Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Tangkap Layar Instagram Perthobservatory
Dream - Warganet saat ini tengah dihebohkan dengan rekaman jatuhnya bola api di langit Perth, Australia pada 29 Agustus 2018 lalu.
Dilansir dari channelnewsasia.com, salah satu orang yang menjadi saksi jatuhnya bola api itu bernama Bejay Walker. Menurut Walker, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 19.40 waktu setempat.
Ada juga Bagus Sugiono yang saat itu sedang berkendara. Di waktu bersamaan, Bagus turut menyaksikan melintasnya bola api tersebut.
Berdasarkan laporan ABC News, bola api itu merupakan meteor yang berhasil menembus atmosfer. Mengetahui adanya fenomea langka itu, masyarakat setempat bergegas keluar rumah untuk mengabadikannya.
Observatorium Perth menerima puluhan video dari masyarakat yang merekam momen itu. Selain itu, Departemen Kebakaran dan Layanan Darurat juga dibanjiri panggilan dari para saksi mata yang mengatakan mereka telah melihat bola api.
Para ilmuwan dari Curtin University bergegas menyelidiki peristiwa itu. Terutama bagaimana meteor itu bisa melalui atmosfer dan asal-muasalnya.
(ism, Laporan: Erisa Riyana)
Dream - Beberapa foto terbaru yang dirilis Curiosity Rover, wahana Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), di Planet Mars telah memicu perdebatan di kalangan netizen.
Foto-foto yang disusun dalam bentuk video itu memperlihatkan bentuk seekor hewan yang sedang berjalan di permukaan tanah Planet Mars yang berwarna merah.
Dikutip dari Mirror, Kamis 21 Juni 2018, ahli teori konspirasi mengklaim foto itu merupakan bukti Mars dihuni makhluk hidup.

Tetapi, bukti itu belum dipastikan lantaran planet ini telah dilanda badai debubesar-besaran dalam beberapa minggu terakhir. Kondisi ini memicu pertanyaan apakah objek tersebut benar-benar hewan atau hanya sekumpulan debu saja.
Foto-foto tersebut diperlihatkan berdampingan di kanal YouTube SecureTeam 10 yang mengkhususkan diri pada penampakan UFO. Penampakan objek dalam video itu langsung menimbulkan perdebatan di kalangan pengguna YouTube.
" Bagaimana jika ada peradaban cerdas lainnya sedang meneliti Planet Mars bersama kita?" tulis seorang netizen.
Dream - Gerhana bulan total 28 Juli 2018 menyedot perhatian masyarakat Indonesia. Waktu gerhana yang diperkirakan terjadi sekitar pukul 02.29 WIB akan menjadi fenomena alam terlangka dalam abad ini.
Para ahli menyatakan gerhana bulan total kedua setelah awal Januari 2018 ini merupakan yang terlama.
Namun tak banyak yang tahu jika ada fenomena lain yang terjadi pada saat yang bersamaan.
Mengutip laman bosscha.itb.ac.id, Jumat, 27 Juli 2018, selain gerhana bulan total, akan muncul fenomena langka lainnya yaitu oposisi Mars. Fenomena tersebut merupakan posisi planet luar Mars yang berlawanan arah 180 derajat dengan Matahari dilihat dari Bumi.

Fenomena tersebut biasanya terjadi setiap 26 bulan sekali. Observatorium Bosscha memantau, pada 27 Juli 2018, Mars berada pada titik paling dekat dengan Matahari. Fenomena itu disebut perihelion.
Karena jaraknya yang berdekatan dengan Matahari, ukuran Mars akan terlihat besar. Meski demikian, ukurannya tidak akan berubah secara signifikan.
Jika dilihat dari Bumi dengan mata telanjang, Mars akan terlihat seperti titik merah yang lebih terang dibanding cahaya bintang. Apabila melihat dengan teleskop, piringan planet merah akan terlihat dua kali lebih besar saat berada pada titik terjauhnya dengan Matahari.
Dengan adanya fenomena ini, Observatorium Bosscha melakukan beberapa kegiatan pengamatan fotografi dan spektroskop seperti, mempelajari kondisi atmosfer Bumi secara kualitatif dan merekonstruksi spektrum atmosfer Bumi sebagai model atmosfer planet layak huni untuk dibandingkan dengan atmosfer di planet luar tata surya (ekstrasolar).
Kemudian melakukan pengamatan mengenai perubahan yang terjadi pada tutupan salju/es kutub (polar cap) Mars. Kegiatan yang dilakukan Observatorium Bosscha ini tidak terbuka bagi umum. Untuk itu, masyarakat dihimbau untuk menyaksikan di rumah masing-masing atau bersama komunitas astronomi yang menggelar pengamatan gerhana bulan total.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya