#BeGood: Kisah Dokter Tirta Bertaruh Nyawa Lawan Corona

Reporter : Eko Huda S
Rabu, 1 April 2020 21:11
#BeGood: Kisah Dokter Tirta Bertaruh Nyawa Lawan Corona
“Mau gue sampai sakitpun, gue enggak peduli. Negara ini butuh bantuan,” tegas dia.

Dream - Di atas ranjang, pemuda itu melakukan siaran langsung. Live di Instagram. Ditonton ribuan orang dari segala penjuru. Tak seperti yang sudah-sudah, kini tampil lebih kalem. Suara rendah. Tak lagi ngegas. Slow.

Dia memang sedang sakit. Kondisinya drop. Dirubung demam. Batuknya memburu, beberapa kali menjeda siaran langsung itu. Selang infus menjulur di tangan kanan. Masker N95 juga baru dilepas. “ Status saya adalah PDP,” kata dia.

Kondisi boleh tidak fit. Tapi lihatlah, dia masih semangat. Sakit tak membuatnya rebah total. Ranjang itu seolah jadi panggung. Dari atas kasur, dia tetap memberi tip dan edukasi. Semua soal virus corona. Covid-19 yang sedang merajalela.

Pemuda nyentrik berambut ungu itu adalah Tirta Mandira Hudhi. Pada Sabtu lalu, dia dirawat di Rumah Sakit Kartika, Pulomas, Jakarta Timur. Dia mengarantina diri. Sehari sebelumnya memang bertemu pasien Covid-19 di Wisma Atlet. Tempat itu dihuni ratusan orang yang terjangkit corona.

“ Saya mondok ya karena ada kontak dengan pasien,” kata Tirta. Karena itulah statusnya menjadi Pasien Dalam Pengawasan. Meski belum tentu positif terinfeksi Covid-19.

Orang-orang seperti Tirta memang rawan terpapar virus corona. Dia dokter. Meski tak merawat langsung pasien, dia selalu berada di garda terdepan. Pemuda 28 tahun ini menyalurkan berbagai bantuan dari donatur ke rumah sakit. Membagi pelindung petugas medis.

“ Walaupun kondisi saya semacam ini, tidak akan pernah mematahkan semangat saya melawan corona,” ujar dia.

 Dokter Tirta© Instagram @dr.tirta

Di atas ranjang itu, Tirta tidak hanya bersantai. Tak melulu tidur. Dia tetap memantau distribusi APD. Alat pelindung diri petugas medis. Perlengkapan itu dikirim untuk mereka yang merawat pasien corona. Hari itu, dia masih memasok bantuan ke sebelas rumah sakit. “ Saya masih tetap semangat mengoordinir,” ucap dia.

Tirta berharap gejala itu bukan infeksi corona. Dia menduga bronkitis kronis. Penyakit itu sudah lama bersarang di tubuhnya, sejak menjadi dokter di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Universitas Gadjah Mada.

Dokter itu memang punya riwayat sakit yang panjang. Dia terinfeksi TBC saat berusia delapan tahun, tertular teman yang batuk di depannya. Penyakit itu memang bersifat airborne. Bisa menjangkit lewat udara.

Tirta pernah menjalani pengobatan enam bulan. Tapi gagal total. Perawatan ditambah empat bulan. Penyakit itu bisa dikalahkan setelah sepuluh bulan terapi. Tapi sejak itu, dokter memvonisnya bakal sakit-sakitan.

Benar saja, setelah sembuh dari tuberculosis, dia kerap terserang penyakit pernapasan. Faringitis. Laringitis. Tonsillitis. Bronkitis. Sinusitis. Semua jadi langganan. Silih berganti, hingga lulus sekolah menengah atas.

Saat live itu, dia menduga penyakit lama itulah yang sedang mengganggunya. “ Saya berharapnya ini bukan Covid-19, ini bronkitis, karena kalau kambuh gejalanya seperti ini,” jelas Tirta.

1 dari 2 halaman

Tirta aktif melawan corona karena terpukul. Sang guru, Iwan Dwiprahasto, terinfeksi Covid-19. Profesor UGM itu masuk RSUP Sardjito pada 15 Maret 2020. “ Di situlah gue mati-matian, gue enggak mau lihat teman gue, tenaga medis, down, gue berjuang,” tulis Tirta di Twitter.

Sejak itulah, dia membeli masker dan APD. Semula pakai duit pribadi. Hingga akhirnya dipanggil BNPB untuk mengoordinir sumbangan para influencer. Dia bekerja 14 hingga 15 jam. Kadang nyaris sehari semalam. “ Capek. Tapi gue semangat. Ini sumpah gue,” cuit dia.

 Dokter Tirta© Instagram @dr.tirta

Bagi Tirta, Iwan bukan sekadar dosen. Dia kerap mendapat petuah dari guru besar itu. Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran UGM, Iwan memberinya beasiswa sebagai peneliti ke Belanda. “ Di sinilah peran Prof Iwan bagi gue,” tambah dia.

Tawaran beasiswa datang bukan tanpa alasan. Tirta bukanlah mahasiswa ecek-ecek. Prestasi pemuda ini benar-benar kinclong. Pernah menyabet gelar siswa teladan. Sejak SD, SMP, hingga SMA selalu mewakili Solo dalam olimpiade matematika.

Masuk ke Fakultas Kedokteran UGM pun seolah tak sulit. Dia bahkan diterima di Fakultas Kedokteran Undip Semarang, melalui jalur prestasi. Namun tak diambil. Dia memilih kampus di Sleman itu. “ Karena gue penasaran dengan Jogja,” tambah Tirta.

Di Kota Gudeg itulah Tirta berkembang. Tak hanya mencecap ilmu di kelas. Tak melulu tenggelam dalam tumpukan buku. Dia juga merintis bisnis. Jadi bos Shoes and Care. Meski sibuk usaha sepatu, dia bisa kelar skripsi smester enam. “ Dan lulus cumlaude,” tulis Tirta.

Prestasi mencorong membuat Tirta pantas mendapat beasiswa. Tapi menolak. Dia lebih pilih berkarier sebagai pengusaha dan mengabdi di IGD.

Tirta pun bekerja di RS UGM dan Puskesmas Turi. Nyambi mengembangkan bisnis sepatu di Shoes and Care. Tapi, dia sakit-sakitan. Penyakit bahkan datang sebulan sekali. “ Akhirnya 2018 gue kena bronkitis kronis,” cerita dia.

Dia rehat. Tak lagi menjadi dokter IGD. Sambil menekuni bisnis sepatu, dia banting setir menjadi dokter edukasi. Mengajar di UGM, sebagai dosen tamu. “ Gue bertemu lagi dengan Prof Iwan.”

 Dokter Tirta© Instagram @dr.tirta

Hubungan Tirta dan Iwan semakin dekat. Dia masih ingat betul nasihat sang profesor. Iwan menekankan bahwa dokter tak selalu berjuang di balik jas praktik. Dokter bisa berkiprah di kursi lain. Lewat jalan berbeda.

“ Di situ ide kamu akan berguna, enggak hanya buat pasien, tapi buat temanmu, tenaga medis, Tirta, berjuanglah dengan caramu sendiri,” kenang Tirta pada pesan Iwan.

Tirta juga diminta menabung. Bukan menumpuk harta. Tapi untuk menaikkan derajat tenaga medis. Membangun rumah sakit. Iwan yakin Tirta bisa mewujudkannya. “ Gue angguk. Dan gue janji ketika RS gue jadi, gue mau pamer ke beliau.”

Tapi sayang. Iwan meninggal sebelum pesan itu terwujud. Tirta belum sempat memamerkan rumah sakit. Kabar duka itu datang pada 24 Maret. Saat Tirta melayani wawancara sebuah radio di Jakarta.

“ Gue nangis ketika wawancara. Gue downMood gue berantakan saat itu. Karena beliaulah yang membuat gue seperti ini,” tulis Tirta.

2 dari 2 halaman

Kabar duka itu bukan akhir segalanya. Bukan ujung perjuangan. Tirta justru terlecut meneruskan perjuangan Iwan melawan virus corona. Dia ingin melindungi teman-teman sejawat. Semampu dia.

“ Mau gue sampai sakitpun, gue enggak peduli. Negara ini butuh bantuan,” tegas dia.

Tirta tak berlebihan. Sejak corona merebak, alat pelindung diri langka di pasaran. Masker raib. Jas hazmat pun sudah jarang. Bila pun ada, harganya selangit. Tentu kita masih ingat foto-foto viral para dokter yang hanya berpelindung plastik sampah. Mereka kekurangan APD.

Petugas medis rawan terpapar. Sebab mereka di garis paling depan melawan corona. Dokter. Perawat. Suster. Semua rentan terinfeksi. Ikatan Dokter Indonesia bahkan mencatat 12 anggotanya meninggal. Sebelas positif Covid-19, satu karena kelelahan menangani pasien corona. Jika tak ada pelindung, angka itu bukan mustahil bakal bertambah.

 Dokter Tirta© Instagram @dr.tirta

Tak hanya memasok APD ke rumah-rumah sakit. Tirta dan teman-teman membangun seribu disinfection chamber di Jakarta. Singgahlah ke Instagram @dr.tirta. Di akun itu terpajang foto-foto dan kontribusi Tirta dan relawan lain.

Tak sekadar mengoordinir. Sebelum tumbang, Tirta juga turun ke lapangan. Ke jalanan. Ke terminal. Dia turut menyemprot angkot dan bus dengan disinfektan. Sejak pagi. Hingga nyaris pagi hari berikutnya. Demi menekan penyebaran virus corona.

Mereka juga membangun rumah sakit lapangan. Tenda-tenda medis. Rumah sakit darurat di Pulomas ini jadi tempat transit. Sebagai triase untuk memilah pasien sebelum dirujuk ke rumah sakit yang ditunjuk bila dinyatakan positif Covid-19.

 Dokter Tirta© Instagram @dr.tirta

Beruntung. Tirta telah menyelesaikan karantina itu. Dia negatif Covid-19. Demam hilang. Batuk reda. Gejala itu bukan karena corona. Tapi akibat kebiasaan buruk: merokok! Dari foto yang terpajang di Instagram, terlihat udara menumpuk di paru-paru.

Tapi kini kondisinya membaik. Sudah keluar dari rumah sakit di Pulomas itu. Dia kembali melanjutkan perjuangan. Menolong petugas medis di lapangan membasmi Covid-19. “ Harus melawan corona bareng-bareng,” kata dia.

Bagi Tirta, tim medis yang berperang di garis depan harus dibekali pelindung. Cukuplah Iwan dan para dokter itu gugur. Setelah mereka, tak boleh ada lagi dokter dan tim medis yang almarhum gara-gara corona. “ Mereka pahlawan,” tutur Tirta saat live di atas kasur rumah sakit itu.

Beri Komentar