Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Syekh Ali Jaber & Ridwan Kamil (Foto: Instagram Live)
Dream - Keputusan Syekh Ali Jaber menyelamatkan pelaku penusukan dari amukan massa menuai pujian dari masyarakat. Seperti diketahui ulama kelahiran Madinah, Arab Saudi itu mengalami musibah penusukan saat berceramah di Masjid Falahuddin, Jalan Tamin, Sukajawa, Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung, Minggu 13 September 2020 lalu.
Kisah di balik aksi kemanusian Syekh Ali Jaber itu diceritakan ulang kepada Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang mengundangnya dalam live Instagram yang tayang Selasa, 22 September 2020 semalam.
Pria yang telah menjalani dunia dakwah selama 12 tahun di Indonesia itu mengatakan, tindakannya itu semata dilakukan karena harapannya ikut meniru sifat-sifat Rasullah. Ketika dizhalimi, lanjut Syekh Ali, Rasululllah menynotohkan tidak membalas dengan tindakan serupa.
" Saya mau tiru akhlak Nabi Muhammad SAW. Rasulullah tidak pernah mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri. Beliau mendahulukan (menjadi) pemaaf," ujar Syekh Ali dalam Live Instagram bersama Ridwan Kamil, Selasa 22 September 2020.
Syekh Ali dalam Instagram Live tersebut mengatakan, ketika peristiwa penusukan itu terjadi, ia tak melihat adanya penghinaan untuk agama ataupun Al Quran. Ia melihat tindakan pelaku hanya murni penusukan dirinya.
" Saya tidak mau marah. Kalau saya marah, saya tidak mengikuti akhlah Nabi," jelasnya.
Syekh Ali melanjutkan, dirinya bisa saja menyuruh jemaahnya menyerang pelaku atau membiarkannya diamuk masa. namun, jika hal itu dilakukannya Syekh Ali menganggap dirinya ikut melakukan kezaliman kepada penusuknya.
Islam membolehkan seseorang yang dizalimi membalas. Namun, Syekh Ali mengatakan, belum tentu ketika ia membalas, balasannya akan setara dengan apa yang ia dapat.
" Bisa tidak dipastikan kalau balasannya tidak melebihi apa yang menimpa kita. Maka lebih baik saya diposisi dizalimi daripada menzalimi," ujarnya.
Syekh Ali menekankan, saat mengamalkan sifat Rasulullah, bukan berarti seseorang menjadi lemah. Dengan kekuatan yang dimiliki, Rasulullah bisa saja membalas orang yang jahat padanya, tetapi beliau memilih memaafkan.
" Bukti kemuliaan akhlak seseorang adalah ketika dia diuji," kata Syekh Ali.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya