6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Ilustrasi (Shutterstock)
Dream – Polisi menangkap tujuh orang yang menjambret staf Presiden Joko Widodo alias Jokowi. Polisi menembak mati dua di antara para penjambret karena melawan saat ditangkap.
Ketujuh orang tersebut adalah Ramalia alias Ramli (kapten), Suhemi alias Toing, Komar alias Abdul, Dany, Ahmad Mahmudi alias Ahmad, Ade Junaidi (penadah), dan Heru Astanto (penadah). Satu pelaku lainnya, Buyung, saat ini masih buron.
Komplotan ini menjambret staf Jokowi dengan modus mengempeskan ban pada Rabu 8 Juni 2018. “ Masing-masing mengendarai sepeda motor mencari pengemudi mobil roda empat yang berkendara sendiri,” ujar Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Nico Afinta, Minggu 8 Juli 2018.
Saat beraksi mereka mencari calon korban yang akan dijamabret. Setelah menemukan sasaran, Ramli bergerak memberi tahu korban kalau ban mobilnya kempes. Agar meyakinkan korban, Buyung turut mendekat dan ikut memberitahu bahwa ban mobil staf Jokowi itu kempes.
“ Lalu disusul oleh Suhemi memberitahukan bahwa ban mobil korban kempes,” ucap Nico. Komar pun turut member tahu korbannya bahwa ban mobil yang ditumpangi sedang kempes.
Karena beberapa kali diingatkan, korban percaya dan turun untuk mengecek ban mobilnya. Saat turun itulah para pelaku bernama Ahamad membuka pintu dan membawa barang berharga di dalam mobil korban, dibantu oleh Dany.
© Dream
Setelah melakukan penyelidikan, polisi mengetahui keberadaan Ramli. Namun, ketika hendak ditangkap Ramli mencoba merebut senjata polisi. “ Terpaksa petugas mengambil tindakan tegas terukur dengan melakukan penembakan sehingga meninggal dunia,” tutur Nico.
Tiga pelaku lain ditembak polisi pada bagian kaki karena mencoba melarikan diri. Setelah itu, polisi mendapat informasi dari Ade bahwa laptop milik korban telah dijual seharga Rp4 juta kepada Heru.
Kepada polisi, Heru mengaku laptop tersebut telah dijual kepada Tri Wahyudi yang berada di Bekasi. Ketika hendak menunjukkan alamat Wahyudi, Heru mencoba kabur, sehingga polisi menembaknya hingga akhirnya tewas.
“ Tim membawa Heru ke rumah sakit. Sesampai di rumah sakit, Heru dinyatakan meninggal dunia,” ujar Nico.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
