Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Yin Lu Mengangkat Kotoran Seberat 12,7 Kilogram Dari Perut Pria Itu (Foto: Viral4Real)
Dream - Dokter di China mengangkat usus sepanjang 72 sentimeter milik seorang pasien pria. Dalam usus tersebut terdapat kotoran seberat 12,7 kilogram, yang tak dapat dikeluarkan.
Dokter di Rumah Sakit Umum Shanghai, Yin Lu, mengatakan, pasien itu menderita konstipasi parah selama bertahun-tahun. Konstipasi adalah kondisi sulit buang air besar secara teratur atau tidak bisa sama sekali.
Menurut laporan laman Viral4Real, perut pria yang tak disebutkan namanya itu membuncit dan terlihat seperti hamil. Usai melihat kondisi pasiennya, Yin Lu mengatakan, " Sepertinya itu bisa meledak kapan saja."
Menurut Yin Lu, penyakit yang diderita pria itu disebut Hirshsprung (HD). Praktis, dia menghabiskan masa mudanya dengan obat pencahar.
Proses operasi yang dijalankan para dokter menghabiskan waktu sekitar tiga jam. Saat ini kondisi pasien itu telah stabil. Yin Lu berharap pria itu dapat segera pulih total.
© Dream
Dream - Kehadiran buku digital disebut mempermudah orang untuk membiasakan membaca. Meski tidak dapat dipungkiri jika tidak sedikit orang yang lebih memilih membaca buku fisik dibandingkan buku digital.
Keduanya memang memberikan kelebihan masing-masing dengan tujuan untuk membuka jendela pengetahuan sang pembaca. Mengutip Womenshealth, ternyata membaca buku menyimpan kebaikan untuk kesehatan.
Tidur Lebih Lelap
Sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh National Sleep Foundation pada orang berusia 13 - 64 tahun, sekitar 43 persen merasa tidak pernah tidur nyenyak di malam hari. Hal tersebut tidak terlepas dari kebiasaan satu jam jelang tidur yang digunakan untuk mengakses perangkat berbasis teknologi yang memancarkan cahaya yang membuat otak tetap terjaga.
Berbeda dengan orang yang memiliki kebiasaan membaca yang ada saatnya membuat otak merasa lelah hingga membutuhkan waktu istirahat. Mereka yang memiliki kebiasaan membaca di pagi, siang atau sore hari diketahui tidur lebih lelap dan berkualitas di malam hari.
Menurunkan Stres
Penelitian yang dilakukan oleh Mindlab International di University of Sussex menemukan aktivitas membaca membuat otak bekerja lebih keras dan cepat dibandingkan aktivitas lainnya. Sekitar 68 persen peserta yang membaca hanya dalam waktu enam menit diketahui mengalami penurunan stres.
Lebih Kreatif
Bagi anda yang dituntut untuk selalu menghasilkan karya-karya kreatif, maka membaca adalah kuncinya. Selain dilatih untuk berpikir kritis dalam menarik benang merah dari sebuah buku, otak mendapatkan stumulus untuk menghasilkan karya dan inovasi baru.
© Dream
Dream - Apa yang terlintas di pikiran kamu ketika ditanya jenis alas kaki yang berbahaya untuk kesehatan? Sebagian besar pasti akan langsung membayangkan sepatu berhak tinggi sebagai hal pertama yang dipikirkan.
Jawaban itu tak sepenuhnya tepat. Nyatanya, bukan hanya high heels yang tidak baik untuk kesehatan.
Dilansir MarieClaire, 14 November 2016, ada beberapa jenis sepatu yang bisa menimbulkan masalah kesehatan. Bahkan tak disangka, ada jenis alas yang selama ini dikenal karena kenyamanannya ternyata bisa membahayakan. Kok bisa?
Sepatu balet
Sama halnya dengan sepatu berhak tinggi, sepatu balet juga memberikan tumpuan ekstra pada satu titik saja. Terlebih bagi kamu yang tidak memiliki lengkungan di bagian kaki, sepatu ini bisa membuat risiko masalah tulang dan tumor saraf.
Selop
Biasanya jenis sepatu ini digunakan oleh seorang penyedia jasa di sebuah pusat perbelanjaanya. Jenis sepatu ini juga berbahaya karena tidak memiliki penunjang pergelangan kaki yang cukup, sehingga membuat kaki tidak bergerak dengan normal.
Sendal jepit
Meski nyaman, keseringan menggunakan sendal jepit bisa menyebabkan risikon terkena masalah hammer toe. Keadaan ini membuat kaki yang fleksibel akan menjadi kaku bila dalam keadaan ditekuk.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya