Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
(Foto Ilustrasi: Shutterstock)
Dream - Di saat kaum wanita di belahan dunia lain tidak mau dimadu, para perempuan di Tunisia ini menginginkan yang sebaliknya.
Mereka ingin agar larangan melakukan poligami yang selama ini menjadi bagian dari undang-undang perkawinan di Tunisia segera dicabut.
Melalui media sosial, Forum of Freedom and Citizenship (FFC) mengajak kaum perempuan Tunisia untuk melakukan protes besar-besaran terkait larangan poligami itu.
Tidak hanya memprotes, mereka juga meminta dilakukan amandemen terhadap undang-undang larangan untuk berpoligami itu.
" Demonstrasi kami ini dilakukan secara spontan dan merupakan langkah hukum untuk mengatasi maraknya perawan tua di negara ini," ujar Fathi Al-Zghal, ketua FFC.
Menurut laporan Middle East Monitor (MEMO), demo besar-besaran memprotes undang-undang larangan berpoligami itu akan dilakukan di depan gedung parlemen Tunisia.
Namun, ajakan demo yang dilontarkan FFC itu mendapat tanggapan dingin dari aktivis gerakan wanita di Tunisia.
Radhia Djerbi, kepala National Union of Tunisian Women, kepada Al-Khaleej Online menuding demonstrasi pro-poligami adalah 'suatu bentuk kegilaan, sebuah fenomena penyakit', yang 'menunjukkan kurangnya kesadaran dari mereka yang menuntutnya'.
Djerbi menambahkan protes yang dilakukan FFC tidak akan mengubah gaya hidup masyarakat Tunisia atau cita-cita wanita Tunisia.
Menurut Djerbi, undang-undang terkait poligami sudah disahkan oleh Badan Konstitusi Tunisia dan tidak bisa diamendemen hanya melalui protes.
Sementara itu, sejumlah aktivis menengarai bahwa seruan untuk poligami itu hanyalah aksi politik.
Menurut mereka, aksi itu bertujuan untuk merusak citra Ennahda Movement, sebuah partai Islam demokratik yang akan mengikuti pemilihan umum mendatang.
(sah, Sumber: SputnikNews.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya