Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Bagi seorang wanita proses persalinan adalah perjuangan yang sangat berat. Bahkan banyak yang menganggap tahap melahirkan ini sebagai pertaruhan antara hidup dan mati.
Pengalaman menyedihkan inilah yang dialami seorang mamah muda asal Rusia, Alisa Tepikina, yang baru saja melahirkan buah hati tercintanya.
Wanita yang berusia 22 tahun itu meregang nyawa ketika dokter yang membantu persalinannya melakukan kesalahan fatal.
Alih-alih plasenta, dokter itu memotong rahim Alisa yang mengalami inversi hingga putus.
Setelah rahimnya ditarik keluar, Alisa mengalami koma dan 'mati syok' karena serangan jantung.
Akibat perbuatannya, dokter wanita tersebut menghadapi pemeriksaan intensif selama enam bulan.
Dia didakwa telah melakukan kelalaian hingga mengakibatkan seorang pasien meninggal dunia.
Jika terbukti bersalah, dokter berusia 27 tahun itu akan menghadapi hukuman penjara tiga tahun.
Sebagai pembelaan atas tuduhan itu, dokter kepala mengatakan tidak ada kekerasan yang dilakukan oleh dokter tersebut.
Dokter kepala menambahkan insiden tersebut dipicu oleh adanya inversi rahim yang terjadi secara spontan.
Kejadian inversi rahim setelah persalinan sangat jarang terjadi dalam dunia kedokteran. Gejalanya meliputi perdarahan postpartum, sakit perut, Miss V terasa penuh, dan tekanan darah yang rendah.
Namun pendapat tersebut dimentahkan oleh para saksi ahli setelah mereka melakukan kajian yang mendalam tentang kasus itu.
Dalam kasus Alisa, plasenta seharusnya telah dilepas secara manual oleh dokter setelah memberikan obat bius.
" Tetapi penarikan plasenta yang tidak terkontrol atau tidak tepat menyebabkan inversi rahim secara penuh," kata para pakar medis.
Selain itu, dokter juga terlambat memasukkan kembali rahim yang putus tersebut ke dalam tempatnya.
Menurut penjelasan pakar medis, dokter baru memasukkan dan membetulkan posisi rahim Alisa setelah berada di luar selama empat jam setengah.
Saat itu Alisa sudah mengalami pendarahan hebat dan syok yang tidak tertahankan sehingga menyebabkan jantungnya berhenti bekerja.

" Kesalahan dokter wanita tersebut memperburuk keadaan hingga menyebabkan pasien meninggal karena serangan jantung," kata pakar medis.
Saat ini bayi perempuan lucu yang dilahirkan Alisa diasuh oleh kakek dan neneknya.
(Sah, Sumber: World of Buzz)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya