Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Doa Bersama (vocfm.co.za)
Dream - Jangan remehkan kekuatan doa, terlebih jika dilakukan bersama. Itulah yang menjadi hasil dari sebuah studi terbaru yang dilakukan sosiolog di University of Connecticut, Amerika Serikat.
Dari hasil studi yang dilakukan Ruth Braunstein, profesor sosiologi Universitas Connecticut, bersama dua pakar sosiologi lain, Richard L.Wood (University of New Mexico) dan Brad R Fulton (Duke University), disimpulkan doa memiliki fungsi 'menjembatani praktik budaya' dalam entitas kelompok masyarakat yang beragam. Termasuk doa bersama lintas umat beragama.
" Praktek-praktek doa memainkan peran penting dalam mengikat peserta bersama-sama di seluruh perbedaan ras dan sosial ekonomi yang signifikan," kata Braunstein.
Saat melakukan studi, ketiganya mengamati praktik doa bersama pada kelompok masyarakat dan organisasi yang beragam secara ras maupun status sosial ekonomi. " Itu mendorong individu untuk berinteraksi satu sama lain," imbuh dia.
Mereka juga menganalisis praktik doa bersama dari data yang dikumpulkan Studi Nasional Koalisi Masyarakat Berbasis Keimanan. Hasilnya, praktik keagamaan justru jauh sebagai sumber perpecahan. " Justru itu memainkan peran pemersatu, yang mencakup lintas tradisi keimanan seperti Kristen, Yahudi dan Islam," jelas Braunstein.
Kata Braunstein, selama pengamatan dua tahun, ditemukan doa kelompok lintas agama menghiasi sekitar 75 persen dari pertemuan keragaman antar entitas masyarakat dan organisasi. Doa diyakini menjadi aktivitas yang membangun identitas bersama di atas perbedaan.
Meski begitu, tak dipungkiri praktik doa bersama masih tak disukai oleh kelompok keagamaan konservatif. Tapi ada cara lain untuk bisa menyatukan kekuatan bersama tanpa melalui kekuatan berbasis praktik agama. Misalnya ritual berbagi makanan, bermain olahraga atau membaca literatur bersama.
(Ism, Sumber: Today.uconn.edu)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya