Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Poster Yang Dibaca Naira/Foto:budirich.wordpress.com
Dream - Mengutip orasi kemerdekaan yang disampaikan oleh Bapak Anies Baswedan bahwa Republik ini memiliki janji. Janjinya melindungi, mencerdaskan, mensejahterakan, dan memungkinkan Indonesia berperan di tingkat global. Itu janjinya, bukan cita-cita. Cita-cita itu sesuatu yang diharapkan dicapai, jika tidak tercapai kita revisi.
Jika janji adalah sesuatu yang harus dilunasi, ini sebuah hutang. Janji adalah hutang, dan hutang itu harus dilunasi. Republik ini ketika didirikan memiliki janji-janji tadi. Secara konstitusional adalah tugas Negara untuk melunasi seluruh janji itu. Tapi secara moral itu adalah tugas setiap orang Indonesia.
Ada moment yang membuat terkejut saat diskusi sedang berlansung. Tiba-tiba salah seorang anak dari suku mereka “ namanya Naira” membaca poster yang kami bawa. Dengan mengeja dia membaca poster yang sudah kami siapkan sebelumnya dengan pelan dan terbata-bata tapi jelas sekali terdengar. Dia berkata, “ Ka..mi aanaak Indooneesiiaa dan kaammii baangga meenjaaddiii aanaak Indonesia”.
Wajar saja Naira bisa membaca tulisan di poster tesebut karena hari ini Naira sudah bersekolah di Sekolah Dasar (SD) Sungai Kopi dan masih duduk kelas lima. Selain Naira ada juga seorang anak laki-laki dari suku mereka yang duduk di kelas lima SD.
Dia begitu antusias ketika pendatang mengeluarkan buku satu lusin dan mengambilnya seperti tak sabar untuk segera menulis. Sungguh momen yang luar biasa, anak-anak Suku Anak Dalam mempunyai semangat yang tinggi untuk belajar. Meskipun berada di pedalaman, mereka adalah masa depan bangsa Indonesia.
Tapi sayang menurut informasi dari kepala keluarga Suku Anak Dalam, sebagian besar dari mereka hanya mampu mengenyam pendidikan sampai kelas enam SD. Sehingga di keluarga Suku Anak Dalam tersebut belum ada yang lebih dari kelas 6 SD. Masalahnya klasik yaitu tidak adanya dana yang memadai untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
Penasaran dengan kisah ini? Yuk selengkapnya Baca di sini
Kirimkan kisah nyata inspiratif disekitamu atau yang kamu temui, ke komunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:
1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog atau sosmed
3. Foto dengan ukuran high-res
4. Isi di luar tanggung jawab redaksi
Ayo berbagi traffic di sini!
Baca Juga: Ini Dia `Si Tukang Gambar` Kaleng Khong Guan Misteri Relief Wanita di Lidah Api Monas Kisah Nenek Bolak-balik Bogor-Jakarta, Demi Kesembuhan Cucu Indahnya Kebersamaan Berpuasa di Negeri Orang `Bersama ke-13 Anakku, Aku Jalani Hidup Tanpa Suami`
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya