Es Abadi Puncak Jayawijaya Habis Pada 2025?

Reporter : Maulana Kautsar
Senin, 12 Juni 2017 06:02
Es Abadi Puncak Jayawijaya Habis Pada 2025?
Pemanasan global menjadi pemicu menurunnya ketebalan es di Puncak Jayawijaya.

Dream - Es abadi di puncak Jayawijaya, Papua, diprediksi akan habis meleleh pada 2020 hingga 2025. Prediksi itu muncul dari penelitian yang dibuat Tim Puslitbang Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Donaldi Permana, salah seorang peneliti Tim Puslitbang BMKG menjelaskan, asumsi perhitungan habisnya es abadi di puncak Jayawijaya pada rentang 2020 hingga 2025 didapat dari terus menurunnya es Puncak Jayawijaya tiap tahun. Mencairnya es di Puncak Jayawijaya karena efek dari pemanasan global.

" Perhitungan 2020 (es habis) itu kalau ditarik garis lurus. Misalnya, tahun sekian luasnya sekian. Nilai-nilai itu kalau dibuat garis itu menunjukkan diantara 2020 hingga 2025," kata Donaldi kepada Dream, Jumat, 9 Juni 2017.

Dalam penelitian yang digelar sejak Mei 2010, tim BMKG menggali lapisan es puncak Jayawijaya hingga ke dasar. Saat itu tim BMKG, meletakkan pipa paralon tertancap sedalam 32 meter.

" Saat diukur bulan Mei dan November 2016, es yang berkurang memang sudah drastis, ya. Kira-kira sudah berkurang 10 meter," ujar dia.

Berkuranganya ketebalan es di puncak Jayawijaya terparah terjadi pada rentang 2015-2016. Kondisi ini dikarenakan adanya badai El Nino yang mempengaruhi iklim global.

Meski begitu, Donaldi belum dapat secara resmi memastikan asumsi tersebut. Sebab, saat ini, tim BMKG sedang merampungkan publikasi ilmiah mengenai fenomena menurunnya ketebalan es di Puncak Jayawijaya itu.

" Itu belum dipublish secara formal. Sebab tim BMG dan tim peneliti Ohio State (University) sedang membuat publikasi ilmiahnya. Kami menunggu itu di-publish. Mudah-mudahan tahun ini," kata dia.

Melihat kondisi seperti itu, Kapuslitbang BMKG Urip Haryoko berharap memasang alat pemantau di puncak Jayawijaya. Selain itu, dia menghimbau masyarakat untuk menjaga kondisi lingkungan dengan mengurangi emisi karbon.

" Penggunaan bahan bakar ramah lingkungan dan pembakaran hutan harus dikurangi. Sebab, secara tidak langsung, pembakaran hutan melepas CO2 yang mengganggu ozon," ucap Urip.(Sah)

Beri Komentar
Wajah Tegar BCL Saat Antarkan Jenazah Ashraf Sinclair