Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dr Nico Prucha (nu.or.id)
Dream - Kelompok ektrimis Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) gencar menyebarkan propaganda untuk menarik dukungan tindakan teror. Penyebaran itu menjadi semakin massif dengan menggunakan teknologi internet menggunakan materi video.
Menurut peneliti Pusat Studi Radikalisme dan Kekerasan Politik di King's College London, Dr Nico Prucha, video yang tersebar itu banyak menggunakan bahasa Arab dan bahasa-bahasa lain. Materi yang disampaikan pun kerap menafsirkan Alquran dan hadis secara serampangan.
" Apabila kita lihat, video dan teks yang mereka gunakan dalam menafsirkan Alquran dan sunnah banyak yang keliru," kata Nico saat menjadi pembicara di International Summit of The Moderate Islamic Leaders (ISOMIL) di Jakarta Convention Center, Selasa, 10 Mei 2016.
Pria yang fasih berbahasa Arab ini memberikan contoh dengan menayangkan salah satu video propaganda yang kerap digunakan ISIS. Dalam video itu, dia menemukan konsep pemaknaan tunggal yang menghakimi pihak lain.
Bahkan dalam pandangan ISIS, Nico mengatakan, Islam yang berkembang di Indonesia tidak benar. Ini lantaran Islam di Indonesia mengajarkan nilai-nilai toleransi.
" ISIS menolak adanya toleransi," ucap dia.
Dalam penelitian yang dia jalankan, setiap harinya ISIS mengunggah setidaknya dua video sebagai materi propaganda. Video semacam itu tersebar pesat di negara-negara Timur Tengah.
Negara-negara seperti Irak, Arab Saudi, dan Yaman menjadi target penyebaran video itu. Bahkan, sebaran video propaganda itu menjangkit di beberapa negara di Eropa.
" Mereka menggunakan dalih negeri Syam sebagai tanah yang harus dipertahankan. Mereka menyebut orang-orang yang mempertahankan tanah itu sebagai Tentara Allah," kata dia.
Untuk itu, dia meminta kewaspadaan umat Muslim di dunia dalam beraktivitas di dunia maya. Menurut dia, salah satu strategi besar ISIS ialah menyebarkan ajaran melalui internet.
" ISIS punya strategi besar dan berlangsung melalui internet. Mereka menguasai beberapa kawasan di Timur Tengah. Bukan saja dalam bahasa Arab, mereka juga menguasai lima persen bahasa lain," kata dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya