Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (www.anublog.com)
Dream - Universitas Dammam, Arab Saudi, melarang para mahasiswi mengenakan abaya berwarna-warni. Kampus khusus perempuan itu menyatakan baju warna-warni tidak cocok untuk institusi pendidikan.
Dikutip Dream dari Saudi Gazette, Rabu 26 November 2014, larangan itu ditegaskan setelah petugas kampus mendapati dua mahasiswi yang mengenakan baju berwarna-warni. Universitas Dammam pun langsung mengkampanyekan agar seluruh mahasiswi mengenakan abaya warna hitam, sebagaimana kebanyakan dikenakan wanita Saudi.
Pengawas kampus menyatakan menolak pengaruh pasar yang menjual abaya dengan beragam warna, seperti abu-abu, cokelat, dan warna lainnya. Barang siapa melanggar larangan ini, akan dimasukkan dalam catatan hitam. Sebab, setiap mahasiswi yang tidak mengenakan abaya warna hitam dianggap tidak disiplin.
Pihak kampus juga mendatangi toko-toko pakaian setempat. Mereka melarang toko-toko itu menjual abaya berkelir selain hitam. Tak hanya toko. Pengurus kampus juga memberi peringatan kepada para desainer di Dammam untuk memproduksi abaya hitam saja. Pihak kampus menyatakan warana hitam dianggap paling sesuai dengan budaya Arab dan ajaran Islam.
Kebijakan ini mendapatkan tanggapan berbeda dari pengguna media sosial Saudi. Sebagian dari mereka menyatakan bersimpati kepada para pemilik toko yang terancam rugi karena dagangannya tak akan laku lagi, namun mereka juga mendukung kebijakan ini.
Sosiolog Saudi, Mohammad Al-Zahrani, mengatakan persoalan abaya telah menjadi perdebatan di negaranya selama dua dekade terakhir. Pada 14 tahun silam, pemerintah telah mengatur pakaian yang benar untuk perempuan adalah yang menutupi badan.
" Menurut pendapat saya, peraturan di universitas perempuan itu tidak menindas. Sebaliknya, mereka memastikan perempuan berpakaian sesuai dengan agama dan cara yang sederhana," kata al-Zahrani.
Ada sejumlah syarat agar abaya sesuai dengan aturan busana Muslim. Di antaranya, abaya harus terbuat dari kain tebal, tidak transparans, harus longgar, dan menutupi seluruh tubuh.
Bagian lengan tidak boleh terlalu lebar, tidak boleh ada bordir yang menarik di atasnya, dan tidak harus sama dengan pakaian laki-laki pakaian atau pakaian yang biasanya dipakai oleh orang Barat. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya