Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Antropolog Ungkap Kemungkinan Manusia Purba Mirip Hobbit Masih Hidup Di Hutan Flores (Shutterstock)
Dream - Seorang antropolog mengungkap kemungkinan adanya spesies manusia purba di hutan pulau Flores. Spesies yang dimaksud adalah Homo floresiensis.
Menurut IFL Science, para arkeolog menemukan kerangka kecil yang cukup lengkap dari spesies manusia yang telah punah di pulau Flores, Indonesia.
Spesies itu dinamakan Homo Floresiensis atau sering juga disebut 'Hobbit'. Penemuan itu dijadikan bukti adanya migrasi manusia modern dari Asia ke Australia.
Spesies ini awalnya dianggap bertahan hingga sekitar 50.000 tahun yang lalu. Namun, seorang antropolog mengungkap bahwa adanya kemungkinan spesies Hobbit masih hidup hingga sekarang.
Pendapat ini datang dari seorang pensiunan profesor antropologi di University of Alberta, Gregory Forth, mengatakan bahwa bukti kelangsungan hidup spesies itu mungkin telah terabaikan.
" Tujuan saya dalam menulis buku ini adalah untuk menemukan penjelasan terbaik, yaitu yang paling rasional dan paling didukung secara empiris tentang kisah Lio tentang makhluk itu," ungkap Forth dalam bukunya.
Ia juga menyisipkan laporan penampakan oleh lebih dari 30 saksi mata dalam buku tersebut.

" Dan saya menyimpulkan bahwa cara terbaik untuk menjelaskan apa yang mereka katakan kepada saya adalah bahwa hominin non-sapiens telah bertahan di Flores hingga saat ini atau baru-baru ini," ujarnya.
Forth menulis bahwa zoologi rakyat setempat oleh orang Lio yang mendiami pulau itu berisi cerita tentang manusia yang berubah menjadi hewan saat mereka bergerak dan beradaptasi dengan lingkungan baru.
Ini sama dengan sejenis Lamarckisme, pewarisan karakteristik fisik yang diperoleh. Lio mengidentifikasi makhluk ini sebagai hewan, tidak memiliki bahasa atau teknologi rumit yang dimiliki manusia.
" Bagi Lio, penampilan manusia-kera sebagai sesuatu yang tidak sepenuhnya manusia membuat makhluk itu menjadi anomali dan karenanya bermasalah dan mengganggu," tulis Forth.
Laporan : Erdyandra Tri Sandiva
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya