Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Penjualan Alun-alun Utara Kraton Yogyakarta (Next Earth)
Dream - Penjualan aset-aset penting secara virtual tengah menjadi sorotan. Sejumlah aset diperjualbelikan di dunia digital mengunakan mata uang kripto.
Beberapa aset penting yang sudah menjadi milik pribadi salah satunya Alun-alun Utara Yogyakarta. Aset penting itu diperjualbelikan lewat aplikasi nextearth.io.
Alun-alun Utara sudah dibeli akun yofhiavnt seharga 56,34 USDT dengan nilai per tile 0,31 USDT. Saat ini, akun tersebut telah memiliki tile mencapai 182 per 1.000.
Selain Alun-alun Utara, Komplek Kepatihan yang merupakan Kantor Gubernur DI Yogyakarta sudah sudah terjual. Pemiliknya kini adalah akun Rayner Sakeru yang melakukan pembelian senilai 17,39 USDT dengan harga per tile 0,87 USDT.
Terkait fenomena ini, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, meminta agar masyarakat menyikapi secara proporsional. Sebab, transaksi yang terjadi tidaklah nyata.
Sri Sultan mengibaratkan fenomena tersebut seperti permainan monopoli. Setiap pemain dapat memiliki aset properti namun sifatnya semu.
" Itu virtual, jadi seperti main monopoli, tahu monopoli tidak," ujar Sri Sultan
Menurut Sri Sultan, permainan monopoli memberikan peluang bagi orang membeli aset baik tanah, bangunan, maupun kendaraan. Transaksi juga menggunakan mata uang di monopoli tersebut.
" Ya padhalah (samalah) dengan kasus penjualan Alun-alun Kraton, nah, gitu jadi tidak perlu terlalu serius. Istana Negara saja sudah djual virtual," kata Sri Sultan.
Selanjutnya, Sri Sultan menyatakan tidak ada transaksi fisik dan memang tempat-tempat tersebut tidak ada yang dijual. Meski dapat diperjualbelikan secara virtual, tetapi itu bukan transaksi yang sebenarnya.
" Istana Negara saja sudah dijual, nanti bisa untuk keramaian dan sebagainya tetapi virtual semua, bukan transaksi fisik, tidak, ya seperti main monopoli," kata Sri Sultan.
Sementara, Kepala Bagian Humas Pemprov DIY, Ditya Nanaryo Aji, menegaskan pihaknya tidak pernah menjalin kerja sama serta mengizinkan jual beli aset penting secara virtual.
Jika ada penjualan aset secara virtual lewat platform digital, dia menegaskan hal itu sepenuhnya klaim sepihak.
" Tidak ada relevansi dengan kepemilikan sah aset fisik tersebut," kata Ditya, dikutip dari Krjogja.com.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya