Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Ilustrasi Tanah Tandus. (Foto: Shutterstock)
Dream - Dalam sebuah studi terbaru, para ilmuwan memperingatkan kondisi yang sangat mengerikan yang akan dialami Bumi dalam beberapa dekade mendatang.
Disebutkan bahwa sekitar seperempat dari Bumi bisa berakhir dalam keadaan kekeringan permanen. Terutama jika suhu planet ini naik dua derajat Celsius pada tahun 2050.
Temuan ini menambah daftar panjang konsekuensi dari lambannya penanganan pemanasan global yang terus berkembang.
"Penelitian kami memprediksi, kekeringan parah akan melanda sekitar 20-30 persen permukaan tanah pada saat suhu rata-rata global Bumi naik 2ºC," kata Manoj Joshi, salah satu peneliti utama studi itu, yang dipublikasikan pada hari Senin di jurnal Nature.
Para ilmuwan selama bertahun-tahun telah mengaitkan kekeringan yang semakin meluas dan intens, akibat perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.
Joshi mengatakan satu-satunya cara untuk menghindari kondisi itu adalah dengan membatasi pemanasan global menjadi 1,5ºC.
...
© Dream
Dream - "Dunia telah memanas hingga 1ºC," tambah Dr. Su-Jong Jeong, seorang peneliti dari Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi China Selatan.
Tapi Dr Su-Jong memberi salah satu solusinya. Yakni dengan menjaga pemanasan global 1,5ºC atau di bawah 2ºC .
Caranya, melalui pengurangan emisi gas rumah kaca. Karena ini diyakini dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kekeringan signifikan.
Saat ini kekeringan parah terjadi di banyak bagian dunia, termasuk di Amerika Tengah, Eropa Selatan, Afrika Selatan, Australia Selatan, dan Asia Tenggara.
Ini berarti suatu saat negara-negara di Asia Tenggara seperti Indonesia bisa menjadi gurun yang tandus.
Padahal, semua wilayah yang disebutkan tadi menampung lebih dari 20 persen populasi dunia.
© Dream
Dream - Sementara itu, Kesepakatan Iklim Paris telah lama dikritik oleh para ahli dan peneliti lingkungan. Kesepakatan itu dianggap tidak cukup mampu untuk menghadapi krisis iklim yang telah menimbulkan kekacauan di seluruh dunia.
Meski begitu, Kesepakatan Iklim Paris terus dijalankan karena memiliki tujuan utama untuk menjaga suhu global rata-rata agar tidak naik 2°C pada akhir abad ini.
Namun yang menjadi masalah adalah penghasil emisi karbon terbesar kedua di dunia -- Amerika Serikat -- telah menarik diri dari Kesepakatan Iklim Paris sejak di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.
AS justru mulai bergerak ke arah yang berlawanan dari yang direkomendasikan oleh para ilmuwan.
Selama tahun pertamanya menjabat, Trump telah bergerak dengan cepat untuk mencegah perlindungan lingkungan yang paling mendasar yang dilakukan oleh pemerintahan sebelumnya di bawah Barrack Obama.
(ism, Sumber: alternet.org)
Advertisement
Bagaimana Industri Pangan Mengurangi Limbah? Ini Strategi yang Dilakukan

Mengapa Sampah dari Industri Makanan Berbahaya bagi Lingkungan?

Ekonomi RI Ditekan Perang, Bencana, dan Korupsi, JK: 'Punya Uang Saja Tidak Cukup'

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran


6 Tips agar Perjalanan dengan Bayi Lebih Nyaman dan Minim Drama

Pembalut dan Buku Kena Pajak, Barang Apa Lagi yang Tanpa Sadar Dipajaki?

Kebiasaan Ngemil Setelah Makan Malam Dikaitkan dengan Risiko Penyakit Hati hingga 30 Persen

Gelembung AI di China Disebut Pecah, Apa Artinya dan Bagaimana Dampaknya bagi Kita?

Usia Berapa Otak Manusia Paling Tajam? Ternyata Bukan Saat Masih Muda

Sering Dikira Flu, Virus yang Disebarkan Nyamuk Ini Bisa Menyerang Otak dan Berakibat Fatal

Gelembung AI di China Disebut Pecah, Apa Artinya dan Bagaimana Dampaknya bagi Kita?