Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
(nypost.com)
Dream - Seorang pakar geofisika Amerika memperkirakan Bumi akan mengalami kepunahan massal yang akan menyapu bersih umat manusia pada tahun 2100.
Di penghujung abad itu, lautan akan mengalami pencemaran karbon yang sangat parah. Akibatnya Bumi menghadapi bencana besar yang akan menghancurkan seluruh isinya.
Menurut Profesor Daniel Rothman dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), dalam 540 juta tahun terakhir, Bumi sebenarnya telah mengalami lima kepunahan massal tersebut. Salah satunya periodenya adalah saat dinosaurus hilang dari muka bumi.

Yang terburuk terjadi 252 juta tahun yang lalu yang dikenal sebagai Great Dying. Bencana tersebut membunuh lebih dari 95 persen kehidupan biota laut saat lautan tiba-tiba menjadi lebih asam.
Dan sekarang ini, kata Profesor Daniel, umat manusia tengah bersiap menghadapi fenomena yang sama. Namun kali ini penyebabnya adalah pemanasan global yang dibuat oleh umat manusia sendiri.
© Dream
Kesimpulan yang diambil Profesor Daniel itu berdasarkan pada rumus matematika. Menggunakan rumus matematika itu, Profesor Daniel memperkirakan bahwa lautan akan segera tercemar oleh karbon sehingga kepunahan massal tak terelakkan.
Menurut perhitungan Profesor Daniel, normalnya lautan hanya mampu menampung karbon seberat 310 gigaton. Ini adalah batas standar ideal yang ditetapkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change.
Namun pada tahun 2100 nanti, kandungan karbon di lautan Bumi mencapai lebih dari 500 gigaton.
Meskipun kepunahan massal tidak terjadi seketika begitu pergantian abad ini terjadi, namun Bumi mungkin telah menjadi wilayah baru yang tak dikenal.
© Dream
Menurut Profesor Daniel, kepunahan massal itu akan membutuhkan waktu -- mungkin sekitar 1.000 tahun.
" Saya tidak bicara bahwa kepunahan massal itu terjadi keesokan harinya. Tapi ini tentang karbon yang menjadi sangat tidak stabil sehingga memicu kondisi yang mungkin sulit diprediksi," kata Profesor Daniel.
" Di masa lalu, tanda-tanda tersebut dikaitkan dengan kepunahan massal," tambahnya.
Di era modern, emisi karbon telah meningkat secara berkelanjutan sejak abad ke-19. Namun apakah pencemaran karbon ini dapat menyebabkan kepunahan massal masih menjadi perdebatan.
© Dream
Umat manusia telah menghasilkan 1.540 miliar ton karbon sejak Revolusi Industri dimulai. Angka itu setara dengan membakar batu bara yang tingginya sama dengan menara seluas 21,9 meter persegi, yang membentang 386.242 kilometer dari Bumi ke Bulan.
Setengah dari emisi karbon itu terperangkap di atmosfer. Hal itu menyebabkan naiknya lapisan karbon 10 kali lebih cepat daripada kenaikan alami yang pernah diketahui, selama sejarah panjang Bumi.
Sementara sebagian besar sisanya masuk ke dalam lautan yang menyebabkan air laut menjadi asam atau mengalami oksidasi.
Oksidasi lautan oleh karbon inilah yang oleh Profesor Daniel diperkirakan bisa memusnahkan umat manusia di awal abad 22.
(nypost.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya