7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ilustrasi (Shutterstock.com)
Dream - Di tengah lonjakan kasus varian Delta, Indonesia ternyata punya varian mutasi virus corona. Bahkan sempat mendominasi kasus Covid-19 di sejumlah daerah.
Direktur Eijkman, Amin Subandrio, menyatakan dua varian tersebut diberi kode B1446.2 dan B1470. Keduanya sudah menyebar di banyak daerah Indonesia.
" Kalau yang varian B1466.2 itu sudah ada 1.225 kasus dan B1470 sudah 531 kasus di Indonesia," ujar Amin.
Kasus B1446.2 pertama kali muncul di Jawa Barat pada November 2020. Penularan terbanyak terjadi di DKI Jakarta dan Jawa Barat.
Sementara varian B1470 pertama kali ditemukan di Jawa Timur pada April 2020. Kasus infeksi dari varian ini paling banyak terjadi di Jawa Timur dan Bali.
Amin mengatakan dua varian ini belum ditetapkan sebagai Variant of Concern (VoC) ataupun Variant of Interest (VoI) WHO. Meski demikian, dia tetap mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada.
" WHO hanya mengingatkan kita bahwa varian Indonesia ini jumlahnya banyak, sempat mendominasi berapa bulan yang lalu," kata dia.
Selanjutnya, Amin menerangkan varian Indonesia memiliki beberapa pola mutasi yang juga ada dalam VoI. Namun sejauh ini, dia menyatakan belum ada satupun varian lokal yang masuk dalam daftar VoC maupun VoI WHO.
Menurut Amin, hasil mutasi virus dapat digolongkan ke dalam VoC ataupun VoI WHO apabila memenuhi satu atau kombinasi dari empat sifat. Sifat pertama yaitu kecepatan dalam penularan.
" Dia bisa berikatan dengan reseptor pada sel manusia dengan lebih kuat sehingga virus lebih cepat masuk ke dalam sel itu kemudian diterjemahkan menjadi cepat menular," kata Amin.
Sifat kedua, sulit tidaknya virus didiagnosis. Menurut Amin, hal ini berkaitan dengan tingkat kepekaan testing PCR.
Ketiga, gejala klinis yang muncul tergolong tidak biasa. Seperti ruam pada kulit atau gejala lain yang bisa memicu kematian.
Sedangkan keempat, tidak responsif pada antibodi paska-infeksi, paska-vaksinasi, maupun pasien terapi. Pada beberapa kasus VoC, kepekaan antibodi mengalami penurunan.
Lebih lanjut, Amin menjelaskan VoC dan VoI memiliki sifat yang sama. Tetapi, VoC dianggap lebih ganas karena dapat memicu gejala keparahan, dikutip dari Merdeka.com.
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?