Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Keluarga Kamel Shbair (World Bulletin)
Dream - Seorang mahasiswa Palestina yang kuliah di Turki menerima pesan dari tentara Israel di ponsel miliknya bahwa rumahnya di Gaza akan dibom.
Kamel Shbair, yang sedang kuliah teknik komputer di Anadolu University, telah tinggal di Eskisehir Turki selama dua setengah tahun bersama istri dan dua anak.
Saat mendapat pesan suara itu, Shbair masih menggunakan kartu SIM Palestina.
Berbicara kepada surat kabar Radikal di Turki, Shbair menjelaskan " Ayah, ibu dan saudara saya tinggal di Gaza. Tiga belas hari yang lalu saya menerima pesan suara dari tentara Israel. Mereka mengatakan kepada kami untuk meninggalkan rumah karena mereka akan menjatuhkan bom. Saya segera menelepon ayah dan ibu."
Awalnya keluarga Shbair di Gaza tidak percaya hal seperti itu bisa terjadi. Mereka mengatakan 'tentara Israel tidak memberitahu kita apa-apa'.
" Tetapi mereka telah membom tetangga kita dua minggu sebelumnya. Enam dari mereka mati syahid," kata ayah Shbair saat itu.
Namun ayah Shbair mengatakan akan segera meninggalkan rumah mencari tempat aman. Tidak terjadi apa-apa pada hari pertama dan kedua setelah pesan suara itu diterima.
Namun pada hari ketiga, Israel membom rumah keluarga Shbair. Saat itu dia mendapat kabar ayahnya sedang pergi ke sekolah PBB dengan saudaranya.
" Ketika saya mendengar rumah keluarga saya dibom, saya sangat marah. Saya menangis. Saya tidak bisa menjelaskannya kepada anak-anak saya ketika mereka bertanya apa yang telah terjadi," kata Shbair.
" Bagaimana mungkin menjelaskannya, mereka masih sangat muda. Saya ingin berbicara dengan keluarga saya, tetapi saya tidak bisa menghubungi mereka" .
Namun akhirnya dia bisa menghubungi keluarganya di Gaza dan mendapat kabar bahwa mereka semua selamat meski rumahnya hancur dibom Israel.
Dua hari setelah menerima pesan itu, ponsel Shbair dicuri. " Jika saja tidak menerima pesan suara itu, kemungkinannya pasti buruk," kata Shbair.
Dalam sebulan, hampir 2.000 warga Palestina tewas akibat serangan pasukan Israel. Sebagian besar korban tewas adalah warga sipil. Sekitar seperempat dari korban tewas telah diidentifikasi sebagai anak-anak.
(Sumber: World Bulletin)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya