Enam Kolaborasi Riset RI-Inggris Berburu Newton Prize 2019

Reporter : Maulana Kautsar
Selasa, 14 Januari 2020 13:02
Enam Kolaborasi Riset RI-Inggris Berburu Newton Prize 2019
Dana kolaborasi riset ini meningkatkan semangat ilmuwan Indonesia.

Dream - Enam kolaborasi riset dari ilmuwan Indonesia-Inggris masuk dalam anugerah Newton Prize 2019.

Finalis Newton Prize Indonesia-Inggris mencakup penelitian tentang perlindungan komunitas daerah pesisir dari dampak perubahan iklim, infrastuktur jembatan yang berkelanjutan, upaya pencegahan penyakit menular, isu relokasi dan pemberdayaan perempuan, serta perlindungan kawasan pesisir dan mitigasi perubahan iklim.

Dana yang akan diberikan untuk kegiatan riset dan inovasi terbaik ini mencapai 200 ribu poundsterling (setara Rp3,5 miliar) di tiga negara, China, Filipina, dan Indonesia. 

Dana Newton Prize akan membantu kelanjutan kolaborasi riset internasional yang berkontribusi penting dalam pengentasan isu global.

Selain penghargaan riset, penghargaan tambahan Chair's Award juga akan diberikan. Dana sebesar 500 ribu poundsterling, setara Rp9 miliar, akan diberikan untuk kegiatan riset yang menonjolkan kemitraan yang solid dan efektif dan menjembatani pertukaran ilmu pengetahun. Penghargaan ini akan diumumkan di London pada 12 Februari 2020.

UK Minister for Asia and the Pacific, Heather Wheeler, mengatakan, dana penelitian ini telah mengubah kerja sama penelitian Indonesia dan Inggris.

" Jumlah peneliti Inggris dan Indonesia yang bekerjasama bertambah baik dalam bidang kesehatan, energi, keanekaragaman hayati maupun pembangunan keberlanjutan yang mendorong perubahan positif dalam kehidupan mayoritas masyarakat di Indonesia," kata Wheeler.

1 dari 5 halaman

Jumlah Periset Naik

Menteri Riset dan Teknologi Republik Indonesia / Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro, mengatakan, melalui Newton Fund jumlah riset dan inovasi antara Indonesia dan Inggris selama lima tahun terakhir meningkat pesat.

Sebanyak 15 program kolaborasi riset dan inovasi telah dijalankan dan 22 penerimaan proposal penelitian telah diluncurkan.  

" Lebih dari 200 peneliti dan pegiat iptek yang tergabung dalam 100 institusi penelitian dan pendidikan tinggi di Inggris dan Indonesia, mendapatkan keuntungan dari kemitraan yang didanai oleh Newton Fund tersebut," kata Bambang.

Program itu ditujukan untuk mendukung inisiasi pembentukan kolaborasi riset dan inovasi baru serta program tematik.

Untuk tema kebencanaan, terdapat penelitian mengenai dampak bahaya hidrometeorologis, seperti banjir, kekeringan, tanah longsor dan gelombang badai.

Tema yang terkait dengan keanekaragaman hayati mencakup eksplorasi dan pengembangan pengetahuan ekosistem kawasan Wallacea dan tema yang terkait dengan bidang kesehatan seperti riset penyakit menular.

" Saya berharap kolaborasi riset dan inovasi antara Inggris dan Indonesia akan terus meningkat, dan mengarah pada pemanfaatan kebutuhan masyarakat dan peningkatan substitusi impor,” ucap dia.

Pemenang Newton Prize Inggris-Indonesia akan diumumkan pada acara Newton Prize di Jakarta pada Selasa 14 Januari.

Peneliti Inggris dan Indonesia yang memenangkan Newton Prize 2019 akan menghadiri acara yang diselenggarakan Departemen BEIS di London pada Rabu 12 Februari, di mana proyek pemenang Chair Prize akan diumumkan.

2 dari 5 halaman

Riset Rp10 M, ADB Bantu RI Bedah Risiko Teknologi `Kekinian`

Dream – Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) menyetujui kucuran dana US$750 ribu, sekitar Rp10,2 miliar (Kurs Rp13.5660/US$) kepada Indonesia. Dana ini merupakan bentuk dukungan teknis ADB untuk mempelajari dampak teknologi disruptif terhadap prospek pembangunan di Indonesia.

“ Dukungan teknis ADB akan membantu memetakan dampak teknologi disruptif terhadap ekonomi Indonesia, baik secara agregat maupun di tingkat sektoral,” kata Kepala Kantor Perwakilan ADB di Indonesia, Winfried Wicklein, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Dream, Selasa 12 Desember 2017.

Wicklein mengatakan Indonesia adalah satu negara dengan tingkat pertumbuhan pengguna internet tercepat di dunia. Potensi manfaat ekonomi digital bagi Indonesia diprediksi cukup besar. Berbagai indikator seperti lalu lintas internet, pendapatan dari layanan komputasi awan dan sistem terkait (Internet of Things) tumbuh pesat.

Dia mengatakan aplikasi pemesanan transportasi online seperti Grab dan Go-Jek tak hanya menciptakan pekerjaan, tetapi juga memberikan penghasilan dan fasilitas lain seperti asuransi kesehatan dan akses pada perbankan yang lebih baik, jika dibandingkan dengan penyedia layanan tradisional.

Namun, teknologi disruptif juga membawa sejumlah risiko bagi Indonesia dalam bentuk berkurangnya pekerjaan di sektor tertentu dan potensi naiknya ketimpangan.

“ Bantuan teknis ini akan mendukung upaya pemerintah memanfaatkan keuntungan teknologi tersebut, sembari mengelola risikonya,” kata Wicklein.

Sekadar informasi, pemerintah telah mengembangkan “ 2020 Go Digital Vision” yang bertekad menjadikan Indonesia perekonomian digital terbesar di ASEAN pada 2020. Kebijakan ekonomi ke-14 yang diluncurkan tahun lalu mencakup peta jalan komprehensif untuk mendorong e-commerce. Pemerintah juga menyiapkan berbagai tolok ukur dan program untuk mendorong teknologi finansial (fintech) dan teknologi lainnya sebagai bagian dari upayanya menekan kemiskinan dan kesejangan. 

“ Indonesia berada di persimpangan perubahan teknologi global,” kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Suahasil Nazara.

Suahasil mengatakan pemahaman yang lebih baik terhadap topik yang berkembang cepat sangatlah penting. Tujuannya agar kebijakan dan investasi pendukung yang tepat dapat diambil.

(Sah)

 

3 dari 5 halaman

Survei: Bahasa Inggris Masyarakat Indonesia Jeblok, Peringkat 61 dari 100 Negara

Dream - Hasil penelitian EF Education First menunjukkan kemahiran berbahasa Inggris orang dewasa di Indonesia berada di bawah rata-rata negara-negara Asia. Kemampuan masyarakat Indonesia bahkan hanya berada di peringkat 61 dari 100 negara yang disurvei.

Laporan penelitian bertajuk EF English Proficiency Index (EF EPI) edisi ke-9/2019, yang disusun berdasarkan analisa data hasil tes bahasa Inggris secara online terhadap 2,3 juta peserta, itu menunjukkan skor Indonesia hanya 50,06. Angka ini sedikit turun bila dibandingkan dengan tahun lalu, yang sebesar 51.58.

Perolehan skor Indonesia berada di bawah nilai rata-rata kecakapan bahasa Inggris kawasan Asia, dengan skor 53.00, atau peringkat ke-5 di bawah negara ASEAN lainnya, seperti Singapura (66.82), Filipina (60.04), Malaysia (58.55), dan Vietnam (51.57).

Meski demikian, kemampuan skor berbahasa Inggris di sejumlah wilayah di Indonesia semakin meningkat. Peningkatan tertinggi di tahun 2019 yaitu di kota Yogyakarta dan Bandung.

Atas pencapaian ini, EF Education First akan menganugerahi predikat Best Region dan Most Improved Region kepada provinsi Yogyakarta dan Best City kepada kota Bandung melalui penghargaan EF EPI Best Awards 2019.

4 dari 5 halaman

Metode Riset

Executive Director of Academic Affairs & Partnership EF Education First, Dr. Minh Tran, mengatakan, kemampuan berbahasa Inggris memberi peluang untuk memperlebar jaringan, memahami suatu ide, dan studi kasus tertentu.

“ Selain itu, kemampuan ini juga memungkinkan setiap orang untuk mengejar peluang karir lainnya sesuai dengan perubahan yang terjadi dalam perekonomian atau kehidupan individu itu sendiri,” kata Minh, Rabu 11 Desember 2019.

Kajian yang dikembangkan EF EPI ini mengukur tingkat kemahiran berbahasa Inggris orang dewasa dari 100 negara dan wilayah di dunia.

Laporan ini disusun berdasarkan analisa data dari hasil tes bahasa Inggris yang dilakukan oleh 2,3 juta peserta yang berpartisipasi melalui tes online EF Standard English Test (EFSET), tes bahasa Inggris adaptif yang didesain oleh para ahli untuk mengetahui kemampuan bahasa Inggris sebagaimana tes-tes lainnya seperti TOEIC, TOEFL atau IELTS.

5 dari 5 halaman

Empat Negara di Benua Eropa

Semua konten tes pada EFSET telah diuji sebelumnya pada ratusan ribu pelajar internasional selama bertahun-tahun, di semua tingkat Common European Framework of Reference for Languages (CEFR), panduan yang digunakan untuk menjelaskan pencapaian pelajar bahasa asing yang dikembangkan, disetujui oleh Dewan Eropa dan diakui sebagai standar internasional.

Secara keseluruhan, riset EF EPI menyimpulkan rerata skor kecakapan bahasa Inggris di seluruh dunia bergerak stabil. Empat negara di benua Eropa, Belanda, Swedia, Norwegia, Denmark, menjadi yang teratas, disusul Singapura, Afrika Selatan, Finlandia, Austria, Luksemburg, dan Jerman.

“ Secara umum, jumlah peserta yang mengikuti EF Standard English Test (EFSET) tahun ini naik 77 persen dibandingkan tahun lalu, ada delapan negara partisipan baru yakni Bahrain, Pantai Gading, Kenya, Kirgizstan, Maladewa, Nepal, Paraguay, dan Sudan, serta hubungan antara kecakapan bahasa Inggris, keterlibatan internasional dan konektivitas global,” kata Minh.

Beri Komentar
Wajah Tegar BCL Saat Antarkan Jenazah Ashraf Sinclair