Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ruang Bawah Tanah Yang Ditemukan Di Kompleks Ponpes Al Fatah, Bogor. (Foto: Pojokjabar)
Dream - Penemuan ruang bawah tanah yang diduga penjara peninggalan Belanda, di kompleks Ponpes Al Fatah Ciomas Bogor, tak cuma sukses menghebohkan warga setempat. Melainkan juga turut menarik perhatian para ahli sejarah.
Sejarawan Universitas Padjajaran (Unpad), Kunto Sofianto menilai, pemerintah perlu meneliti lebih lanjut temuan ruang bawah tanah di Desa Pagelaran, Ciomas, Bogor itu.
Ia menduga, ruang bawah tanah itu dulunya merupakan bunker. Dan bunker, katanya, umumnya ditemukan di wilayah pusat pemerintahan Hindia belanda. Menurut Kunto, bunker serupa juga ditemukan di tanah Priangan, seperti Bandung dan Garut.
" Gedung Sate dekat Stasiun Bandung. Kemungkinan itu bisa juga. Tetapi kan ini belum diteliti," ujarnya dikutip dari Radar Cirebon, Jumat 12 Mei 2017.
© Dream
Sekilas, lanjut Kunto, batu bata yang terlihat pada bibir masuk ruangan bawah tanah di Ciomas Bogor tampak seperti bangunan Belanda.
" Bisa diasumsikan peninggalan Nerderlasindiche atau Hindia Belanda," terang Kunto.
Kendati demikian, untuk membuktikan autentisitas atau keasliannya, perlu didukung penelitian. Penelitian ini melibatkan ahli arkeolog dan sejarawan.
© Dream
Kunto menjelaskan, pada zamannya bunker difungsikan sebagai lokasi pelarian. Fungsi lainnya, untuk menyimpan benda berharga para pejabat.
" Karena melihat keamanan, konsep seperti ini diadopsi daratan Eropa, seperti lorong di Yogyakarta atau Batavia untuk lorong pelarian raja," ucapnya.
Peninggalan ini, lanjut Kunto, merupakan peninggalan cagar budaya sarat akan nilai sejarah. Pemerintah Hindia Belanda menyiapkan lokasi pada saat situasi darurat dan rahasia.
" Bisa digunakan segala macam, tempat bersembunyi, menyimpan benda tertentu dan menyimpan sesuatu yang berharga," tandasnya.
(Sumber: www.radarcirebon.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya