Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Masjid Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah, Shah Alam, Malaysia. (Foto: Unsplash.com)
Dream - Sedekah atau amal adalah praktik mulia yang memberikan pahala bagi kita. Betapapun kecil nilainya, jika disertai dengan niat tulus, Sang Pencipta akan memberikan kesejahteraan dan membukakan pintu rezeki bagi yang melakukannya.
Namun, masih ada juga di antara umat Muslim yang masih hitung-hitungan dan merasa berat dalam bersedekah atau beramal.
Sementara banyak yang tahu, sedekah takkan membuat harta berkurang. Sebaliknya, harta yang dipakai di jalan Allah SWT akan memperlancar rezeki kita.
Kisah yang dibagikan Mizan Dzai dari Malaysia melalui Facebook ini mampu menyentuh hati nurani kita semua. Bahwa sebagai hamba-Nya kita sering menganggap remeh amal atau sedekah berkelanjutan.
Padahal, ketika Allah sudah menguji kita dengan kesulitan, barulah kita merasa menyesal dan langsung memohon ampun kepada-Nya.
Tempo hari saya berjumpa teman lama. Dia senior saya waktu masih kuliah. Terakhir kali kami bertemu 2 tahun yang lalu.
Dalam pertemuan ini, Tuhan rupanya ingin memberikan pelajaran kepada saya melalui sahabat saya itu.
" Maaf kapan hari itu kita tidak jadi bertemu. Mobil aku rusak sampai harus turun mesin," kata teman saya membuka percakapan.
Sambil tersenyum, saya bilang tidak apa apa. Saya kemudian menanyakan kabar kendaraan yang harus turun mesin itu.
" Ada kisah di baliknya. Allah ingin memberi peringatan. Aku cerita bukan ingin pamer, tapi sebagai pelajaran saja," katanya.
Saya pun mengangguk, dan siap mendengarkan cerita sahabat saya ini. Dia memulai dengan cerita soal kebiasaannya beramal untuk masjid.
Dia bilang tak pernah berhenti beramal dengan membayar tagihan masjid secara teratur. Mulai dari air, listrik, dan tagihan lainnya.
" Setiap bulan aku tak pernah absen, bertahun-tahun. Nilainya mulai dari yang ratusan hingga ribuan ringgit. Tapi begitulah, kita ini terkadang merasa sudah pintar," katanya.
Bulan lalu, sahabat ini memberitahu pengurus masjid bahwa dia istirahat sebentar dari membayar tagihan listrik dan air masjid.
Alasannya, dalam kondisi ekonomi seperti sekarang, dia ingin menghemat dan menabung. Pengurus masjid mengatakan tidak apa-apa.
Selang beberapa hari kemudian, mobil Range Rover sahabat ini mulai mengalami masalah. Saat dibawa ke bengkel, harus turun mesin.
Biaya turun mesin total ternyata sangatlah mahal, mencapai 10 ribu ringgit atau Rp34,8 juta. Dia sanggup tapi antar mobil dua minggu kemudian.
Satu hari, saat dalam perjalanan ke Setapak, tiba-tiba temperatur mesin mobilnya naik. Tak lama kemudian mengeluarkan asap.
" Aku langsung panggil mobil derek untuk mengantarkan saya ke bengkel. Kamu tahu berapa aku harus bayar untuk perbaiki mobil? 19 ribu ringgit (Rp66,2 juta)," katanya.
Biaya ini sebenarnya wajar. Tapi karena sahabat saya ini ekonominya sedang tak bagus, maka harga sebesar itu sangat terasa memberatkan.
Saat itulah sahabat saya teringat akan sumbangan untuk masjid yang selama ini dia berikan secara teratur.
" Aku langsung teringat sumbangan masjid. Aku sudah menghemat uang tagihan untuk masjid selama 6 bulan. Tapi sekali Allah menariknya, aku harus membayar lebih dari itu," katanya.
" Kita lupa, bahwa selama ini uang untuk membayar tagihan sana sini, semuanya berasal dari Allah. Kita merasa pandai berhemat dan menabung, padahal Allah yang membagi rezeki untuk kita," tambahnya.
Tapi sahabat saya ini merasa bersyukur karena Allah hanya mengambil 19 ribu ringgit. Bayangkan apa yang akan terjadi jika dia tertimpa musibah akibat mesin mobilnya rusak?
Mungkin biayanya lebih besar. Mungkin juga dia atau keluarganya cedera. Pasti sangat buruk dampaknya.
" Allah cuma ingin menyadarkan aku. Kalau kita sudah biasa menyumbang atau melakukan satu amalan, jangan tinggalkan. Sampai mana kita mampu, lakukan. Meski kecil tidak mengapa. Yang penting jangan berhenti," katanya.
Saya langsung teringat amal yang saya lakukan. Saya kadang rajin, terkadang malas. Memang, terkadang kita akan merasa lelah melakukan amal. Merasa seperti ingin istirahat sejenak.
Tapi mendengar cerita sahabat saya ini, saya tidak mau lagi malas, apalagi istirahat sejenak, untuk beribadah dan beramal.
Sumber: Siakapkeli.my
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya