Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (http://ibrahimradio.com/)
Dream - Usai pesta itu, aku terkapar. Kesadaranku direnggut obat durjana itu. Narkoba. Aku over dosis. Saat membuka mata, pandanganku menyapu ke segala penjuru. Suasana yang sungguh karib di mata. Ternyata aku sudah berbaring di kamar.
Pesta malam di penghujung 1999 itu menjadi masalah besar. Rahasiaku terbongkar. Orangtuaku tahu, ternyata aku pecandu narkoba. Oh Tuhan.... hancur reputasiku. Dulu aku dikenal sebagai penghapal 5 juz Alquran. Namun kini semua telah tersingkap. Aku terjerat obat setan itu.
Beruntung, Ibuku seorang yang sabar. Dengan telaten beliau merawatku. Namun ayahku marah bukan kepalang. Dengan sumpah serapah melaknatku. “ Aku akan usir anak bejad itu!” bentak ayahku.
Ibuku menangis sejadi-jadinya. Beliau tak ingin aku diusir ayah. Tangisan ibu terdengar makin keras, menyayat hatiku. Hatiku sangat.... sangat sakit, tapi bukan oleh karena aku yang disebut terkutuk, melainkan mendengar isak tangis Ibu.
Aku kumpulkan semua tenaga. Berupaya bangkit. Namun, tak sanggup berdiri. Akhirnya, aku merangkak dari kamar menuju dapur. Melalui ruang tengah di mana kakak perempuanku pun sedang menangis. Ya, merangkak. Dan, tak ada yang dipikirkan olehku ketika itu kecuali hanya satu kata, ’Ibu’.
Dengan susah payah, akhirnya aku dapat melihat Ibu yang sedang duduk menghadap ayah. Kedua telapak tangan yang mulia itu menutupi wajahnya. Tubuhnya terguncang menahan isak. Dan, ketika Ibu melihatku, ia segera berdiri namun, Ayah menahannya. “ De..” lirihnya dari jarak 5 meter.
Aku tak mampu menjawab. Hatiku benar-benar teriris..... perih! Hanya air mata yang terus meleleh membasahi pipi. Menetes pada lantai semen yang aku lalui. Aku terus merangkak, hingga akhirnya sampai tepat di depan kaki Ibu. Tak ada yang mampu aku katakan lagi. Aku cium kaki Ibu, aku biarkan air mata membasahi kaki Malaikat termulia ini. Dan pertobatan pada 2006 itu.........
Baca kisah selengkapnya di tautan ini.
Kirimkan kisah nyata inspiratif disekitamu atau yang kamu temui, ke komunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:
1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog atau sosmed
3. Foto dengan ukuran high-res
4. Isi di luar tanggung jawab redaksi
Ayo berbagi traffic di sini!
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya