Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Tanah Retak Di Depok (Liputan6.com/Ady Anugrahadi)
Dream - Masyarakat Kampung Pedurenan, Kelurahan Cisalak, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat, dihebohkan fenomena retakan tanah yang cukup lebar. Mereka khawatir retakan tanah tersebut menimbulkan korban.
Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu, 20 Oktober 2018 sore hari. Saat itu, Kota Depok diguyur hujan deras disertai angin kencang hingga menimbulkan banjir di beberapa tempat.
Ketua RT 02 RW 02 Cisalak Pasar, Endang Suherman, mengatakan banjir tidak lama terjadi dan langsung surut. Saat air surut itulah warga kaget menemukan retakan tanah.
" Air pada masuk ke dalam lubang disertai suara gemuruh, jadi banjir kemarin berhenti karena ada belahan itu," ujar Endang, dikutip dari Liputan6.com.
Menurut Endang, panjang tanah yang retak mencapai 20 meter. Sementara lebar dan dalamnya berbeda-beda.
" Kedalamannya ada sekitar 1 meter, 1,5 meter, 80 cm, 70 cm, sedangkan jarak regang ada 80 cm dan 30 cm," kata Endang.
Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Mitigasi Gerakan Tanah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral, Sumaryono, menjelaskan retakan tanah biasanya terjadi karena lokasi sebelumnya merupakan kawasan aliran air. Aliran tersebut tertimbun tanah karena alasan tertentu.
" Kemungkinan timbunan atau bekas aliran air, sungai lama, atau saluran air yang ditimbun, kayak parit kemudian ditimbun," ujar Sumaryono.

Menurut Sumaryono, jika retakan terjadi di daerah berlereng dapat menjadi pertanda tanah longsor. Tetapi, dia menduga hal itu tidak terjadi mengingat retakan ditemukan di Depok dengan kontur tanah datar.
" Kalau tanahnya datar, enggak berpotensi longsor," kata Sumaryono.
Selanjutnya, dia menjelaskan retakan tanah yang terjadi di Depok bukanlah likuifaksi. Sebab, penyebab retakan tidak memenuhi unsur pemicu terjadinya likuifaksi.
" Kalau likuifaksi timbul akibat adanya gempa, kalau ini kan tidak," ucap dia.
Lebih lanjut, Sumaryono mengimbau masyarakat sekitar segera menguruk retakan tersebut dengan tanah. Jika tidak, dikhawatirkan retakan dapat melebar.
" Sebaiknya ditutup secepatnya biar air tidak masuk. Air semakin banyak masuk, retakan akan semakin luas. Selain itu, dibuat saluran agar air tidak masuk ke situ," ucap dia.
(Sah, Sumber: Liputan6.com/Muhammad Ali)
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman

8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi

5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa

8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya