Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Mbah Pani Menjalani Tapa Pendem (Merdeka.com)
Dream - Mbah Supani, warga Desa Bendar RT 3 RW 1 Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah membuat heboh. Dia menjalani ritual tapa pendem atau bertapa dengan cara dikubur hidup-hidup di dalam tanah.
Mbah Supani menjalankan ritual tersebut setelah sembuh dari sakit stroke. Dia dikubur seperti jenazah selama lima hari pada lubang berukuran panjang 2 meter, lebar 1,5 meter dan kedalaman sekitar 3 meter yang sudah disiapkan di dalam rumah.
Dalam liang yang dibuat tersedia peti untuk bertampa. Di dalam peti ada bantal dari tanah serta lubang untuk bernapas.
Anak angkat Mbah Pani, Suyono, mengatakan tapa pendem adalah ritual yang selalu dijalani pria itu setiap bulan Suro dalam penanggalan Jawa. Proses bertapa ini sudah dijalani Mbah Pani sebanyak 10 kali.
Pada sembilan pengalaman sebelumnya, Mbah Pani dikubur selama tiga hari. Menurut Suyono, tapa kali ini merupakan ritual terakhir yang dijalani Mbah Pani.
" Karena ini yang terakhir, nanti tidak cuma tiga hari, tapi lima hari. Mbah Pani sendiri, informasi masuk liang lahat Senin 16 September 2019 usai Maghrib," ucap Suyono, dikutip dari Merdeka.com.
Suyono mengatakan sejak pertama hingga terakhir, prosesi tapa pendem Mbah Pani tidak berubah. Tubuh Mbah Pani selalu dibalut dengan kain kafan.
Menurut Suyono, tapa pendem kesembilan dilakukan Mbah Pani pada 2001. Sebelumnya, ritual tersebut dijalani Mbah Pani setiap tahunnya di Desa Ketip.
" Beberapa waktu setelah ritual ke-9, beliau sempat sakit stroke. Jadi ritual penutup baru bisa dilaksanakan hari ini," kata dia.
Sebelum masuk ke lubang kubur, Mbah Pani diperlakukan laiknya jenazah. Disiapkan juga alat pemulasaraan lengkap, termasuk bunga-bunga.
" Tapi tidak diazani, karena menurut pesan dari Pak Pani, kalau azan itu ritual orang meninggal dunia," ucap Suyono.
Saat prosesi ritual dimulai, hanya keluarga dan tokoh masyarakat yang dibolehkan masuk rumah. Pintu rumah kemudian dikunci dan tetangga tidak dibolehkan masuk.
" Hanya keluarga saja yang boleh masuk. Sebab ritual ini prosesi sakral," terang Suyono.
Sumber: Merdeka.com/Danny Adriadhi Utama
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya