Fakta Kota Terhoror, Jenazah Pasien Covid-19 Bergeletakan di Jalan

Reporter : Syahidah Izzata Sabiila
Selasa, 7 April 2020 07:00
Fakta Kota Terhoror, Jenazah Pasien Covid-19 Bergeletakan di Jalan
Kota Guayaquil tampak lebih mencekam akibat penyebaran virus corona covid-19. Berikut fakta terkait kota Guayaquil, yang membiarkan mayat korban bergelimpangan di jalan.

Dream – Suasana di kota Guayaquil, Equador saat ini terlihat mencekam daripada hari biasanya.

Kota ini didera wabah virus Corona yang dahsyat dan menewaskan banyak korban. Bahkan beberapa mayat dibiarkan tergeletak di jalanan tak terurus.

Kota Guayaquil menjadi saksi betapa menyeramkannya suasana di kota itu. Masyarakat tampak ketakutan.

Banyak mayat di jalanan yang hanya terbungkus plastik terpal, bengkak, dan sudah dilalati.

Berikut Fakta kota Guayaquil, yang membiarkan mayat korban virus corona Covid-19 tak terurus di jalanan kota: 

1 dari 6 halaman

Kasus Covid-19 Tertinggi di Ekuador

Ilustrasi© Pexels.com

Kota Guayaquil adalah kota terbesar di Ekuador. Kota ini merupakan pusat industri perikanan dan manufaktur di negara Ekuador, Amerika Latin.

Ekuador mengkonfirmasi kasus pertama corona Covid-19 pada 29 Februari lalu. Kasus pertamanya adalah seorang wanita Ekuador berusia 71 tahun yang kembali ke Guayaquil dari Spanyol pada Hari Valentine.

Sejak itu, penyebaran virus Corona Covid-19 di Guayaquil semakin meningkat dan melonjak lebih dari 2.200 kasus.

Bahkan kasus Corona di kota ini mencapai sekitar 70 persen dari total Ekuador, jauh melebihi jumlah kasus di Quito, ibukota Ekuador.

2 dari 6 halaman

Kondisi Mayat Bergeletak di Jalan

Update 5 April, 198 Orang Indonesia Meninggal Dunia Akibat Covid-19© MEN

“ Tubuh itu terbungkus plastik terpal, bengkak, dan sudah dihinggapi lalat. Mayat itu adalah tetanggaku” ungkap Rosangelys Valdiviezo, seorang migran Venezuela melaporkan kondisi di wilayah kota Guayaquil.

“ Sekarang mayat itu berbaring di depan rumahnya, mayat itu hanyalah salah satu dari jumlah mayat yang bergeletakan di jalan-jalan Guayaquil.”

Valdiviezo, merupakan seorang pekerja makanan laut berusia 30 tahun. Dia mengatakan mayat tersebut telah di luar selama enam hari.

3 dari 6 halaman

Video Viral

Menangis Wanita Menangis by Shutterstock© (Foto: Shutterstock)

Dalam sebuah video viral, seorang wanita bernama Gabriela Orellana menangis dan memohon kepada Presiden Ekuador Lenín Moreno untuk mengurus mayat suaminya dari rumah mereka.

Selama berhari-hari, mayat suaminya telah terbaring dan para petugas mengatakan akan datang untuk membawanya.

" Jika Anda melihat video ini, Tuan Presiden, tolong, di mana mereka?" dia bertanya. " Mereka mengatakan kepada saya bahwa mereka akan datang, dan itu bohong." Dia terisak-isak mengungkapkan kesedihannya.

" Saya hanya meminta anda untuk membantunya mati dengan bermartabat. Silahkan. Jangan biarkan mayat suamiku terlempar ke tanah."

 

4 dari 6 halaman

Banyak Faktor yang Menyebabkan Dampak di Guayaquil

Ilustrasi© Pixabay.com

Para analis mengatakan, ada berbagai faktor yang menyebabkan Guayaquil memiliki dampak yang besar akibat virus corona covid-19.

Kota Guayaquil adalah kota pelabuhan internasional. Dimana banyak orang dari berbagai wilayah akan melewati kota tersebut.

Ketika pemerintah meminta untuk melaksanakan lockdown, beberapa pekerja masih keluar rumah dan melakukan pekerjaan mereka seperti biasanya.

Hal ini juga menjadi faktor semakin meningkatnya kasus penyebaran virus corona covid-19 di Guayaquil.

" Lockdown itu kurang efektif di Guayaquil," kata Sebastián Hurtado, kepala firma konsultasi politik Ekuador Prófitas.

“ Di negara bagian lain, lebih banyak orang yang mematuhi aturan tersebut. Namun di Guayaquil, kondisinya tidak memiliki sistem pelayanan kesehatan yang baik, hanya memiliki unit perumahan yang sangat kecil, dan kehidupan disana lebih padat” tambahnya

5 dari 6 halaman

Kondisi Memprihatinkan

Dampingi Jasad Sang Kekasih, Calon Pengantin Menangis© MEN

Virus Corona Covid-19 membuat kota Guayaquil kewalahan. Rumah sakit di kota tersebut pun tidak mampu menangani pasien yang terindikasi dan positif virus corona.

Pemakaman umum di sana juga ambruk di tengah terjadinya pandemi. Bahkan, para petugas kewalahan tidak mampu mengumpulkan mayat, beberapa mati karena virus, akibat dari jumlahnya yang sangat banyak.

Dengan kondisi suhu siang hari mencapai 90 derajat, kota Guayaquil sangat terik dan menyebabkan keluarga yang berduka terpaksa membawa mayat yang sudah berumur berhari-hari ke luar rumah.

" Situasi di Guayaquil saat ini sangat mengerikan," kata Tati Bertolucci, direktur untuk Amerika Latin dan Karibia di organisasi bantuan bencana CARE.

" Ada mayat di jalanan, dan sistem kesehatan runtuh, jadi tidak semua orang yang memiliki gejala dapat dites atau dirawat." Tambahnya.

Operasi gabungan polisi-militer telah memulihkan sekitar 30 mayat per hari. Menurut Jorge Wated, koordinator satuan tugas pemerintah yang ditugaskan untuk mengatasi krisis.

Jam malam yang ketat di seluruh kota mempersulit upaya pekerja kamar mayat dan rumah duka untuk memindahkan mayat, Wated mengatakan dalam pidato yang disiarkan secara nasional minggu ini.

" Kami meminta maaf terhadap keluarga yang telah menunggu untuk memindahkan mayat korban virus corona" kata Wated di Twitter.

Wated juga memperingatkan, korban tewas di Guayaquil bisa mencapai 3.500 orang. Semuanya tergantung pada masyarakat. Wated mendesak masyarakat untuk menaati peraturan lockdown dan jam malam di Guayaquil.

Walikota Gayaquil, Cynthia Viteri, mengatakan kepada wartawan dalam konferensi pers di Facebook hari Kamis, bahwa kontainer pengiriman telah ditempatkan di rumah sakit untuk menyimpan mayat. Viteri telah mengkonfirmasi bahwa dia juga telah tertular virus itu.

 

6 dari 6 halaman

Pemerintah Meminta Maaf atas Kondisi yang Terjadi

Dilansir dari laporan CNN, Wakil Presiden Ekuador, Otto Sonnenholzner meminta maaf setelah sejumlah jenazah tergeletak tak terurus di jalanan Guayaquil.

Penduduk setempat telah mengunggah sejumlah video yang kemudian viral di media sosial menunjukkan mayat-mayat tergeletak di jalanan di kota tersebut.

Pemerintah setempat mengumpulkan setidaknya 150 mayat dari jalanan dan rumah-rumah pada awal pekan ini, namun tidak mengonfirmasi jumlah jenazah yang tewas akibat virus corona Covid-19.

Per hari Minggu (5/4), Ekuador telah mencatat hampir 3.500 kasus konfirmasi virus corona Covid-19 dengan 172 kasus meninggal dunia.

Pemerintah setempat telah menetapkan darurat nasional dan menerapkan jam malam sebagai upaya menekan penyebaran virus corona Covid-19 semakin meluas.

(Sumber Washington Post)