Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Inilah Kota Paling Toleran dan Tidak Toleran di Indonesia 2022 Versi Setara Institute

Reporter : Nabila Hanum
Kamis, 13 April 2023 17:00
Inilah Kota Paling Toleran dan Tidak Toleran di Indonesia 2022 Versi Setara Institute
Penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan empat variabel, seperti regulasi pemerintah kota, regulasi sosial, tindak pemerintah, dan demografi sosio keagamaan.

Dream - Setara Institute merilis daftar kota paling toleran se-Indonesia dalam laporan Indeks Kota Toleran (IKT) 2022. Penelitian ini juga menunjukkan kota di Indonesia yang dinilai paling tidak toleran berdasarkan sejumlah indikator. 

Lembaga swadaya masyarakat yang melakukan penelitian dan advokasi tentang demokrasi, kebebasan politik, dan hak asasi manusia, ini melibatkan 94 kota dari total 98 kota di Indonesia dalam penelitian tersebut.

Penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan empat variabel, seperti regulasi pemerintah kota, regulasi sosial, tindak pemerintah, dan demografi sosio keagamaan.

1 dari 5 halaman

Penelitian itu menempatkan Singkawang dinobatkan sebagai kota paling toleran di Indonesia pada 2022. Kota di Kalimantan Barat itu memperoleh skor 6,67 poin pada variabel regulasi pemerintah.

Penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan empat variabel dengan delapan indikator.

Di antaranya, variabel pertama Regulasi Pemerintah Kota. Dengan mempertimbangkan rencana pembangunan dalam bentuk RPJMD dan produk hukum pendukung lainnya, serta ada tidaknya kebijakan diskriminatif.

Variabel ke dua, yakni regulasi sosial dengan mempertimbangkan peristiwa intoleransi dan dinamkin masyarakat sipil terkait isu toleransi.

2 dari 5 halaman

Variabel ke tiga, tindakan pemerintah. Terdiri dari pernyataan pejabat kunci tentang isu toleransi serta tindakan nyata terkait isu toleransi.

Variabel keempat, berupa demografi sosio-keagamaan, mempertimbangkan heterogenitas keagamaan penduduk dan inklusi sosial keagamaan.

Selain Singkawang, ada pula sejumlah kota lainnya yang meraih skor IKT tertinggi di Indonesia pada 2022.

Berikut 10 kota paling toleran di Indonesia pada 2022 menurut indeks Setara Institute:

  1. Singkawang, Kalimantan Barat: 6,583 poin
  2. Salatiga, Jawa Tengah: 6,417 poin
  3. Bekasi, Jawa Barat: 6,080 poin
  4. Surakarta, Jawa Tengah: 5,883 poin
  5. Kediri, Jawa Timur: 5,850 poin
  6. Sukabumi, Jawa Barat: 5,810 poin
  7. Semarang, Jawa Tengah: 5,783 poin
  8. Manado, Sulawesi Utara: 5,767 poin
  9. Kupang, Nusa Tenggara Timur: 5,687 poin
  10. Magelang, Jawa Tengah: 5,670 poin
3 dari 5 halaman

Setara Institute merilis, ada sejumlah faktor yang memperngaruhi keberhasilan 10 kota dengan tingkat toleransi tertinggi di Indonesia.

Di antaranya memiliki Rancangan Program dan Kegiatan Pengelolaan Toleransi dan Kerukunan yang jelas, terukur dan terlaksana, baik di dalam catatan perencanaan program seperti RPJMD dan RKP, juga di dalam publikasi berita seperti di website pemerintah dan media massa lainnya.

Adanya kebijakan pembangunan ruang dialog antar umat beragama, antar etnis, antar suku.

Kemudian, tidak adanya peristiwa intoleransi dan diskriminasi atau pelanggaran kebebasan beragama/ berkeyakinan. Seperti di Kota Singkawang, Salatiga, dan Manado.

Selanjutnya, pemerintah kota memiliki kesadaran untuk melibatkan berbagai forum masyarakat, dalam setiap kebijakan, program dan kegiatan.

Terakhir, kota dengan kualifikasi visi dan misi berorientasi kemajemukan, kebinekaan dan pengarusutamaan gender.

4 dari 5 halaman

Di sisi lain, berikut adalah 10 kota paling tidak toleran di Indonesia pada 2022:

  1. Cilegon, Banten: 3,227 poin
  2. Depok, Jawa Barat: 3,610 poin
  3. Padang, Sumatera Barat: 4,060 poin
  4. Sabang, Aceh: 4,257 poin
  5. Mataram, Nusa Tenggara Barat: 4,387 poin
  6. Banda Aceh, Aceh: 4,393 poin
  7. Medan, Sumatera Utara: 4,420 poin
  8. Pariaman, Sumatera Barat: 4,450 poin
  9. Lhokseumawe, Aceh: 4,493 poin
  10. Prabumulih, Sumatera Selatan: 4,510 poin

 

5 dari 5 halaman

Menurut Setara Institute, tercatat sejak tahun 2019 sampai 2022, Pemerintah Kota Cilegon menerbitkan kebijakan-kebijakan favoritisme.

Surat Edaran Walikota Cilegon tentang Penutupan Penyelenggaraan Hiburan dan Restoran/Rumah Makan selama bulan Suci Ramadan diterbitkan secara rutin setiap tahun mulai dari tahun 2019 sampai dengan 2022.

Selain itu, berlarut-larutnya proses pembangunan rumah ibadah yang disebabkan oleh melemahnya peran Forum Kerukunan Umat Beragama dan Forum Masyarakat Sipil di Cilegon memburukkan toleransi dan kerukunan.

Apabila di Kota Depok, dinamika masyarakat sipil dalam mempromosikan toleransi masih terjadi meski terhambat oleh kebijakan pemerintah kota. Di kota Cilegon, kondisinya lebih rumit, karena dinamika masyarakat sipil cenderung eksklusif dan berperspektif mayotarianisme.

Kesepakatan-kesepakatan yang dibuat masyarakat sipil untuk menolak pendirian rumah ibadah karena cara pikir eksklusivisme mendapatkan angin segar dari pemerintah kota yang berperilaku memihak dan tidak melindungi kebebasan beragama sebagaimana telah dijamin oleh konstitusi.

Kegagalan sistemik antara pemerintah kota dengan masyarakat dalam membangun kemajemukan dan kebinekaan di kota Cilegon, membuat kota ini berada di rangking terendah dengan nilai skor 3,2, jauh lebih buruk dari nilai skor rangking terendah di IKT 2021.

Beri Komentar