Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Umar Patek (Foto: Merdeka.com)
Dream - Rentetan teror bom terjadi di Tanah Air dalam beberapa bulan terakhir. Akibat doktrin sesat, para pelaku rela mengorbankan nyawa dengan melakukan aksi bom bunuh diri yang menewaskan masyarakat yang tak bersalah.
Sejak Bom Bali, Indonesia belum sepenuhnya bersih dari aksi teroris. Meski otak pembunuhan aksi terorisme besar banyak yang sudah dilumpuhkan, namun jaringan mereka tetap hidup. Bersembunyi dan menyamar sebagai orag biasa untuk suatu ketika melakukan aksi yang merugikan banyak pihak itu.
Kepolisian dan penegak hukum juga terus berupaya menumpang jaringan teroris ini. Densus 88 Antiteror telah bergerak menangkap sejumlah pelaku tero dan mengikutsertakan pelaku dalam berbagai program untuk menyadarkan pemahanan dan tindakan keliru mereka.
Tercatat sejumlah mantan teroris bisa kembali ke jalan yang lulus setelah menjalani program tersebut. Mereka menyadari kesalahan di masa lalu dan kini menjalai kehidupan yang sama sekali berbeda.
Siapa saja mantan teroris yang telah insyah dan kini mengabdi untuk membantu masyarakat? Dilansir dari Merdeka.com, Rabu 7 April 2021, berikut sosok para mantan teroris dn alasan mereka hijrah ke jalan yang lurus.
Sosok umar Patek menjadi teroris yang paling dicari pada zamannya. Dalam peristiwa Bom Bali I, Umar berperan sebagai peracik dan perangkai bom, memantau kondisi lapangan, menggambar denah lokasi, serta mencocokkan waktu dan tempat.

Umar atau yang memiliki nama aslias Hisyam bin Alizein kini telah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Bahkan, ia sempat menjadi petugas pengibar bendera Merah Putih dalam upacara perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-72 di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas 1 Surabaya, Porong, Sidoarjo.
Dengan pilihan hidupnya saat ini, Umar merasa bangga mendapat kepercayaan dari pihak Lapas menjadi petugas pengibar bendera.
" Saya tidak ditunjuk, tapi mengajukan diri. Alhamdulillah saya bersyukur untuk tetap dipercaya kembali menjadi pembawa bendera. Dan ini sudah keempat kalinya bagi saya menjadi pengibar bendera," ungkapnya dalam keterangan tertulis.
Joko Trihermanto atau kerap disapa Jack, merupakan seorang spesialis perakit dan spesialis timer bom.

Setelah berhasil ditangkap dan mendekap dibalik jeruji besi, ia melanjutkan hidup, melupakan masa lalunya, dan membuka usaha warung soto yang dinamakan 'Bang Jack'.
" Dulu saya memang ahli meracik bom hasil belajar langsung dari Dokter Azahari. Eh ternyata keahlian saya meracik itu bisa saya pakai juga untuk meracik soto. Kata pengunjung yang beli sih enak,” kata Jack setengah bercanda mengutip dari kanal YouTube Ganjar Pranowo.
Nama yang muncul selanjutnya yakni Sri Puji Siswanto. Ia merupakan mantan napi terorisme yang bertugas menyembunyikan teroris kelas kakap Noordin M Top asal Malaysia dan Dr Azhari serta Abu Tholut.
Kini, dirinya sudah 'move on' dan kembali ke masyarakat.

Dulu sempat menjadi perakit bom, kini Sri Puji Siwanto diketahui memiliki usaha lele di Genuk, Kota Semarang.
" Ini contoh yang bagus, bagaimana eks napiter bisa kembali diterima di tengah-tengah masyarakat," tulis Ganjar Pranowo dalam caption unggahan.
Ali Imron merupakan terpidana hukuman seumur hidup kasus Bom Bali 2002. Namun ia mengajukan permintaan khusus untuk dilibatkan dalam program pemerintah guna menyadarkan para teroris di sisa hidupnya.

Ia kemudian dihadirkan dalam kajian Ramadan 'Peran Islam untuk Perdamaian Indonesia' di Wahid Institut Jakarta. Ali pun juga mengimbau kepada kaum muda untuk tak terlibat kegiatan yang mengarah pada ekstremisme.
Dijelaskannya bahwa membandingkan istilah NKRI harga mati dengan Negara Islam harga mati harus dengan cara damai dan tak harus kudeta pada negara.
Sumber: merdeka.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya