan yang tidak merata dan kemiskinan.

Penyebabnya sendiri ada yang secara langsung memberikan dampak, ada pula yang tidak. Penyebab langsung yang dominan yaitu diare balita, imunisasi kurang lengkap, serta makanan balita yang tidak beragam.

Sedangkan penyebab tidak langsung yaitu pertumbuhan balita tidak terpantau secara rutin serta sanitasi yang kurang layak.

Laporan: Raissa Anjanique Nathania

2 dari 5 halaman

Riset Harvard Sebut Virus Corona Telah Masuk Indonesia, Ini Kata Kemenkes

Dream - Kepala Badan Litbang Kesehatan Kemenkes Siswanto, mengaku sudah membaca hasil penelitian ilmuwan Universitas Harvard yang menduha virus Corona telah masuk ke Indonesia, namun tidak terdeteksi.

" Saya sudah baca penelitiannya," kata siswanto, dikutip dari Merdeka.com, Senin 10 Februari 2020.

Menurut dia, penelitian tersebut menggunakan model matematik melalui volume penerbangan antara Wuhan dan 26 negara lainnya.

Model itu dipakai untuk memprediksi dinamika penyebaran virus novel Corona berdasarkan seberapa besar orang lalu lalang. Sehingga, kata Siswanto, kalkulasi tersebut belum bisa dipastikan kebenarannya.

Apabila mengikuti model penelitian Harvard itu, tambah Siswanto, seharusnya sudah ada enam hingga tujuh kasus virus corona di Indonesia.

Meski demikian, kabar itu belum terbukti kebenarannya. " Kami sudah teliti dengan benar. Itu prediksi saja," ucap Siswanto.

3 dari 5 halaman

Cuaca Berpengaruh

Harvard University menganalisis jumlah penumpang yang terbang dari Wuhan ke destinasi-destinasi di seluruh dunia. Studi tersebut menemukan bahwa jumlah kasus virus Corona yang teridentifikasi di Indonesia maupun di Kamboja angkanya di bawah perkiraan.

Kecepatan persebaran virus corona juga diduga memiliki keterkaitan dengan kondisi iklim suatu negara. Ada anggapan bahwa pola seasonal virus novel Corona bisa jadi serupa dengan infeksi influensa dan SARS. Kedua kasus tersebut turun drastis pada Mei ketika suhu cuaca di China menghangat.

Pada negara-negara dengan suhu serupa China dan AS, musim flu biasanya mulai Desember dan mencapai puncaknya pada Januari atau Februari dan menurun setelahnya. SARS berakhir pada 2003 ketika musim panas utara muncul.

Sumber: 

4 dari 5 halaman

Suhu Indonesia Tak Cocok untuk Perkembangan Virus Corona

Dream - Ketua Umum Pokja Infeksi Pengurus Pusat (PP) Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Erlina Burhan, mengatakan, ada kemungkinan suhu di Indonesia memengaruhi perkembangan virus corona Wuhan (2019-nCoV).

" Virus ini berkembang biak pada suhu yang dingin dengan kelembapan yang rendah. Kalau Indonesia dingin atau enggak? Indonesia enggak, ya. Kelembapannya rendah atau tinggi, tinggi ya, 80 persenlah. Ini bukan tempat yang baik untuk virus berkembang biak," kata Erlina, dikutip dari Liputan6.com, Senin 10 Februari 2020.

Menurut Erlina, virus corona tidak dapat aktif seandainya terkena sinar ultraviolet dari matahari. Meski demikian, bukan berarti Indonesia benar-benar terlepas dari ancaman virus. Erlina berharap masyarakat tetap melakukan pencegahan penularan penyakit. Salah satunya rutin mencuci tangan dan menggunakan masker.

Ketua Umum PP PDPI, Agus Dwi Susanto, mengatakan, virus corona merupakan salah saju jenis virus yang menjadi penyebab SARS. " Kalau dari data SARS, virus corona SARS itu bisa bertahan sekitar dua hari. Tapi, kalai di pemanasan, biasanya cepat mati," ujar Agus.

Sumber: Liputa6.com/Giovani Dio Prasasti

5 dari 5 halaman

Beri Peringatan Virus Corona, Dokter Dituduh Sebar Hoax

Dream - Pada 30 Desember 2019, Li Wenliang membuat heboh grup alumni kampus kedokterannya di aplikasi perpesanan WeChat yang populer di China.

Dia menulis tujuh pasien dari pasar seafood lokal telah didiagnosis dengan penyakit mirip SARS dan dikarantina di rumah sakit tempatnya bekerja.

Li menjelaskan bahwa, menurut sebuah tes yang telah dilihatnya, penyakit itu disebabkan virus corona - virus yang masih satu keluarga dari sindrom pernafasan akut parah (SARS).

Kenangan buruk tentang SARS mungkin masih menghantui warga China sejak wabah itu membunuh ratusan orang pada 2013. Pada awalnya kasus wabah SARS ditutup-tutupi oleh pemerintah China.

Demikian juga dengan kasus virus corona baru yang juga disebut virus 2019-nCoV, yang sekarang dinyatakan sebagai darurat kesehatan global oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Beri Komentar
Indah Permatasari: Karena Mimpi Aku Hidup