Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Cartenz Pyramid Atau Puncak Jaya Terlihat Tak Memiliki Es (Foto: Shutterstock)
Dream - Es abadi di puncak Jayawijaya, Papua, diprediksi akan habis meleleh pada 2020 hingga 2025. Prediksi itu muncul dari penelitian yang dibuat Tim Puslitbang Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
Donaldi Permana, salah seorang peneliti Tim Puslitbang BMKG menjelaskan, asumsi perhitungan habisnya es abadi di puncak Jayawijaya pada rentang 2020 hingga 2025 didapat dari terus menurunnya es Puncak Jayawijaya tiap tahun. Mencairnya es di Puncak Jayawijaya karena efek dari pemanasan global.
" Perhitungan 2020 (es habis) itu kalau ditarik garis lurus. Misalnya, tahun sekian luasnya sekian. Nilai-nilai itu kalau dibuat garis itu menunjukkan diantara 2020 hingga 2025," kata Donaldi kepada Dream, Jumat, 9 Juni 2017.
Dalam penelitian yang digelar sejak Mei 2010, tim BMKG menggali lapisan es puncak Jayawijaya hingga ke dasar. Saat itu tim BMKG, meletakkan pipa paralon tertancap sedalam 32 meter.
" Saat diukur bulan Mei dan November 2016, es yang berkurang memang sudah drastis, ya. Kira-kira sudah berkurang 10 meter," ujar dia.
Berkuranganya ketebalan es di puncak Jayawijaya terparah terjadi pada rentang 2015-2016. Kondisi ini dikarenakan adanya badai El Nino yang mempengaruhi iklim global.
Meski begitu, Donaldi belum dapat secara resmi memastikan asumsi tersebut. Sebab, saat ini, tim BMKG sedang merampungkan publikasi ilmiah mengenai fenomena menurunnya ketebalan es di Puncak Jayawijaya itu.
" Itu belum dipublish secara formal. Sebab tim BMG dan tim peneliti Ohio State (University) sedang membuat publikasi ilmiahnya. Kami menunggu itu di-publish. Mudah-mudahan tahun ini," kata dia.
Melihat kondisi seperti itu, Kapuslitbang BMKG Urip Haryoko berharap memasang alat pemantau di puncak Jayawijaya. Selain itu, dia menghimbau masyarakat untuk menjaga kondisi lingkungan dengan mengurangi emisi karbon.
" Penggunaan bahan bakar ramah lingkungan dan pembakaran hutan harus dikurangi. Sebab, secara tidak langsung, pembakaran hutan melepas CO2 yang mengganggu ozon," ucap Urip.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya