Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Belajar Di Bawah Terik Matahari (Foto: Facebook/SMK Tinggi Sarikei)
Dream - Di tengah pandemi Covid-19, para pelajar diupayakan tetap bisa menjalani aktivitas belajar. Mereka pun diminta belajar di rumah dan mengikuti kelas online atau e-learning.
Sayangnya, tidak semua pelajar memiliki fasilitas untuk mengakses internet. Alhasil, sebagian dari mereka terpaksa bekerja keras demi bisa mengikuti kelas online.
Hal inilah yang dialami seorang gadis 13 tahun asal Malaysia. Dia tinggal di tempat yang jauh dan susah sinyal.
Keterbatasan perangkat, jaringan internet yang sulit serta tempat tinggal yang jauh tak menghentikan dirinya untuk tetap belajar dan menimba ilmu melalui e-learning.
Dilansir dari World of Buzz, unggahan yang dibagikan oleh SMK Tinggi Sarikei, sebuah menengah negeri yang berlokasi di Sarikei, Sarawak, Malaysia, memperlihatkan salah seorang siswa mereka berumur 13 tahun yang dikenal dengan nama Heliyana.
Dalam unggahan tersebut, Heliyana nampak sedang berjongkok di bawah matahari. Dia terlihat sedang memegang ponsel di tangan satunya dengan buku di pangkuannya. Diketahui, dia tengah menyelesaikan ujian sekolah di bawah terik matahari.
Apa yang membuatnya harus duduk berpanas-panasan di tengah hari bolong?
Setelah diselidiki, ternyata Heliyana tinggal di rumah yang terpelosok dan jauh sehingga tidak mendapat jaringan internet. Hal ini memaksanya untuk keluar rumah untuk menyelesaikan ujian sekolahnya.
Namun, ternyata Heliyana bukan satu-satunya siswa yang menghadapi masalah ini di SMK Tinggi Sarikei.
Diketahui ada lebih dari 20 dari 850 siswa sekolah yang harus mengadopsi new normal e-learning karena masalah jaringan internet yang tidak sampai ke rumah masing-masing.
Lebih parahnya lagi, ada seorang siswa yang bahkan tidak memiliki smartphone dan hanya memiliki telepon biasa yang dapat menerima pesan dan telefon. Sehingga pihak sekolah harus mengirim kertas ujiannya dan kemudian pihak sekolah akan menerima jawabannya melalui SMS.
Menurut kepala sekolah, e-learning tidak mudah diimplementasikan di daerah pedesaan seperti di Sarikei.
“ Beberapa anak dari keluarga miskin tidak memiliki ponsel, sehingga mereka harus menggunakan ponsel orangtua mereka untuk belajar. Terkadang orang tua tidak meninggalkan ponselnya di rumah. Mereka hanya bisa mempelajari pekerjaan rumah mereka pada sore atau malam hari," jelas Kepala Sekolah yang tidak disebutkan namanya.
Namun, dengan siswa yang rajin dan pekerja keras, mereka bersedia bekerja ekstra untuk memastikan bahwa mereka terus menerima pendidikan, terlepas dari keadaan.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya